
Agam sudah terlihat rapi dengan pakaian kemeja berwarna biru langit, dia sengaja tidak menggunakan setelan jas karena dia hanya ingin mencari pekerjaan ke setiap perusahaan rekan-rekannya yang dulu pernah menanam saham padannya.
"Sayang, aku berangkat dulu ya! tolong doakan aku," ucap Agam pada Kiara, saat di depan pintu utama.
"Iya Bang, apa sudah izin sama Mama? 'kan doa Mama itu paling mujarab, Bang," imbuh Kiara.
"Sudah kok, tadi sudah salaman sama Mama, Mama sekarang lagi mandi, jadi aku berangkat sekarang saja," ucap Agam.
"Sebaiknya Abang tunggu dulu Mama selesai mandi, biar dia bisa memberikan doa restu kepada Abang, surga anak itu kan terletak di bawah kaki ibu, biar ibu lebih khusu lagi memberikan doa kepada Abang, saat Abang melangkahkan kaki dari sini, pasti doa ibu lebih berasa saat melihat langkah Abang meninggalkan rumah ini kan?" saran Kiara.
"Baiklah sayang, aku akan menunggu Ibu."
Akhirnya Agam kembali duduk di kursi teras rumahnya, ditemani Kiara. Sesekali Agam mengelus perut Kiara dan berbicara layaknya berbicara dengan anaknya sendiri.
"Kiara! Kau di mana?" teriak sang mertua.
Mungkin dia sudah selesai mandi, dan bersiap untuk jualan bubur pagi ini.
"Iya Mah, aku ada di depan, sama Bang Agam."
Tak tak tak
Terdengar tapak kaki mendekati pintu utama dan munculah wajah mamah Agam yang tidak terduga. penampilannya yang 180 derajat berubah, membuat Kiara hanya termangu tanpa berkata apa-apa. Mamah Agam sudah berpakaian rapi dengan kerudung instannya yang lebar dan panjang.
"Wah... Mama cantik sekali. Emangnya Mama mau ke mana? Kok berpakaian seperti ini sih?" tanya Agam memuji sang mama, yang sekarang memakai kerudung besar.
"Ah Agam, aku jadi malu. Aku sekarang mau belajar, aku mau hijrah Gam, tolong doakan mamah ya! Oh ya, kamu mau pergi sekarang?" tanya sang mama.
"Iya Mah, sekali lagi aku minta doa mama ya! do'akan biar aku dapat pekerjaan yang layak."
Agam kembali meraih tangan sang Mamah kemudian menciuminya.
"Mudahan kau dapat pekerjaan ya! biar usaha kita, perekonomian kita ini kembali normal," Doa sang mama sambil mengusap lembut kepala Agam.
Baru kali ini Agam dan mamahnya merasa dekat, biasanya Agam hanya pamitan tanpa salaman, apalagi sampai di elus elus begitu, sangat jauh.
__ADS_1
"Terima kasih mah," sahutnya Agam pun mencium pipi kiri dan kanan sang mama.
Agam pun pergi meninggalkan teras, memasuki mobilnya. saat melihat kepergian Agam sang mama pun meneteskan air mata, dan Kiara menyaksikan itu.
"Pasti Mama sekarang sangat berharap, Mas Agam bisa bangkit kembali," ucap Kiara dalam hati.
"Kiara, Aku ingin kamu mensupport kepada suamimu itu, jangan sampai dia drop, hanya karena support mu Kiara, dia bisa bertahan, aku tidak bisa membayangkan kalau seandainya kau belum ada, di kehidupan kami. Mungkin saja dia bisa depresi karena selama ini dia adalah bos, dan sekarang dia akan mencari pekerjaan sebagai karyawan biasa," pungkas sang mama, sambil terus meneteskan air mata, dia pun menyapu pipinya itu dengan kerudung panjangnya.
"Wah Mama cantik sekali, jadi Mama sudah yakin ingin hijrah?" Kiara sengaja mengalihkan pembicaraan, karena sebenarnya air matanya pun sudah hampir jatuh.
"Iya, mulai sekarang aku akan menghadiri acara Majelis Taklim, Oh ya, bagaimana dengan buburnya, apa sudah masak semua? Ayo! biar kita jualan," Ajak sang Mamah.
