
Edward yang mendengar suara jihon pun hendak beranjak dari tempat itu untuk menemuinya, namun saat ia ingin melangkahkan kakinya, seketika kakinya terhenti serta kepalanya menoleh kearah Natasya yang tengah terdiam dengan ekspresi datarnya. “Kau masuklah ke mobil duluan, aku ingin kesana sebentar” Edward berkata sambil mengelus wajah Natasya
Natasya mengangguk, “hn..pergilah! Aku akan menunggumu didalam”
Selesai menyelesaikan perkataannya, Natasya pun langsung masuk kedalam mobil Edward, sedangkan Edward hanya terdiam menunggu Natasya untuk masuk dan barulah dirinya berjalan menghampiri jihon yang tengah berdiri ditengah-tengah parkiran untuk mencarinya.
Disisi lain jihon yang menyadari kedatangan Edward pun menolehkan kepalanya kearah datangnya lelaki dingin itu. Wajahnya tampak kaku dan bahkan auranya cukup menyeramkan. Apakah lelaki ini tidak bisa satu hari untuk tidak bersikap seperti ini? Kurasa tidak.
“Darimana saja kau?” Tanya jihon saat mendapati Edward tengah berdiri di depannya. “Tidak ada, ada apa kau mencariku sampai kesini?” Edward berkata sambil menatap jihon dengan dingin. “Tidak ada, hanya ingin bicara sebentar denganmu” jawab jihon
Edward yang mendengar itu pun manik matanya seketika melirik kearah mobil lalu berkata, “Untuk malam ini kita bisa bicara dulu, tapi aku akan luangkan waktu untukmu nantinya”
“Tidak bisa sekarang? Memangnya kau akan kembali lebih dulu?” Tanya jihon yang hanya diangguki oleh Edward sebagai jawaban “Tapi acara ini belum selesai, apa tidak masalah jika kau meninggalkannya?”
“Tidak perlu memikirkan masalah itu, aku akan membereskannya nanti.” Edward berkata sembari membalikan tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan jihon yang masih terdiam ditempat.
“Besok aku akan berkunjung ke kantor mu!!” Teriak jihon dari belakang Edward.
“hm... datanglah! Aku akan menyambutmu besok”
Edward pun pergi menjauh dan masuk kedalam mobil sport hitam miliknya, didalam ada Natasya yang tengah memainkan hpnya dengan tenang. Saat dirinya menutup pintu mobil, barulah gadis itu menolehkan kepalanya kesamping. “Sudah?”
Edward mengangguk, “Sudah. Maaf membuatmu menunggu lama”
“Tidak masalah” Jawab Natasya yang kembali meletakan hp didalam saku celananya. Sedangkan Edward sendiri mulai menyalahkan mobilnya lalu menjalankannya pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Selama di perjalanan Natasya masih saja diam, tidak membuka suaranya untuk menghilangkan keheningan diantara mereka. Hingga akhirnya Edward memutarkan lagu di mobilnya. Music itu adalah lagu kesukaan Edward dan Natasya, mereka menyukai musik yang sama, jadi keduanya saling menikmati musik itu selama perjalanan.
Karna ini sudah malam Edward pun mengantar Natasya terlebih dahulu, namun saat Edward menghentikan mobilnya di parkiran apartemen Natasya, lelaki itu menggerakkan tubuhnya kesamping lalu berkata, “Tasya, sudah sampai! Maaf aku tidak bisa mengantarmu sampai keda..”
Perkataan Edward seketika berhenti, saat melihat Natasya telah tertidur disana. Wajah terlelapnya membuat dirinya terlihat begitu cantik, tidak ada sebutan gadis dingin saat Natasya tertidur.
‘Ahh... Dasar tukang tidur!’
Edward tersenyum sambil membuka pintu mobil lalu keluar dari sana. Kakinya juga melangkah ke pintu salah satu mobil, lalu membukanya. Terlihat seorang gadis tengah tertidur disana dengan wajah damainya.
Edward menghela nafas berat, lalu dengan perlahan mengangkat tubuh mungil Natasya. Setelah tubuh Natasya berada di dalam gendongan Edward, lelaki itu pun berjalan masuk kedalam apartemen tersebut.
