
Edward yang tengah sibuk dengan beberapa berkas penting di tangannya, membuat hatinya semakin dibuat tidak nyaman karna Arya yang belum kunjung datang untuk memberikan informasi tentang Natasya dan bahkan ini sudah masuk jam makan siang. Edward belum makan apapun sejak kemarin hingga sekarang.
Entah apa yang membuat nafsu makannya hilang, tetapi penampilan lelaki itu memang sudah terlihat pucat.
Tok...tok...tok...
“Permisi tuan muda, apakah anda didalam?” Suara ketukan serta suara penjaga terdengar dari balik pintu, yang membuat Edward menatap pintu tersebut dengan tatapan yang dingin. “hn..” sahut sekilas Edward dari dalam yang membuat seseorang dibalik pintu tersebut kembali bersuara. “Maaf tuan, ini ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda. Apakah tuan memiliki waktu untuk bertemu?”
Edward memutarkan bola matanya dengan malas, sebenarnya ia terlalu malas untuk berbicara dengan seseorang disaat hatinya terasa buruk. Apa lagi seseorang itu telah mengganggunya di waktu kerja. “Tidak! Suruh mereka pulang, aku tidak memiliki banyak waktu untuk bicara!”
“Tapi tuan, mereka terus memaksa untuk bertemu dengan anda. Katanya mereka ingin bicara tentang seorang gadis yang beberapa bulan lalu pindah kesini” jelas singkat suara itu yang membuat Edward dengan sontak mengangkat kepalanya, menatap pintunya itu dengan terkejut.
Apa dia bilang? Mereka ingin bertemu dengannya, untuk berbicara tentang gadis yang beberapa bulan lalu pindah kesini? Siapa? Ia tidak tahu. Yang ia tahu, hanyalah Natasya. Gadis yang pindah ke perusahaan ini beberapa bulan yang lalu.
Tok...tok...tok...
“Tuan?” Panggil suara itu lagi saat tidak mendapati respon apapun dari Edward.
Tidak mendapatkan jawaban lagi, penjaga itu membalikkan tubuhnya menghadap kearah 2 wanita yang tengah berumur sekitar 40 tahun. Mereka memang cantik, namun salah satu dari mereka membuatnya bergidik merinding saat melihat raut wajahnya yang datar. “Maaf nona, sepertinya tuan muda kami tidak memiliki waktu untuk bertemu. Bisakah lain kali saja mereka datang kesini?”
__ADS_1
“Tidak! Aku butuh sekarang. Kami butuh bertemu dengan tuanmu sekarang” tolak wakita itu dengan nada yang keras namun raut wajah dari wanita itu terlihat cemas. “Maaf nona, tuan muda kami sedang sibuk jadi tidak memiliki waktu untuk bicara. Mohon kerjasamanya nona” jawab penjaga itu dengan pelan, tetapi terdengar tegas.
“Apa sesulit itu bicar...” Salah satu wanita yang lain, merentangkan salah satu tangannya saat melihat temannya ingin melangkah maju kearah penjaga itu. “Cukup stell, tidak perlu dipaksa! Ini masih jam kerja, kita tidak bisa berlama-lama disini.”
Wanita yang ingin menerjang penjaga itu langsung dengan sontak menoleh kepalanya kearah wanita datar itu. Menatapnya dengan tatapan tidak percaya. “Kita tidak bisa pulang begitu saja. Kita sudah jauh-jauh datang dari sana ke sini untuk mencarinya. Apa kau akan pergi begitu saja, saat lelaki itu tidak memiliki waktu untuk bicara?”
“Memang tidak, tapi kita juga tidak bisa mengganggu jam kerjanya. Dia seorang lelaki penting di perusahaan ini, dan pasti jam kerjanya juga pasti lebih padat. Jadi lain kali saja kita bertemu dengannya” jawab wanita itu dengan ekspresi datarnya. Wanita yang lain menggeleng, “Tidak! Bukan ini yang akan kita lakukan, nan!”
Srikk..
