
Pagi menyapa dengan indah, tampak Aswin dan juga Hasan sudah bersiap-siap akan meninggalkan hotel di mana mereka bermalam beberapa hari ini. Mereka juga sudah mengambil berkas dari bank untuk mengambil alih kembali perusahaan yang sudah diambil Alex. Mereka meluncur menuju perusahaan tersebut.
"Tuan, setelah urusan Tuan selesai di perusahaan , maka aku harus pulang ke kotaku lagi, karena aku juga punya anak dan istri tuan, mereka pasti merindukanku, karena aku tidak pernah sebelumnya berpisah dengan mereka," ucap Hasan.
"Aku merasa sedih berpisah denganmu. Apakah sebaiknya kau boyong saja keluargamu ke sini! kau akan kuberikan pekerjaan baik di perusahaan itu," ajak Aswin.
"Tidak tuan, aku merasa enak bekerja di pesantren Ustdz.Abdullah, walaupun gajinya cuma sedikit, namun aku merasa puas di sana, karena batinku diberi asupan gizi seperti bacaan-bacaan ayat suci Alquran dari santri setiap harinya, yang mereka lantunkan lewat pengeras suara, aku merasa tenang hidup di pesantren itu," ucap Hasan.
"Iya ..., aku juga merasakannya, aku sangat damai diam di sana, mudahan saja aku bisa menemukan istri dan anakku secepatnya , Amiin."
Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai di bangunan megah tersebut, setelah memarkirkan mobilnya. Aswin dan Hasan pun masuk menuju bangunan yang megah itu, tak ada satupun yang mengenali Aswin, karena sekarang dia sudah tampak terlihat sangat tua, mungkin karena juga beberapa karyawan sudah berhenti dari pekerjaan di perusahaan Aswin itu, Saat dia masih menjabat sebagai Direktur Utama.
"Ada bisa saya bantu Pak?" tanya seorang karyawan yang menatap Aneh ke arah Aswin dan Hasan.
"Aku ingin bertemu dengan pemilik perusahaan ini," ucap Aswin.
"Apakah sudah ada janji Pak?" tanya karyawan tersebut dengan sopan.
"Tidak! karena aku datang ke sini dadakan," ucap Aswin lagi.
"Maaf tuan, Kalau Anda belum ada janji, maka saya tidak bisa mempertemukan anda dengan pemilik perusahaan ini," ucap karyawan tersebut.
"Benarkah? bagaimana kalau pemilik perusahaan ini aku sendiri?" tentang Aswin.
"Maaf tuan, Apa maksud Tuan? saya tidak mengerti?" ucap seorang karyawan tersebut dalam kebingungan.
"Sudahlah, kau ijinkan atau tidak? aku akan tetap masuk."
Aswin pun berjalan menerobos masuk melewati lelaki tersebut.
"Tuan, tunggu! anda jangan lancang! karena ini adalah perusahaan Pak Alex, Kalau anda ingin bertemu Tuan Alex, aku akan menanyakannya lebih dulu," ucap lelaki itu, sambil mencegat langkah Aswin di tengah jalan.
"Baiklah, katakan padanya, kalau aku Aswin datang ke perusahaan ini untuk mengambil perusahaan ini kembali!" tegas Aswin.
"Baik Pak, saya akan menyampaikannya."
Karyawan tersebut pun menemui Bos Alex yang ada di dalam ruang pribadinya. sebenarnya Alex masih menjalani rawat jalan karena bekas tembakan Clara, namun dia memaksa untuk bekerja walaupun pekerjaannya hanya berbaring saja.
"Tuan Alex, ada orang yang ingin bertemu dengan anda!"
"Benarkah? Apakah dia sudah ada janji denganku?" tanya Alex.
"Katanya belum Pak, tapi dia memaksa untuk bertemu Bapak, katanya namanya Tuan Aswin."
"Aswin?"
__ADS_1
"Ya, dia berpesan bilang kepada Tuhan Alex, kalau sekarang Pak Aswin yang sudah kembali.-
"Apa? Aswin? Ha ha ha jangan mengada-ngada kamu, Aswin yang mana? Apakah dia kakakku? Apakah dia hantu kakakku?apa dia penasaran karena sekarang perusahaannya telah aku ambil?" gumam Alex.
Brak.
Tiba-tiba pintu didorong dengan sangat kasar.
