
“Buku apa ini?” Natasya mengambil buku tersebut dari lantai lalu melihat cover yang sudah tidak bisa dilihat lagi karna benar-benar lusuh. Natasya juga sempat berpikir, apakah Edward yang menyimpannya disini? Tetapi kenapa lelaki itu menyimpan benda yang kotor? Bukankah lelaki itu sangat suka kebersihan?
Natasya yang ditengah kebingungan pun tertegun saat melihat selembar foto keluar dari buku tersebut. Menatap foto itu dalam diam dan perlahan tangannya mengambil selembar foto itu. Tangannya gemetar serta keringat dingin mengucur di dahinya.
Foto itu kan?!
Natasya terdiam bagaikan patung saat mengambil foto tersebut, memegangnya lalu menatapnya dengan waktu yang cukup lama. Gadis itu ingin menangis namun tidak bisa, rasanya ada sesuatu yang membuatnya tidak merasakan apapun.
Setelah selesai, Natasya langsung beranjak dari sana. Menyimpan kembali foto itu, lalu mengembalikan bukunya kembali ke atas rak. Ekspresi wajah Natasya berubah menjadi sangat dingin, lebih dingin dari yang biasanya.
Gadis itu berjalan keluar dari ruangan Edward dan tidak sengaja bertemu dengan Arya di lorong kantornya. Tampak lelaki itu tengah membawa beberapa berkas ditangannya, namun Arya masih menyempatkan berhenti saat dirinya sudah dekat gadis itu. “Selamat malam nona”
“Hn..” jawab sekilas Natasya tanpa memandang sedikitpun Arya, gadis itu terus berjalan melewatinya dengan aura yang mengerikan dan Arya dapat merasakan hal itu. “Ada apa dengannya? Kenapa aura dari tubuhnya berbeda?” tanya Arya yang menatap punggung Natasya berjalan menjauh dikegelapan lorong.
Natasya yang tengah berjalan sendiri keluar dari kantor, membuat semua yang berada disekitarnya menatap dengan tatapan kebingungan. Karna tidak biasanya, Natasya yang keluar kantor sebelum jam kerja pulang.
Sesampainya di parkiran, Natasya sempat sadar akan apa yang ia lakukan tadi. Itu benar-benar salah, namun sudah tidak bisa dikembalikan lagi. Gadis itu hanya mengatur nafasnya untuk menentukan pikiran serta tubuh yang tadinya diluar kontrol.
Ia memang marah, ia memang kesal, namun dirinya tidak ingin orang yang tidak bersalah kena imbas dari kemarannya itu. “Sepertinya aku berlebihan tadi” gumam Natasya sembari menatap gedung yang menjulang tinggi dikegelapan malam. “Tidak sangka, kau akan melakukan ini.”
__ADS_1
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Natasya pun kembali mengambil langkahnya untuk berjalan pergi dari kantor. Dirinya berniat untuk menenangkan pikiran dan hatinya yang kini tengah berantakan. Tidak peduli ia harus berjalan kaki di malam yang sepi dan sunyi
Yang kini ia pedulikan hanyalah ketenangan hati dan pikiran yang harus ia kontrol.
...--🥀🕊️--
...
Disisi lain, angel yang tengah berdiri di jembatan layang dengan mobil yang terparkir dipinggidi pinggir jalan, wanita itu tampak tengah menatap langit gelap yang dipenuhi oleh bintang-bintang. Menikmati begitu fokus hingga ia tidak sadar jika ia sudah berada di tempat itu terlalu lama.
“Sungguh menenangkan, bahkan ini membuatku merasa hidup kembali”
Wanita itu tersenyum diwajah yang penuh dengan luka lebam, kecantikan tiada Taranya kini tidak terjuluki lagi pada dirinya jika seseorang sampai tahu bagaimana kondisi wajahnya sekarang. “Hn...sudah malam ya, tidak terasa aku bisa begitu menikmati pemandangan ini” kata angel sembari menatap jam tangannya.
