
Edward yang merasa terpanggil pun langsung menolehkan kepalanya kearah datangnya suara itu. Terlihat dari kejauhan, ada seorang lelaki tengah berjalan menghampirinya dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya dan senyuman diwajahnya.
Edward yang melihat itu hanya terdiam sampai lelaki itu berhenti tepat didepannya. “Kau ternyata datang kesini juga ya” Sapa lelaki itu sampai menepuk lengan Edward
“Memangnya kenapa? Apa kau memiliki masalah, kalau aku berada disini?” Edward menatap lelaki itu dengan tatapan dinginnya
Lelaki itu dengan cepat mengayunkan tangannya sambil menggeleng, “Tentu saja tidak, lagipula untuk apa aku mempermasalahkan itu?”
Edward disana hanya terdiam sambil memutarkan bola matanya dengan malas, lelaki yang ada didepannya ini adalah sahabat dekatnya. Namanya jihon, dia adalah teman semasa SMA dan sekuliahnya Edward.
Hubungan mereka, bahkan lebih dekat daripada hubungan Edward dengan Arya. Walaupun Arya sudah lebih lama mengenal Edward, namun Edward hanya menganggapnya sebagai teman bukan seseorang yang berhak masuk kedalam hidupnya.
Berbeda dengan jihon, memang awalnya Edward tidak percaya dengan lelaki ini. Namun pada akhirnya, mereka menjadi dekat. Dari hal kecil, mereka selalu membicarakannya berdua. Dan bahkan itu membuat mereka menumbuhkan rasa kepercayaan mereka kepada satu sama lain.
Dekat ataupun akrab dengan Edward, adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan oleh orang lain. Karna sikap Edward yang tidak bisa dimengerti oleh logika. Lelaki ini begitu misterius hingga banyak orang yang mencari-cari data penting milik Edward, untuk mengetahui kehidupannya.
Edward disana hanya menatap jihon dalam diam, dan hal itu membuat jihon merasa gugup didepannya. “Hey! Berhentilah menatapku seperti itu!! Kau ini memang tidak pernah berubah ya”
Edward menyipitkan matanya, “ Apa maksudmu?”
“Ah..tidak! Aku hanya merasa bahwa kau hanya berubah dari segi kemampuan dan bukan sifat” jihon berkata sambil menatap Edward dengan tatapan menilai
Edward melipat kedua tangannya di dada, menatap jihon dengan tatapan yang merendah. “Lalu kau ingin aku berubah seperti apa? Bukankah perubahan ini sudah membuatmu puas?!”
“Ya memang sangat memuaskan. Tetapi aku sangat tidak suka dengan sikap dingin mu itu. Kau bahkan sudah memutuskan beberapa tunangan yang menurutku, adalah kesempatan yang bagus”
“....” Edward terdiam
“Jangan berpikir aku tidak tau kabar tentang kau memutuskan beberapa tunangan dari keluarga terpandang. Aku benar-benar sangat tidak mengerti dengan pola pikirmu itu, spek cantik diatas rata-rata saja kau menolaknya. Lalu bagaimana dengan tipemu? Apa kau memiliki masalah dalam cinta?”
__ADS_1
Edward menggeleng, “Kau terlalu banyak bicara”
“Jika aku tidak bicara, mungkin sampe kapanpun kau tidak akan pernah menceritakan itu padaku. Sekarang aku bertanya padamu, apa kau masih mencari wanita itu? Apa kau masih merasa belum terima dengan kenyataan ini?” jihon bertanya dengan nada seriusnya
Edward mengerutkan keningnya, “Kenapa kau jadi malah membicarakan hal itu? Bukankah aku sudah bilang, untuk berhenti membicarakannya!”
“Kau pikir dengan berhenti membicarakannya itu dapat membuat masalahmu selesai? Kau ini selalu lari dari kenyataan, dan bahkan soal pertunangan itu saja, kau tidak bisa menyelesaikannya!” bantah jihon dengan nada kesalnya
Edward menghela nafasnya dengan pelan, mengatur semua emosinya yang tengah berada di ujung tenggorokannya. Berusaha menahan semuanya, agar tidak terjadi kekacauan disini. Setelah mereka tenang, Edward pun kembali menatap jihon dengan tatapan dinginnya.
“Lupakan soal itu, tidak ada gunanya jika dipermasalahkan. Ayo masuk!”