Suara pintu terbuka, menghentikan pembicaraan mereka dan membuat semua pandangan mereka tertuju pada pintu yang terbuka tersebut. Menampilkan seorang lelaki dengan jas hitamnya yang rapih, raut wajah yang dingin serta aura yang mengerikan.
Semua orang disana tidak bisa tidak bergidik merinding saat merasakan aura itu, namun berbeda dengan wanita datar ini. Dia tampak tenang saat melihat lelaki itu keluar dengan kondisi tubuh yang sedikit lemah.
Edward yang mendengar perkataan penjaga itu hanya terdiam, namun manik matanya tertuju kearah wanita datar itu. Matanya Edward seketika terkejut hingga membuat wanita datar itu sadar akan perhatian Edward padanya. ‘Tuan muda besar Edward, sang penguasa dunia perbisnisan?’ batin wanita itu saat melihat penampilan Edward.
‘Tante Kinan? Dia disini? Sedang apa?’
“Tuan muda Chen, maaf mengganggu waktu kerjamu.” Sapa wanita datar itu yang sedikit menunjukan sedikit senyuman diwajahnya. Sementara Edward hanya membalasnya dengan sebuah anggukan kepala. “Kedatangan kami kesini, ingin bicara dengan anda sebentar. Apakah anda berkenan untuk memberikan sedikit waktu untuk kami?” wanita itu berkata lagi dengan nada sopannya.
__ADS_1
“hn..” jawab sekilas Edward sembari membalikkan tubuhnya kearah pintu. Berjalan masuk kedalam yang diikuti oleh ke2 wanita itu. Sementara penjaga tadi, kembali bertugas di tempat sebelumnya.
Didalam ruangan.
Edward duduk di meja kerjanya, sementara 2 wanita tadi berdiri didepan nya dengan ekspresi yang sama seperti Natasya, saat pertama kali masuk kedalam ruangannya. Ekspresi terkejut dan terkagum dengan ruangan tersebut membuat keduanya lupa sesaat.
Tak lama, wanita datar memalingkan pandangannya kearah Edward yang tengah duduk santai di meja kerjanya. Lelaki itu tampak dingin, bahkan dinginnya membuat ia terasa seperti dikutub es. Namun disisi wanita datar terus memandang Edward dengan tatapan yang dapat dijelaskan oleh hati Edward itu sendiri.
‘Dia kembali!!’
Apanya kembali? Dia memang telah pulang, namun sebuah dalam dirinya berubah! Apakah aku masih bisa menaruh harapan besar padanya lagi? Atau memang untuk saat ini, aku memang tidak bisa untuk kembali mempercayainya lagi.
Tapi hanya dia harapan anak itu, hanya dia dan sahabat lamanya yang tengah pergi. Jika ia tidak bisa berharap pada sahabatnya dan dirinya sendiri, maka hanya lelaki ini yang bisa membuat harapan kembali.
“Jadi apa yang kalian ingin bicarakan?” tanya Edward dengan nada dingin membuat seluruh ruangan terasa menjadi suram. Kedua wanita itu saling bertukar pandang, lalu perlahan kembali menatap Edward dengan wajah yang ragu. “Aku datang kesini ingin bertanya tentang gadis berumur sekitar 23 tahun bertukar pindah diperusahaan ini, apakah kau mengetahuinya?”
Edward mengangguk, “Ya aku mengetahui. Ada urusan apa kalian mencarinya?”
“Dimana dia sekarang?! Aku butuh bicara dengannya” wanita datar itu langsung spontan berkata dengan nada tidak sabar. Ia benar-benar tidak tahan. “Jika kau membutuhkannya sekarang, maka tidak bisa.” Jawab Edward sembari melipat tangannya didepan dada.
__ADS_1
Wanita datar itu menyipitkan matanya, menatap Edward dengan tatapan tajam. “Kenapa?”
“Dia tidak datang ke kantor dari beberapa hari lalu, dan aku tidak mengetahui kemana gadis pergi. Jika memang kau mempunyai urusan dengannya, kenapa kau tidak menghubunginya sendiri?” Edward menatap wanita datar itu dengan tertarik.