
“Hn..baiklah, nanti aku yang akan meminta sendiri kepada mereka.” Kata Edward dengan manik matanya tengah melirik kearah Arya.
Sesampainya di ruang khusus tamu, Edward melihat seorang lelaki tengah duduk di sofa sambil memainkan hpnya. Disisi lain, lelaki yang menyadari kedatangan Edward pun langsung mengangkat kepalanya serta meletakkan hpnya diatas meja. Lelaki itu tersenyum saat melihat Edward tengah berjalan menghampirinya.
“Sepertinya, bertemu denganmu itu sama seperti bertemu dengan orang penting ya?” Cibir lelaki itu
Edward yang mendengar cibiran dari lelaki itu, hanya berkata “Tidak juga! Lagipula ada urusan apa kau datang kemari?” Edward duduk di sofa sebrang lelaki itu. “Tidak ada sih, aku hanya ingin berkunjung menemui sahabatku saja. Apa kau keberatan?” Tanya lelaki itu
“Tidak” Jawab singkat Edward yang memalingkan wajahnya kearah lain
Lelaki itu melihat Edward tampak tidak senang dengan kedatangannya pun memutuskan untuk membicarakan tujuannya datang kesini. “Aku kesini, ada yang ingin aku bicarakan denganmu” Lelaki itu berkata yang membuat Edward kembali menatapnya
“Kita ini, sudah kenal berapa tahun si?” Tanya lelaki itu dengan memancing. “Sekitar 5 tahun’an” jawab Edward yang meladeni perkataan lelaki ini. “Hm...sudah cukup lama ya, tidak terasa.” Gumam lelaki itu sambil memegang dagunya
“Memangnya hubungan dengan kau ingin bicara denganku apa?” Tanya Edward yang tidak ingin bertele-tele.
Lelaki itu yang mendengar perkataan Edward pun menghela nafasnya, “Kau ini memang tidak mengerti maksudku sejak awal ya” Edward melirik, “Tentu saja aku mengerti, kau datang kesini untuk menanyakan beberapa hal serta menanyakan siapa wanita yang kubawa semalam kan?”
Lelaki itu terpaku, “B-bagaimana kau tau itu?”
“Dari sejak kau meminta waktu untuk bicara semalam, aku sudah bisa menebaknya. Lagipula kau ini sudah pergi keluar negeri untuk beberapa bulan, jadi wajar saja jika banyak hal yang tidak jau ketahui dan ingin kau tanyakan padaku” jelas Edward
Lelaki yang mendengar perkataan Edward pun dengan sontak tertawa serta menepuk tangannya untuk beberapa kali. “Wah...ternyata kau ini pintar juga ya, tidak kusangka selama aku pergi kau malah semakin hebat!”
__ADS_1
“Tidak juga. Lagipula, apa yang ingin kau tanyakan terlebih dulu padaku?” Tanya Edward sambil menyandarkan tubuhnya disandaran sofa. “Saat aku pergi *****, aku mendengar kabar bahwa kau memutuskan hubunganmu dengan keluarga dari putri besar MU. Apa itu benar?” lelaki itu mulai mengajukan pertanyaan
Edward Mengangguk, “Ya benar”
“Apa alasannya? Bukankah spek dari putri besar keluarga MU itu adalah spek wanita yang banyak diincar oleh para lelaki. Kau beruntung bisa mendapatkannya, tetapi kenapa kau malah memutuskan hubunganmu dengannya?” protes lelaki itu dengan perasaan yang heran. “Karna aku tidak menyukainya” jawab singkat Edward yang acuh tak acuh
“Tidak menyukainya, apa yang tidak kau sukai dari wanita yang sudah sempurna itu?” tanya lelaki itu lagi
Edward menghela nafas, “Manusia itu tidak ada yang sempurna, pasti memiliki kekurangan di setiap sisinya. Begitu pula dengannya, tidak akan pernah sempurna sepenuhnya.” “Astaga, Edward! Apa yang tidak sempurna dari wanita itu? Wajahnya sudah cantik, sikapnya juga baik dan anggun, dia juga keturunan langsung dari keluarga MU yang dikenal cukup kaya. Lalu apa yang tidak sempurna Dimatamu itu?” keluh lelaki itu
“Hatinya!” jawab singkat Edward yang membuat lelaki itu dengan sontak menatap Edward dengan kebingungan. “A-apa maksudmu?” Tanya lelaki itu
“Aku akui, wanita itu memang secara fisik bisa dibilang sempurna. Namun sayangnya, hatinya tidak sesempurna fisik yang ia miliki” jelas Edward yang membuat lelaki itu semakin di ambang kebingungan. “Maksudmu? Putri besar MU adalah wanita berhati jahat?” tebak lelaki itu
Edward menggeleng, “Tidak perlu menebak secara asal. Lagipula semuanya akan kau ketahui setelah beberapa hari kedepan” “Beberapa hari kedepan? Memangnya apa kau mengetahui apa yang akan terjadi dimasa depan nantinya?” Cibir lelaki itu
Lelaki yang merasa sudah cukup dengan penjelasan Edward pun mengangguk, lalu kembali mengajukan pertanyaan yang lain. “Lalu bagaimana dengan wanita yang semalam?”
