
Saat di perjalanan, suasana di dalam mobil sangat sepi dan sunyi karna gadis itu tidak menyalahkan music untuk menghilangkan keheningan malam. Tak lama, diperjalanan gadis itu memutuskan untuk pergi ke restoran sebentar untuk memperbaiki moodnya.
Sesampainya di restoran, natasya berjalan masuk kedalam seorang diri, disana banyak sekali orang yang datang dengan pasangannya namun Natasya tidak mempedulikan itu semua. Berjalan masuk kedalam lalu dihentikan oleh suara yang datang dari sudut ruangan restoran.
“ Bu Tasya “
Suara itu membuat natasya menoleh kearah suara itu, Natasya melihat ada Liana yang tengah berlari kecil menghampirinya dengan senyuman diwajahnya. “ Bu Tasya, kau kesini juga? “ tanya Liana saat berdiri didepan gadis itu
Natasya hanya mengangguk sebagai jawaban karna ia terlalu malas untuk berkata karna moodnya yang sedang tidak bagus, “ Wah, kebetulan sekali aku juga sedang makan disini. Bagaimana jika Bu Tasya bareng sama saya aja “ tawar Liana yang tulus
Lagi-lagi gadis itu hanya mengangguk sebagai responnya, Liana yang melihat itu hanya tersenyum lalu mengajak Natasya untuk pergi ketempat duduk yang sudah ia pesan. Duduk di tempat yang sudah disediakan lalu mereka didatangi oleh pelayan restoran. “ Malam nona, ingin pesan apa ya? “ Tanya wanita itu dengan ramah menyerahkan menu
Liana mengambil menu itu lalu memperlihatkannya kepada gadis yang tengah duduk didepannya, membiarkan Natasya juga melihatnya. “ Bu Tasya ingin memesan apa? Hari ini aku traktir deh “ kata Liana “ Aku terserah padamu, jika perlu samakan saja dengan pilihanmu “ jawab Natasya yang menyerahkan semua pilihan kepada Liana
__ADS_1
Liana yang mendengar itu langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu berpikir sejenak untuk menentukan pilihan yang pas untuk dirinya dan natasya. Tak lama kemudian, Liana pun menunjukkan apa yang ia pesan untuk dirinya dan juga Natasya. “ Saya pesan ini dan ini saja ya “ kata Liana
Pelayan wanita itu pun mencatat apa yang dipesan oleh Liana, setelah selesai barulah ia beralih ke Natasya dan bertanya apa yang akan ia pesan. “ lalu bagaimana dengan nona? “ tanya wanita itu sembari menatap Natasya, sementara gadis yang ditatap hanya terdiam lalu berkata “ samakan saja “ pelayan itu mengangguk lalu meminta mereka Untuk menunggu sebentar dan ia berjalan meninggalkan keduanya
Melihat pelayan itu sudah pergi, Liana pun meminta maaf kepada Natasya atas pilihannya yang takutnya tidak sesuai dengan seleranya. “ Maaf Bu, jika tadi saya memesan nya tidak sesuai dengan selera Bu Tasya “ kata Liana dengan pandangan yang menunduk “ Tidak masalah, lagipula itu saya yang menyuruh kamu untuk samakan “ jawab Natasya yang tidak mempermasalahkan itu
Liana yang mendengar itu hanya terdiam ditambah lagi natasya yang malas membuka pembicaraan, jadi disana hanya ada keheningan diantara mereka hingga hidangan yang mereka pesan datang. “ ini pesanannya nona “ kata pelayan itu sembari menaruh piring yang berisi makanan ke atas meja milik natasya dan Liana
“ Ah..tidak apa-apa, terimakasih ya “ jawab Liana yang menanggapinya dengan ramah, pelayan itu hanya mengangguk sambil tersenyum lalu berjalan meninggalkan mereka untuk melayani yang lain. Beberapa menit kemudian, Natasya dan Liana selesai makan. Mereka berjalan Keluar dari restoran setelah membayar itu semua, saat diparkiran Natasya melihat bahwa Liana datang kesini tidak menggunakan kendaraan pribadi.
Liana yang takut Natasya marah pun hanya bisa pasrah menuruti semua perkataan gadis yang ada dihadapannya ini. Memasuki mobil lalu duduk di kursi penumpang sebelah supir sedangkan Natasya yang menyetir. Didalam mobil, gadis itu menyalahkan beberapa Music untuk menghilangkan keheningan malam
“ Maaf Bu, saya jadi ngerepotin “ kata Liana yang gelisah, gadis disebelahnya hanya berdehem sebagai jawaban bahwa semua itu tidak masalah. Selama perjalanan mereka hanya terdiam karna memang tidak ada satupun yang membuka suaranya untuk mengajak ngobrol satu sama yang lain.
__ADS_1
Tak lama kemudian, mereka pun sampai dirumah Liana. Rumah wanita itu cukup besar namun tidak bisa dibilang sangat besar, ia hanya terdapat 2 lantai saja dan ukuran luasnya juga tidak terlalu besar. Keduanya turun dari mobil, Liana yang sudah diantar oleh Natasya pun mengucapkan terimakasih kepada atasannya ini
“ terimakasih atas semuanya Bu “ kata Liana yang membungkuk sedikit, namun Natasya hanya mengangguk sebagai responnya kepada Liana. Merasa sudah selesai ia pun beranjak masuk kedalam mobil untuk kembali ke apartemennya namun saat ia ingin melangkah, gadis itu dikejutkan oleh suara pertengkaran
Mencoba mencari sekeliling untuk melihat siapa yang sedang bertengkar, namun tidak ketemu. Tetapi jika diperjelas lagi, asal suaranya datang dari dalam rumah Liana. Gadis itu menatap kearah pintu masuk lalu beralih ke Liana yang tengah menunduk kepalanya sambil meremas ujung bajunya. Entah apa yang membuat wanita ini melakukan yang seperti itu.
Terdiam sejenak, menatap Liana lalu menarik wanita itu masuk kedalam mobilnya hingga wanita yang merasa tertarik pun langsung tertegun. “ E-eh Bu Tasya? “ kata Liana yang terkejut, sedangkan Natasya hanya terdiam lalu menjalan kan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Liana yang tidak mengerti apa yang terjadi pun langsung bertanya kepada gadis yang tengah menyetir dengan ekspresi wajah dingin nya.
“ Bu Tasya, kita mau kemana? Bu jangan buru-buru! Bahaya “
“ Bu, ada apa denganmu? Kau ingin bawa aku kemana? “
Liana terus bertanya kepada natasya walaupun ia tahu jika semua perkataannya tidak akan di tanggapi sedikitpun olehnya, Liana yang tidak mendapatkan jawaban dari natasya pun akhirnya hanya terdiam pasrah dan mengikuti kemana gadis ini akan membawanya pergi. Sedangkan natasya menyetir dengan kecepatan tinggi
__ADS_1
Membuat wanita yang disebelahnya ketakutan, “ Buu... pelan-pelan Bu! Saya takut, jangan kenceng-kenceng. Bahaya “ teriak Liana sambil memejamkan matanya namun Natasya lagi-lagi hanya terdiam, fokus dengan jalanan agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
Natasya, entah kenapa merasa tidak nyaman saat mendengar pertengkaran Karna itu membuatnya mengingat kembali kejadian yang dulu ia pernah alami