"Udah Mah, sebentar aku ambil, Oh... Biar aku saja yang ngangkat, kamu lagi ham," ucap sang mama.
Sekarang mama dan Kiara sudah terbiasa berjualan bubur di pagi hari, dan jam 10.00 pagi semua buburnya sudah habis terjual, karena anak-anak memang sering makan sarapan pagi dengan bubur.
Sementara Ibu Kiara, dia akan mencuci pakaian dengan mesin cuci, walaupun hanya menggunakan kursi roda, namun dia berusaha agar tetap bisa membantu pekerjaan rumah.
Kiara dan mertuanya kita sudah berada di pinggir jalan menjaga jualan buburnya.
"Iya Bu, sebentar!"
Dengan cekatan Kiara pun mengambil bubur nasi tersebut, dan mendahulukan antrian yang lebih dulu.
"Ceapt sedikot!" ketus orang itu lagi.
"Ini Masih antri, masih ada dua orang, sebentar!" ucap Kiara lagi.
"Hai Bu, kau kan baru datang? Kenapa mendesak begitu? tidak tahu sopan!" ucap mertua Kiara, dia merasa emosi mendengar menantunya dibentak.
"Bu, pembeli itu adalah raja!" ucap ibu muda itu lagi.
"Tapi kau kan tahu, kalau kami harus mendahulukan yang duluan datang,," sahut Ny.Mentari lagi makin kesal.
"Iya Bu, sabar, kami juga dari tadi kok," sahut pembeli lain.
__ADS_1
Iya, Ibu baru datang, kok mau dukuan?" sahut yang lain ikut emosi.
"Tapi kan aku sudah langganan di sini, aku juga beli tiap hari kok!" ucap wanita muda itu.
"Iya ibu belinya di tiap har, tapi kan belinya cuma Rp3.000 doang, Coba ibu beli langsung 10 bungkus dan pesan lebih dulu lewat telepon. Mungkin ibu datang ke mari langsung kami bikinkan khusus," sahut mertua Kiara, memang sang mertua ini kesal dengan ucapan orang itu.
"Mah sudah, Mah. tidak apa-apa kok, sebentar juga selesai, biar dengarkan saja," bisik Kiara pelan kepada sang mertua.
"Eh kau itu ya bu, baru juga jualan di sini, sudah belagu, pakaiannya saja tuh yang dibesar-besarkan, tapi kok mulutnya enggak bisa diatur dan sembarangan,",ketua ibu muda itu lagi.
"Bu, kalau begitu tidak usah lagi beli di sini, masih ada pembeli yang lain kok,"ketus mertua lagi.
Dia sangat kesal, benar-benar kesal olah perempuan itu.
"Ya udah, nggak jadi beli, aku nggak kan beli di sini lagi," berangnya sambil pergi meninggalkan warung bubur Kiara.
Sementara dua ibu yang masih ngantri itu mereka tersenyum, melihat ulah pembeli yang tidak mau mengantri.
"Sudah biasa bu, orang-orang seperti itu sibuk bekerja, maunya cepat-cepat, kami juga kan walaupun tidak bekerja, tapi anak-anak kami juga mau sekolah," ucap Ibu pembeli.
"Ya Bu, Sudah biasa kalau penjual itu memang harus ramah, walaupun kadang ada pembeli judes," bales Kiara.
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di samping jualan bubur.
"Mungkin mobil itu akan memborong semua bubur mu ini, agar kau lebih cepat bisa tutup warung mu, berkat kesabaranmu Nak," ucap pembeli.
"Mudahan saja Bu," sahut Kiara.
Kedua pembeli itu pun sudah pergi meninggalkan tempat tersebut, tiba-tiba turunlah seorang ibu yang terlihat berpakaian rapi mengenakan perhiasan yang hampir menutupi pergelangannya, dan menggunakan kalung panjang di bawah kerudung segitiga nya yang dililit leher.
Kiara pun kemudian membersihkan meja karena bekas remahan dari bubur sebelumnya.
"Kiara, aku ingin bicara denganmu."
Suara orang itu mengagetkan Kiara, suara yang pernah dia dengar, namun dia lupa siapa pemiliknya. Kemudian Kiara menyapa arah suara itu, begitu kagetnya dia saat melihat wajah wanita itu wanita yang dulu pernah menghinanya.
__ADS_1
Beraambung...