“Wanita semalam adalah sekretaris tambahanku. Namanya Tasya, dan dia adalah wanita yang pernah aku ceritakan kau sebelumnya” jawab Edward tanpa menutupi apapun dari lelaki ini. “Wanita yang pernah kau ceritakan? Bukankah kalian sudah lama sekali ya? Tetapi kenapa sekarang terlihat seperti orang asing yang bersikap seperti orang lama?”
“Ya karna aku belum memberitahu kebenarannya” Jawab Edward sambil memalingkan wajahnya.
Lelaki itu terdiam, ia pikir perkataan Edward sebelumnya memang ada benarnya juga. Semua manusia itu memang tidak ada yang sempurna, karna disetiap kelebihan pasti akan ada kekurangan. Sama seperti Edward yang menurutnya, lelaki hebat namun dalam hal ini dia tidak lebih dari lelaki pengecut.
__ADS_1
“Lalu kau ingin sampai kapan seperti ini? Apa kau akan terus menjadi orang lain?” Tanya lelaki itu dengan mode yang serius. “Entahlah, aku tidak tau itu. Disaat ini aku hanya memikirkan untuk menyembuhkan dirinya terlebih dulu. Setelah sudah, barulah aku beri semua penjelasanku” jawab Edward dengan suara yang pelan
Lelaki yang mendengar itu pun mengangguk, mungkin memang saat ini harus seperti ini dulu. Waktu sekarang adalah waktu yang terlalu cepat untuk melakukan hal seperti memberi penjelasan yang telah lalu. Bahkan jika diungkip kembali, hanya bisa membuat wanita itu semakin terpuruk dalam masalahnya.
“Baiklah jika kau memang maunya seperti itu, aku tidak bisa melarangmu” Kata lelaki itu
...🥀🕊️
...
Disisi lain, Natasya yang baru terbangun dari tidurnya pun terkejut dengan pantulan cahaya matanya yang menebus dari jendela kamarnya. Natasya bahkan lebih terkejut saat melihat jam yang kini sudah menunjukan pukul 08.30
“Sial! Aku terlambat!!”
Natasya yang teringat dengan pekerjaannya pun langsung beranjak dari ranjangnya dan pergi ke kamar mandi. Namun saat dirinya ingin membuka pakaiannya, Natasya terkejut melihat perban yang melingkar di lehernya. Entah siapa yang melakukannya, Natasya tidak tau.
Bahkan dirinya saja, tidak mengingat apa yang semalam ia lakukan.
“Perban ini? Siapa yang melakukannya?”
Natasya terus terdiam sembari meraba-raba perban tersebut. Natasya yang berniat mandi pun langsung keluar dari kamar mandi menuju dapurnya. Saat gadis itu baru duduk di kursi meja makan, manik mata gadis itu langsung dibuat tertuju oleh bungkusan plastik yang berada diatas meja makannya.
Karna penasaran pun, Natasya langsung meraih bungkusan tersebut dan membukanya. Takut barang milik orang, jadi Natasya berniat memeriksanya terlebih dulu.
__ADS_1
Saat dibuka bungkusan tersebut, terdapat sebuah surat dikertas dengan bertulisan.
“Ini sarapan untukmu! Makanlah sebelum datang ke kantor.”