Aku Masih Menunggumu

Aku Masih Menunggumu
Pohon harapan dari sebuah ketenangan


__ADS_3

“Tentang masalah itu, saya akan pastikan semuanya berjalan dengan lancar dan gadis itu akan selalu dibawah pengawasan saya” Asisten itu menyakinkan Yudha


Yudha mengangguk, “Semua itu saya serahkan padamu. Dan tentang pengawasanmu terhadap Natasya, pastikan untuk gadis itu tidak menyadarinya. Karna aku tidak ingin terlibat jika kau ketahuan dengan insting kuatnya.”


“Tuan tenang saja, saya akan melakukan masalah ini dengan baik”


Asisten utama berbalik badan dan berjalan pergi meninggalkan Yudha diruangan kerja nya. Suasana didalam juga kembali hening. Yudha mengusap wajahnya dengan kasar, benar-benar seperti orang yang sedang banyak pikiran.


“Semua akan masuk dalam permainan yang menyenangkan.”


......🥀🕊️...


...


Di taman


Natasya yang tengah berjalan dalam diam di belakang Edward membuat lelaki itu berdecih kesal sambil membalikan tubuhnya. “Cepatlah, apa kau ingin terus-menerus kedinginan disini?” Edward berkata sambil mengulurkan tangannya besar dan panjangnya


Natasya yang melihat itu langsung meraih tangan Edward, menggenggam tangannya dengan perlahan. Sedangkan Edward yang merasa tangan Natasya udah terasa sangat dingin, dengan cepat lelaki itu membungkusnya dengan tangan besar hangatnya.


Natasya yang mendapatkan penghangatan itu, tanpa sadar menunduk kepalanya dengan perasaan canggung. Keduanya terdiam selama perjalanan, membuat Edward melirik sekilas kearah natasya yang tengah berjalan disampingnya.


“Udara disini cukup dingin, apa kau ingin kembali ke mobil?”


Natasya menolehkan kepalanya kearah Edward, lalu kembali menundukkannya lagi. Sejujurnya ia masih ingin tetap disini, tetapi melihat kondisinya sekarang membuatnya bimbang dalam pikirannya. Edward yang mendapati Natasya terdiam, tanpa menjawab pertanyaannya


“Jika kau masih belum puas dengan ini, aku akan mengajakmu lain kali. Sekarang kita kembali ke mobil” Edward melihat jam yang melingkar ditangannya “Ini juga sudah hampir pagi”

__ADS_1


Natasya mengangguk, “Baiklah, ayo kembali”


Edward yang melihat itu, ikut mengangguk sambil berbalik arah. kembali ke arah tempat mobil terparkir tanpa melepaskan genggaman tangannya itu. Membuat Natasya sedikit tidak nyaman didalam hatinya. Edward yang merasakan pergerakan dari tangan Natasya pun membuat lelaki itu melirik kearah Natasya.


“Ada apa? Apa tidak nyaman?”


Natasya menggeleng tanpa berkata. “Bertahanlah sebentar lagi, aku akan melepaskannya saat kita sudah sampai di mobil” Edward berkata dengan nada dinginnya.


Natasya terdiam sejenak, “Maaf, aku hanya tidak terbiasa saja dengan ini”


Mendengar perkataan itu, dengan sontak mata Edward melirik kearah Natasya. Salah satu alisnya terangkat serta bibir yang tersenyum miring “Oh ya? Bukankah seharusnya kau sudah terbiasa dengan ini?”


“Terbiasa? Apa maksudmu?” Natasya berkata sambil menatap Edward


Edward menurunkan sedikit pandangannya untuk menatap gadis yang tengah berjalan disampingnya dengan tinggi yang rendah darinya. “Kedekatan ini, bukankah seharusnya membuatmu terbiasa?”


“Entahlah” Natasya menjawab dengan asal. Ia benar-benar tidak tau harus menjawab bagaimana.


Padahal jelas-jelas, sekarang ini dia sedang berjanji dengan dirinya sendiri untuk menunggu Rio kembali tanpa berhubungan dengan lelaki. Janji itu sudah diterapkan oleh hatinya sejak kecil, tetapi sekarang?


