
Kiara tampak asyik memasak di dapur di temani Naira sang calon mantu.
"Jadi kamu satu kampus dengan Fathan?" tanya Kiara.
"Iya tante," sahut Naira singkat.
"Oh iya, jadi kalian sudah lama pacaran?" tanya Kiara lagi.
"Sekitar 1 tahun yang lalu tante."
"Apakah Fathan pernah kurang ajar padamu?" selidik Kiara ingin tau.
"Tidak pernah Tante. Lagian kami juga jarang jalan berdua, walaupun jalan, Paling juga makan di kantin kampus, karena Naira dilarang sama abah jalan-jalan sama laki-laki, apalagi kalau keluar malam, tidak pernah diizinin, walaupun cuma jalan dengan teman sesama perempuan, Naira." sahutnya.
"Oh ..., oh ya, orang tuamu sudah tahu nggak kalau minggu depan Fathan akan melamar ke rumah?" tanya Kiara.
"Sudah tante, kemarin aku sudah bilang sama abah."
"Bagaimana tanggapan ayahmu?"
"Beliau bilang, boleh saja melamar ke rumah, tapi walaupun kami sudah tunangan, tetap saja kami tidak diizinkan untuk jalan-jalan," sahut Naira.
Naira sibuk membantu menyajikan makanan di atas meja makan.
__ADS_1
"Oh ya, bagaimana kalau kita langsung adakan resepsi pernikahan saja?" Kiara sepertinya kebelet pengen punya mantu.
"Kalau itu Nanti kalian bicarakan saja sama Ibu Dan Abah, karena Naira tidak bisa menjawabnya sekarang."
"Oh ..., baiklah, ini semuanya sudah siap, sekarang kita makan siang, tolong panggilkan Fathan di atas ya!" perintah Kiara.
"Baik tante."
"Oh iya. Satu lagi. Bagaimana kalau mulai sekarang kau panggil aku dengan sebutan Bunda? seperti Fathan memanggilku, aku lebih senang di panggil begitu, biar lebih akrab."
"Halo bunda ..., eh ada kakak ipar, saingan nih sama Aisya, pasti nanti Kakak Fathan tidak mau lagi ajakin Aisya jalan-jalan," ucap Aisya. Pura pura cemberut.
"Aisya, jangan celemitan begitu dong! mana ada sih Aisya saingan sama kakak ipar? ikatannya kan berbeda, ingat ya! Kakak kamu itu akan menikah. Jadi kamu jangan lagi terlalu sok akrab dengan kakakmu!" ketus Kiara.
"Tidak apa-apa kok," sahutnya pendek.
Dia takut terlalu banyak menjawab, seperti yang dikatakan Fathan tadi, bahwa dia tidak boleh salah ngomong, takut calon mertuanya marah, walaupun dia tidak melihat ada tanda-tanda judes di wajah Kiara.
"Oh ayo sana panggil Fathan! kita makan siang, Aisya panggil juga Papa ya! mungkin dia ketiduran."
"Baik Bunda."
Kiara pun tersenyum mendengar panggilan Naira padanya.
__ADS_1
Naira berjalan ke kamar atas untuk memanggil Fathan. Dia bingung kamar yang mana harus di ketuk, karena ada 3 kamar di sana yang sama tertutup dan memiliki pintu yang sama.
"Fathan? Kau di mana?"
Akhirnya Naira pun memanggil nama sang kekasih, karena tidak tau pintu yang mana yang harus di ketuk.
Tak ada jawaban, berulang kali Naira memanggil namun tetap sama, tak ada jawaban.
Hingga Naira memutuskan untuk mendorong satu pintu yang paling dekat dengan tangga.
Pintu itu terbuka. Namun tidak ada orang. Kamar tampak bersih. Beberapa kali memanggil dengan memasukkan separu bagian kepalanya ke dalam, namun tetap tak ada jawaban.
Bruk
Tiba-tiba Naira nyungsep dan mencium lantai kamar.
"Au...."
Pekik pelan Naira. Naira pun mengusap wajahnya yang terkena lantai karena merasa perih. Kemudian bangun.
Bruk
Tiba-tiba pintu tertutup dari luar, sedang posisi Naira di dalam kamar.
__ADS_1
Nex