Edward pun berjalan melewati jihon untuk masuk kedalam ruang utama. Sedangkan jihon yang berada dibelakang Edward hanya menggelengkan kepalanya dengan pasrah. Lelaki ini benar-benar tidak bisa diajak kerjasama dalam bicara.
Dia selalu memiliki jalannya sendiri untuk menyelesaikan masalahnya, namun baginya ini sudah terlalu lama dan mungkin kekecewaan yang akan didapat oleh Edward nantinya.
“Kau memang orang yang sulit dipahami, Edward!”
...
Disisi lain, Natasya yang tengah berada di dalam toilet pun hanya membasuh wajahnya di wastafel. Gadis itu menatap diam kearah cermin yang kini sedang memantulkan bayangannya disana. Wajah gadis itu terlihat sangat tenang, namun didalam ketenangannya ada sesuatu yang terus mengganjal hatinya.
Entah dari perasaan bersalah dirinya kepada Rio karna telah mengingkari janjinya, atau perasaan aneh saat berasa didekat Edward.
Ahh... benar-benar membuat pusing saja jika memikirkan itu!! Natasya mengusap wajahnya dengan kasar, lalu manik matanya dengan sontak mengarah kearah pintu. Karna terdengar suara ketukan dari luar.
Tok..tok..tok..
“Nona, maaf. Apa anda masih lama didalam?” Tanya wanita itu dari balik pintu
__ADS_1
“Hn...memangnya kenapa? Apa kalian memiliki tugas dari atasan?” sahut Natasya dari dalam toilet tanpa membukakan pintunya
Wanita itu mengangguk, “Ya nona, kami memiliki tugas dari atasan”
“Pergilah! Kalian tidak perlu menungguku” Natasya bertanya dengan nada datarnya
Wanita itu ragu, lalu berkata “Pergi? Lalu bagaimana dengan nona? Tuan tadi menyuruh kami untuk menemanimu, lalu bagaimana jika dia tahu kalau kami meninggalkanmu?”
“Tidak perlu memikirkan itu, lagipula sebentar lagi aku selesai. Jadi kalian boleh pergi!”
Wanita itu mengganguk ragu, “B-baiklah nona. Jika anda sudah selesai, maka pergilah langsung ke ruang utama. Karna jika kau sendirian luar penjagaan, mungkin itu akan sangat berbahaya bagi anda”
Natasya mengangguk tanpa menjawab, karna terdengar suara langkah kaki menjauh dari depan pintu. Gadis itu menghela nafas berat saat beberapa langkah itu telah menghilangkan dari pendengarannya.
“Mereka sudah pergi?”
Natasya menolehkan kepalanya kearah pintu, manik mata gadis itu menatap pintu tersebut dengan tajam. Perasaan tidak enak seketika muncul dihatinya. Suara langkah kaki seseorang berlari juga kembali terdengar ditelinga natasya, seorang itu seperti sedang berlari mengarah kearah toilet yang kini sedang ia tempatkan.
Tak lama, suara langkah kaki itu juga semakin dekat dan bahkan Natasya sudah menyadari bahwa seseorang tengah berdiri didepan pintu toiletnya. Disaat yang sama, Natasya merasa perasaan tidak enak itu semakin membuatnya berpikir aneh tentang seseorang itu.
Dengan perlahan, Natasya pun berjalan mundur kebelakang. Memasuki salah satu WC untuk menyembunyikan dirinya. Ia tidak tau kenapa perasaan ini sangat menganggu keberaniannya. Ada apa ini? Siapa orang yang tengah berdiri didepan pintu itu? Kenapa rasanya begitu tidak enak?
Braakk!!
Natasya yang tengah berdiri memojok di salah satu ruang WC pun seketika terlonjat kaget Karna mendengar suara pintu toilet depan terbuka dengan kencang. Jantung Natasya nampak begitu berdetak dengan kencang dan nafas yang kini sedikit memburu.
Namun Natasya dengan berusaha keras, menahannya agar tidak diketahui oleh orang itu. Tak lama terdiam tak bersuara, tiba-tiba ada suara wanita yang menangis tersedu-sedu dibalik pintu ruang WC ini. Suara tangisannya terdengar seperti sedang kecewa
Ia tidak tau siapa, namun suara tangisan itu malah membuat Natasya sedikit merasa iba dengan orang itu.
__ADS_1
“Ada apa dengannya? Kenapa dia menangis?”