Janji itu seperti omong kosong saja. Pada akhirnya, Natasya kembali dekat dengan seorang lelaki yang bernama Edward, dan lelaki itu adalah CEO terkejam didunia perbisnisan.


Keduanya terdiam, karna topik yang dibicarakan juga tidak menarik. Membuat keheningan selalu berada diantara mereka jika tidak memiliki topik pembicaraan. Tak lama berjalan, mereka pun sampai di tempat Edward memarkirkan mobilnya.


Keduanya langsung masuk kedalam Mobil, dan Edward juga langsung menjalankan mobilnya pergi dari tempat itu. Keduanya masih terdiam sambil menyibukkan dirinya, seperti Edward yang tengah fokus menyetir, sedangkan Natasya yang sedang memperhatikan jalanan untuk menghafal arah ketaman itu lagi.


“Tuan, apa taman itu hanya diketahui oleh dirimu seorang?” Natasya bertanya tanpa menoleh pandangannya kearah Edward

__ADS_1


Edward yang mendengar kata ‘Tuan’ membuat ekspresi wajahnya sedikit menggelap. “Ya, taman itu hanya aku seorang yang tau. Ada apa? Apa kau ingin kesana lagi?” Edward melirik sekilas kearah Natasya yang mulai menoleh pandangannya kearahnya


Natasya mengangguk, “Ya, aku ingin kesana lain kali. Maka dari itu, aku meminta izin padamu”


“Tidak perlu meminta izin, kau bisa datang kapan saja dan aku juga siap untuk mengantarmu kesana.” Edward berkata dengan raut wajah yang datar


Natasya mengangguk paham, “Sepertinya taman itu juga cukup luas ya?”


“Bukan luas, tetapi sangat luas. Taman itu sebenarnya, masih ada didalam beberapa pohon yang menutupinya. Disana juga ada pohon besar tumbuh ditengah-tengah taman. Tetapi karna jaraknya cukup jauh dan ini juga agak sedikit gelap, jadi aku akan membawamu kesana lain kali untuk melihatnya.” Edward menjelaskan


Natasya terpaku dengan penjelasan itu, dirinya menyangka bahwa taman itu sudah luas tetapi ternyata Edward malah berkata bahwa taman itu lebih luas dari apa yang dipikirkannya. “Seberapa luas taman itu?”


Edward menggeleng, “Aku tidak pernah berniat untuk mengetahuinya”


“Bagaimana bisa? Bagaimana jika sebagaian taman itu, diakui oleh orang asing? Apa kau akan terima itu?” Natasya bertanya dengan penasaran


Edward terkekeh kecil, “Taman itu memang aku temukan secara tidak sengaja dan aku juga tidak mengetahui siapa pemiliknya. Jadi taman itu masih berlaku untuk orang yang menemukannya. Tidak peduli siapa yang menemukannya lebih dulu, yang terpenting semuanya bisa merasakan keindahan dari taman itu”


Natasya mengangguk paham, dirinya merasa beruntung bisa mengetahui taman itu. Benar-benar menakjubkan hingga membuat orang tidak bisa melupakannya. Dari banyaknya pepohonan disana saja sudah terlukis bahwa itu gerbang awal dimana masuknya kedalam taman itu.


“Apa kau orang yang pertama kali menemukan tempat itu?” Natasya bertanya sambil menatap Edward yang tengah fokus menyetir


Edward mengangkat bahunya, “Entah, aku tidak tau. Memangnya kenapa kau bertanya seperti itu?”


“Tidak ada, hanya ingin tau saja. Soalnya jika seseorang menemukan tempat yang indah pasti akan diberi nama sesuai dengan apa yang ditemukannya itu” jelas Natasya


Edward melirik sekilas, “Jadi kau bertanya, apa nama dari taman itu?”

__ADS_1


Natasya mengangguk mantap. “Ya, apa kau memberi taman itu sebuah nama?”


“Ya, taman itu adalah taman harapan dari sebuah ketenangan” jawab Edward sambil tersenyum


__ADS_2