Itu benar-benar seorang gadis dengan pakaian dress hitam serta rambut yang digerai tengah berjalan kaki seorang diri di keheningan malam. Angel yang menatap siapa sosok wanita itu membuat dirinya harus menyipitkan matanya agar ia dapat mengenali siapa gadis itu.
Namun saat angel ingin mendekatinya, ada sebuah mobil hitam melaju cepat melewatinya lalu berhenti tepat disamping gadis itu. Kemudian keluarlah beberapa tangan yang menarik gadis itu masuk kedalam mobil. Angel tertegun, ia tidak sempat menghampiri gadis itu tetapi kenapa malah sebuah mobil yang menghampirinya?
Tanpa pikir panjang, angel pun langsung berlari menghampirinya mobil tersebut. Angel tidak bersuara dalam larinya, karna kegelapan itu juga membantu agar mudah mendekati mobil hitam itu. Sayang ya, saat angel hampir mendekati mobil itu, mobil itu sudah terlebih dahulu melaju dengan cepat di kegelapan malam.
__ADS_1
Membawa gadis itu didalamnya, angel panik. Ia mengira itu adalah penculikan, tetapi ia merasa bahwa penculikan itu adalah paksaan. Tetapi saat ia melihat dari kejauhan, gadis itu lah yang masuk kedalam mobil, dan bukanlah dipaksa dari seseorang dalam mobil.
Angel yang khawatir serta panik pun segera berbalik badan untuk berlari kearah mobilnya. Wanita itu masuk, lalu menyalakan mesin mobilnya. Memutar balikkan arah mobilnya kearah mobil hitam itu pergi. Kemudian menginjak gas dengan kecepatan penuh agar ia tidak tertinggal dari mobil itu.
Tetapi sayangnya, usaha yang dilakukan angel sangatlah sia-sia. Ia tidak dapat mengejar mobil hitam itu, karna jalan yang cukup gelap membuat dirinya tidak bisa melihat arah jalannya, walaupun sudah menyalahkan lampu dari mobil.
“Sial!! Kemana mobil itu pergi?!!” angel memukul stir mobil dengan keras karena kesal pada dirinya sendiri. Angel juga terlihat memutarkan pandangannya dari kanan ke kiri, mencari jejak mobil tadi. Dirinya panik hingga membuat wajah yang tadinya menikmati pemandangan berubah menjadi wajah yang suram.
Perasaan khawatir serta takut kini menyelimuti hatinya, ia tidak tahu harus bagaimana. Tetapi sekarang ini dia hanya bisa pulang tanpa melanjutkan kembali pengejaran antara dirinya dan mobil hitam itu.
...--🥀🕊️--
...
Ditempat yang jauh, terlihat Edward tengah duduk di kursi dengan tubuh yang tegak serta ekspresi wajah yang dingin. Lelaki itu tampak tidak menikmati acara pertemuan kali ini, karna ada beberapa lelaki berbaju Hitam dengan otot-otot yang kekar tengah mengelilingi Edward.
Lelaki itu sama sekali tidak memiliki rasa takut saat dikelilingi seperti itu, bahkan wajah Edward terus memandang rendah lelaki yang tengah duduk di seberangnya.
“Kita adilkan menjadi 1 triliun dalam 5 bulan. Apa kau terima?” tanya lelaki itu sambil mengangkat gelas yang berisi anggur merah. “Tidak, sebelumnya kita sudah sepakat akan membagikan itu pada masyarakat ***** karena tanah yang akan kita gusur. Tetapi kenapa kau sekarang malah ingin mengambil uang tersebut dan tetap melakukan pengusuran itu?” Edward dengan dingin menatap lelaki itu dengan tatapan jijik.
__ADS_1
Mendengar perkataan Edward, lelaki itu tertawa dengan mulut yang terbuka lebar. Membuat aroma dari anggur tersebut tercium di seluruh ruangan. “Tuan muda Chen, kita itu pembisnis. Bukan karyawan kecil yang sedang mengerjakan suatu proyek. Apa kau mau, mengerjakan tugas begitu rumit namun tidak ada pemasukan untuk kita?”
“Tapi itu bukan hak milik kita, itu milik mereka! Mereka pantas untuk menemaninya” Edward berkata dengan nada tegasnya.