
Natasya memalingkan wajahnya lalu berdiri dari duduk untuk mematikan kompornya, ia Menganti sendok baru untuk mencicipinya kembali karna sendok sebelumnya terlempar saat mereka terjatuh tadi.
Disisi lain, Edward juga ikut bangun dari duduk nya untuk mengambil sendok yang terlempar tadi lalu menaruhnya di wastafel, setelah sudah lelaki itu berjalan menuju kursi makan yang kosong, duduk dengan santai.
Natasya yang melihat lelaki itu duduk disana pun hanya menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak menyangka bahwa dirinya akan mengingkari janjinya sendiri.
“ Sial, kenapa harus seperti ini sih?!! “
Natasya terus membatin dengan tangan yang sibuk menyiapkan makanan ke dalam mangkuk kecil, Edward yang sedang duduk menunggu pun tiba-tiba hpnya berbunyi hingga membuat gadis yang tadinya sibuk dengan pekerjaannya beralih menoleh kearahnya
Melihat lelaki itu sedang mengambil telponnya didalam saku celananya lalu mengangkatnya dengan mengubah ekspresi menjadi dingin. “Kenapa mah?” tanya Edward saat Telponnya dirasa telah menyambung
“kamu dimana nak? Ini dirumah ada Melisa dan juga Tante Lucia“ jawab bunda dari telpon “Lalu urusannya denganku apa?“ tanya Edward yang tak acuh, bunda yang mendengar perkataan Edward pun langsung memijat keningnya
Merasa pusing dengan sikap putranya selama ini, selalu tak acuh jika tunangannya datang kerumahnya. “Astaga Edward, kamu kok ngomongnya gitu sih? Bukannya kamu kemarin sudah bilang kalau kamu terima Melisa selama 3 hari dan jika kamu tidak memiliki perasaan maka kamu akan membatalkannya” kata bunda yang mengingat kejadian hari itu
Edward yang mendengar itu pun tanpa sadar memutar bola matanya dengan malas, Membicarakan tentang pertunangan itu membuatnya tidak mood saja. “Ya mah aku memang menerimanya, karna aku tidak ingin kau di ganggu lagi hanya karna permasalahan sepele ini” jawab Edward “Ini bukan masalah sepele nak, ini untuk persiapan kamu buat menikah. Jika kamu merasa tidak cocok maka kamu bisa bicara dengan Tante Lucia tapi jika kamu siap maka kamu harus menghargai Melisa” kata bunda yang menasehati
Edward hanya terdiam sambil memijat keningnya sendiri, sangat pusing jika memikirkan hal yang menurutnya tidak penting sementara Natasya yang melihat Edward seperti itu pun hanya terdiam dan memilih untuk menyiapkan makanan di meja makannya. “Aku gak siap karna aku tidak pernah mencintainya sejak dulu “ kata Edward dengan nada yakin “Aku sibuk, jadi aku tutup dulu” lanjut Edward sembari menutup telponnya
__ADS_1
Lelaki itu setelah menyelesaikan Telponnya, Edward mengusap wajahnya dengan kasar. Moodnya kini sedang tidak baik, Natasya yang sedang sibuk menyusun makanan di meja makan tepat depan lelaki itu pun berkata “Pergilah keluar sebentar! “ Edward yang mendengar itu pun langsung melirik kearah gadis yang ada didepannya ini
“Untuk apa?” tanya Edward yang terbingung, namun gadis itu tidak menjawab dan hanya berjalan menuju sudut ruangan, disana terdapat jendela besar. Gadis itu membukanya hingga udara malam masuk kedalam dapur, sedangkan Edward hanya terdiam sembari menghampiri Natasya yang tengah berdiri disana.
Saat berhenti disamping Natasya, Edward merasa angin dingin dari luar menghembus ke wajahnya, terdiam sejenak untuk menikmati udara dingin itu, tak lama Edward pun berkata “Apa maksudmu dari ini?” ‘Maksudku?’”Tidak ada, aku hanya menyuruhmu untuk menyegarkan pikiranmu saja” gumam serta jawaban Natasya kepada lelaki itu
“Menyegarkan pikiran?”