"Alex, apa kabar? Aku dengar kau terluka, luka karena apa?" tanya Aswin yang tiba-tiba berdiri di depan pintu.
Alex yang melihat kedatangan Aswin pun kaget, karena dia tahu kalau kakaknya tersebut sudah meninggal, sejak puluhan tahun silam.
"Apakah kamu?"
"Tentu saja, Kau kaget? karena perusahaan yang telah kau ambil dari anakku, akan kembali padaku."
"Tidak mungkin, kau pasti orang lain yang sedang menyamar!" ketus Alex.
"Ha ha ha, apa kau takut?" tantang Aswin.
"Aku tidak pernah takut sama penipu seperti kalian!" bentak Alex.
"Awas kualat kau Alex, aku ini kakakmu, bagaimana bisa kau berani membentak kakakmu sendiri."
Pa Aswin pun tersenyum dengan santainya, bahkan dia duduk santai di sofa ruangan itu dengan rileks.
"Apa kau yakin? Apa surat-surat itu asli? Bagaiman kalau surat itu palsu? Apa kau masih percaya diri?" tantang Aswin lagi.
"Bagaimana mungkin palsu? karena semua itu aku dapatkan dari Agam langsung."
"Aku tidak pernah memberikan aset perusahaan ku pada siapa pun, bahkan Agam atau pun Mentari tidak tau itu. Oh iya, apa kau tau di mana sekarang mereka berada? Kalau kau memberitahukan ku, mungkin hukuman mu akan aku beri keringanan."
"Aku tidak tau, sekarang, kalian pergi dari sini! Jangan coba menipuku."
"Aku tidak akan pergi."
"Selamat siang Pak! Kami dari kepolisian, yang akan memeriksa pemilik perusahaan ini, karena ada laporan, Tuan yang bernama Alex telah mencuri perusahaan dengan berkas palsu," ucap seorang polisi berdiri di depan pintu.
"Apa maksudmu Pak? Aku memiliki semua berkas perusahaan ini, siapa yang bilang?"
"Kita akan membandingkan berkasnya, sekarang mari kita ke kantor polisi dulu!"
Alex tanpa perlawanan pun segera pergi mengiringi polisi, begitu juga dengan Aswin dan Hasan.
***
__ADS_1
Tiba-tiba telepon dari nomor yang tidak dikenal masuk ke HP Agam.
"Hello. dengan siapa ini?" tanya Agam.
"Apakah ini dengan Tuan Agam?" tanya seseorang.
"Benar."
" Nyonya Clara ingin berbicara dengan anda.-
"Oh,baiklah.-
"Mas... , Kenapa kau belum ke sini? bukankah kau janji akan ke mari tadi malam? tapi hingga sekarang kok belum juga datang? tolong aku Mas!"
"Clara, begini..., untuk hari ini aku tidak bisa ke sana, karena ada pekerjaan yang mendesak. Kau pasti bisa mengatasinya sendiri, karena aku juga sudah mengatakannya padamu sebelumnya kan? bahwa kau jangan melakukan perbuatan tersebut, aku sudah bilang padamu, jangan sampai kau menikah dengan paman Alex! tapi kau membangkang."
"Mas, semua itu aku lakukan demi kamu, demi kita! Mas, tolonglah Mas, ke marilah! ku mohon Mas.hiks hiks."
"Maaf, aku nggak bisa, udah ya, aku lagi kerja ini, sekarang aku sudah bekerja di perusahaan, hanya sebagai karyawan biasa, aku tidak bisa seperti dulu lagi sesuka hati," ucap Agam. Kemudian dia menutup teleponnya.
"Ada apa?" tanya paman teman Agam.
"Mantan istriku di tangkap polisi."
"Lho kenapa? emang apa yang dia lakukan?" tanya Paman.
"Dia mencoba membunuh seseorang."
"Apa? Astaga ..., untung saja kau sudah bercerai."
"Iya paman, tapi panjang ceritanya. Aku nggak bisa ceritain, karena ini privasi kami."
"Iya, nggak papa. Kamu yang baik aja sama istri mu yang sekarang, apalagi dia sedang hamil."
"Iya paman.
***
Tok tok tok
"Assalamualaikum."
"Wa alaikumsalam."
Ceklek.
__ADS_1
"Mas Adi?"
Bersambung...