Aku Masih Menunggumu

Aku Masih Menunggumu
Kasih sayang yang diperlihatkan didepan sahabatnya


__ADS_3

“Untuk apa kau melihatnya? Apa kau tidak pernah melihat seorang wanita sebelumnya?” Tanya Edward dengan ketus. Sedangkan jihon yang terciduk menatap Natasya hanya bisa berdecih kesal, “Tidak bisakah kau tidak perlu bicara seperti itu padaku? Aku hanya menatapnya lho.” Sahut jihon yang gak mau kalah.


Dan disisi lain, Arya yang melihat Natasya tengah tertidur di pangkuan Edward, membuat dirinya tanpa sadar tersenyum kecil. “Tidak kusangka, kalian akan sedekat ini” kata Arya yang membuat Edward dengan sontak menolehkan kepalanya kearah lelaki yang tengah duduk di sofa yang lain. “Kami tidak dekat! dia hanya meminjam pahaku untuk bantalnya saja. Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh!” jawab Edward dengan nada dinginnya.


“Tidak dekat? Cihk...konyol sekali!” cibir jihon dengan menampilkan ekspresi yang mengejek. “Apa maksud dari perkataanmu?!” tanya Edward yang menatap jihon dengan tatapan tajam. Sedangkan jihon yang tidak takut akan tatapan tersebut pun hanya bisa menatap kembali tatapan tersebut, lalu berkata “Kau sangat konyol!!...kau tidak mungkin melakukan hal yang merepotkan seperti ini, bahkan kau sendiri tidak akan membiarkan satu wanita pun menyentuhmu”


“Lalu apa urusannya denganmu?” Balas Edward yang tak mau kalah dengan perkataan jihon tadi. Sedangkan Arya yang masih disana hanya terdiam melihat kedua sahabatnya tengah beradu mulut didepan gadis yang tengah tertidur. “Itu berurusan denganku!! Masalahmu dengan keluarga MU saja, aku yang mengurusnya.” Sahut jihon dengan suara yang sedikit keras hingga membuat Natasya menggesekkan kepalanya di atas paha Edward.


Sebuah pergerakan yang terlihat merasa terganggu, membuat Edward langsung menempelkan jari telunjuknya didepan mulutnya. “Berhentilah berbicara keras, bodoh! Dia sedang tertidur. Apa kau ingin membangunkannya?” Kata Edward dengan suara yang pelan namun matanya menatap jihon dengan tatapan yang tajam. “Memangnya kenapa jika terbangun? Apa kau takut jika dia tahu, kalau kau membiarkan gadis itu tidur diatas paha mu?” Tanya jihon yang masih saja mengejek Edward.

__ADS_1


“Sudahlah hon, tidak perlu meledekanya lagi. Apa kau tidak takut jika semua pekerjaanmu, ditarik kembali olehnya lagi?” Sambung Arya yang mulai memisahkan keributan diantara dua lelaki ini. “Tidak, memangnya untuk apa aku takut?” jihon berkata sembari melirik kearah Edward “jika dia ingin menariknya kembali, maka tariklah. Aku juga tidak akan takut akan hal itu”


Edward yang mendengar jihon tidak memiliki rasa takut akan kehilangan pekerjaannya, membuat lelaki ini melipat kedua tangannya didada lalu mengangkat salah satu alisnya. Menatap jihon dengan tatapan yang merendah, “Kau tidak takut? Apa kau yakin?.... kehilangan pekerjaannya yang begitu penting dan jarang sekali orang bisa mendudukinya, apa kau rela?” tanya Edward.


“Tentu saja tidak, apa kau akan mengira jika aku akan rela kehilangan sebuah pekerjaan yang begitu langka?” Jawab jihon yang membuat Arya terlepas tertawa. “Apa yang kau tertawakan? Apa ada yang lucu dari perkataanku tadi?!” Tanya jihon yang beralih ke Arya. Sedangkan Arya yang terpergoki menertawakan jihon hanya mengayunkan tangannya setinggi dadanya, lalu berkata “Tidak, hanya tersedak ludahku sendiri”


“Alasan! Aku tahu, kau pasti tadi sedang menertawakanku kan?” tuduh jihon sambil menunjuk kearah Arya yang masih tertawa tanpa suara. “Berhentilah mentertawakanku, sialan!” bentak jihon dengan suara kencang.


Berjalan begitu kasar menuju pintu, sementara Arya masih terdiam disofa tanpa memiliki niatan untuk mengikuti jihon keluar dari ruangan Edward. Setelah terdengar suara pintu tertutup, serta kepergian jihon, Arya pun langsung membuka suaranya untuk membicarakan hal penting. “Hasilnya sudah keluar, dan semua datanya sudah bisa kau lihat secara langsung. Disana ada beberapa foto bukti serta keterangannya. Jadi tidak perlu khawatir jika ada yang bertanya akan keterangan foto tersebut.” Jelas Arya dengan nada yang terdengar serius.

__ADS_1


“Semua data? Apa kau sudah mengeceknya?” tanya Edward yang ikut serius dalam membicarakan hal itu. “Tidak, aku hanya menghitung beberapa jumlah dokumennya saja. Aku tidak pernah ingin tahu apa isi dari dokumen tersebut, jadi kau tenang saja.” Jawab Arya dengan sebuah anggukan. Sedangkan Edward hanya mengangguk paham tanpa berkata apapun.


Sedangkan Arya yang mendapati Edward yang terdiam sambil menatapnya dengan tatapan dinginnya, membuat lelaki itu kembali berkata “Satu hal yang harus kau ingat, dulu kau pernah berkata bahkan aku terlalu meremehkannya. Tapi asal kau tau, sekuat-kuatnya wanita pasti akan lemah jika itu berhubungan dengan orang yang dicintainya.” Kata Arya yang membuat suasana menjadi hening.


“Aku paham maksudmu, aku juga tidak akan pernah membiarkannya melakukan semuanya seorang diri” jawab Edward dengan nada dinginnya. Arya yang mendengar jawaban Edward, hanya mengangguk sembari beranjak dari duduknya, lalu berkata “Jika kau memang tau alasan yang sebenarnya, kenapa kau tidak memaafkannya?”


“Tidak semudah itu, aku juga tidak sepenuhnya bisa memaafkan wanita yang dulunya pernah mencelakai ibunda ku” jawab Edward yang mengerti maksud dari perkataan Arya. “Soal itu, bukankah dia sudah meminta maaf?” tanya Arya yang menatap Edward dengan tatapan terheran. “Ya, memang dia sudah meminta maaf. Tapi tidak dengan orang yang membuat rencana tersebut” jawab Edward dengan kerutan diantara dahinya.


“Kenapa kau tidak melaporkannya saja pada polisi?” Arya bertanya kembali dengan rasa penasaran.

__ADS_1


Sementara Edward yang mendengar hal itu hanya menggeleng tanpa menjawab apapun. Arya paham maksud dari jawaban fisik itu, jadi Arya hanya mengangguk sembari membalikkan tubuhnya lalu berjalan menuju pintu. Tidak melanjutkan kembali topik mereka, karna dirinya merasa sudah melampaui batas.


“Jika kau malam sedang senggang, maka datanglah ke restoran yang biasa kita kumpul! Ada banyak hal yang harus kita bicarakan disana. Dan jika kau mengajak gadis itu, maka ajaklah!” kata Arya saat berdiri didepan pintu yang terbuka.


__ADS_2