Edward pun menoleh ke samping tepat dimana gadis itu berdiri, terlihat wajah dinginnya sedang memandang ke arah luar dan angin yang terus berhembus hingga rambut yang dikuncirnya agak sedikit terangkat. Tak lama setelah memandang Natasya, Edward kembali menarik pandangannya kearah luar
Keduanya terdiam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, hanya ada suara angin yang terus berhembus dari sunyinya malam. Tak lama, Edward merasa canggung dengan kediaman mereka pun membuka suaranya untuk menghilangkan keheningan diantara mereka “Apa kau pernah bodoh dalam cinta?” tanya Edward yang membuat gadis disebelahnya ini melirik
Edward hanya mengangguk paham, karna perkataan Natasya tadi memang ada benarnya juga namun bukan itu maksudnya. “Kau sendiri bagaimana? Bukankah kau bilang kau sedang tidak menyukai ataupun mencintai seseorang” kata natasya sembari menoleh kearah lelaki yang berdiri tepat disebelahnya.
“Ya, aku memang tidak seseorang dan aku selalu Terpaksa untuk menerima wanita untuk menjadi tunanganku” jawab Edward sembari memejamkan matanya “Dunia perbisnisan ini sulit dimengerti, hanya karena untuk melancarkan kerja sama antar perusahaan, harusmereka rela menjodohkan putra-putri mereka yang hatinya tidak untuk satu sama yang lain. Jadi kalau kenyataan menurutmu pahit maka kamu jangan membuat dirimu lebih pahit” jelas natasya yang memandang langit malam
“Aku membuat kehidupanku pahit?”
“Tidak, kau ini hanya terus memaksa dirimu dan hatimu untuk menerima seseorang walau dihati terdalam kamu menolak semua itu. Jadi kalau boleh saran saja, kamu harus lebih membuat diri kamu sendiri bahagia diatas kenyataan yang pahit.” Kata Natasya “Contohnya? “ tanya Edward yang menoleh kearah Natasya
__ADS_1
“Jujur pada kenyataan jika hati dan diri kamu, belum bisa menerima seseorang untuk masuk kedalam kehidupan kamu. Memang itu masalah simple tapi kalau lihat-lihat itu selalu membuat kamu pusing dan gelisah. Bingung ingin melakukan apa, karna kau juga tidak ingin mempermalukan keluargamu hanya karna permasalahan kecil” jawab Natasya
Edward terdiam sejenak memikirkan semja perkataan Natasya, sedangkan gadis yang ada disebelahnya itu hanya melirik sekilas kearah Edward lalu menarik kembali pandangannya. Ia ikut terdiam untuk menunggu lelaki yang ada disebelahnya ini memikirkan hal itu dengan baik.
...🥀🕊️
...
...
...
Disisi lain, Arya dan Liana mulai merasa bosan karna menunggu Natasya keluar. “Nona Tasya kemana ya kok lama banget” kata Liana yang melihat sekeliling “Paling didapur, tadikan nona Tasya bilang kalau dia ingin membuatkan kita minuman” jawab Arya yang membuat Liana berdecih “Tapi gak bakal selama ini” bantah Liana
Arya yang melihat Liana begitu mengkhawatirkan Natasya, hanya bisa menghela nafasnya lalu berkata “Tuan muda saja tidak ada, entah kemana dia” Liana yang baru menyadari itu pun langsung tertegun lalu melihat sekeliling untuk mencari Edward “Oh iya ya, tuan kemana? Kok aku baru sadar sih “ jawab Liana
“kaunya saja yang terlalu memikirkan, Nona Tasya” cibir Arya sembari beranjak dari duduknya “eh..mau Kemana?” tanya Liana sambil memegang tangan Arya “Cari tuan muda sama nona Tasya” jawab Arya sambil memutar bola matanya “Memangnya kau tau, Mereka dimana?” tanya Liana lagi “Paling didapur” jawab Arya sembari melepaskan genggaman tangan Liana
Lelaki itu berjalan Pergi mencari ruangan dapur, sementara Liana mengikuti Arya dari belakang. Tak beberapa lama, Arya pun menemukan ruangan yang lampunya menyala, lalu membuka pintunya perlahan dan seketika ia tertegun melihat sesuatu yang ada didepannya.
__ADS_1
Liana yang terbingung dengan sikap Arya pun langsung mengikuti arah pandang Arya dan ikut terkejut juga saat melihat apa yang dilihat oleh Arya.