Sesampainya di sana, Edward langsung membawa Natasya ke dalam kamar dan meletakannya diatas ranjang. Saat terdiam memandang Natasya, Edward teringat akan bekas kemerahan pada pergelangan tangan Natasya. Dengan cepat, lelaki itu duduk ditepi ranjang lalu mengangkat tangan Natasya untuk melihat bekas kemerahan itu.
Bekas kemerahan yang terdapat di pergelangan tangan Natasya memang mulai memudar, dan itu membuat Edward menghela nafas lega. Namun tidak sampai situ, manik mata Edward seketika dibuat tertuju dengan bekas kemerahan yang sama, namun itu berada di leher Natasya.
Lelaki ini sangat membenci seseorang yang telah menyakiti Natasya tanpa alasan yang jelas, dan bahkan luka sekecil apapun, pasti ia akan perhitungkan nantinya.
‘Sejak kapan ada luka ini, kenapa sebelumnya aku tidak melihatnya ya?’
Edward yang tidak ingin terlelap dengan emosi pun langsung beranjak dari duduknya untuk berjalan keluar kamar Natasya. Tak lama, lelaki itu kembali dengan membawa kotak P3K ditangannya serta kain bersih.
Edward meletakan kotak P3K itu diatas meja serta kain bersih, lelaki itu juga kembali duduk di tepi ranjang lalu terdiam sejenak sambil memperhatikan luka dan bekas kemerahan yang ada di leher Natasya. “Tidak mungkin wanita gila ini bisa kalah dengan lelaki tadi! Apa terjadi sesuatu sebelum perkelahian mereka?”
Edward yang tengah berpikir pun tangannya tidak tinggal diam, ia mengambil beberapa obat serta perban untuk menutupi luka yang terdapat dileher Natasya. Entah sakit atau tidak, tetapi sesekali Edward melihat Natasya mengerutkan keningnya saat ia mengolesi obat pada lukanya tersebut.
__ADS_1
Karna tidak ingin menyakiti, Edward langsung menutupi luka Natasya dengan perban serta membersihkan wajah Natasya dengan kain bersih itu.
“Tidurlah dengan nyenyak! Sisanya biar jadi urusanku”
Edward memberi kecupan manis di kening Natasya, lalu tersenyum setelah itu. Edward yang merasa sudah cukup pun langsung beranjak dari duduknya lalu keluar dari kamar Natasya. Lelaki itu juga sudah menyiapkan beberapa makanan instan untuk sarapan pagi Natasya.
Jadi saat gadis itu terbangun, maka ia hanya perlu memasaknya sebentar.
...🥀🕊️
...
Keesokan harinya, Edward yang tengah fokus dengan berkas penting yang ada ditangannya pun seketika melirikkan matanya, saat terdengar suara ketukan dari balik pintu.
Tok..tok..tok
“Permisi tuan besar, tamu anda pagi ini sudah datang. Dan dia sedang menunggumu di ruang tunggu khusus tamu penting”
Suara ketukan dilanjut suara Arya pun membuat Edward semakin menatap pintu dengan tatapan dinginnya. Tak lama, Edward pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu kaca. Tangannya meraih gagang pintu kaca tersebut, lalu membukanya. Terlihat ada seorang lelaki tengah berdiri didepan pintu dengan kepala yang sedikit menunduk.
Edward yang melihat itu hanya melirik sekilas lalu berkata, “Apa dia sudah datang?” “Sudah tuan. Tamu anda sudah menunggu anda di ruang khusus tamu” Arya menjawab dengan kepala yang masih menunduk. Edward yang mendengar jawaban Arya pun mengangguk, “Baik, aku akan kesana”
Arya terdiam sampai Edward melangkahkan kakinya, barulah ia mengikutinya dari belakang. Arya juga tengah membawa map besar ditangannya seperti berkas laporan penting.
“Tugas yang kuberikan semalam apa kau sudah mendapatkan laporannya?” Edward bertanya disela-sela jalan mereka.
__ADS_1
Arya terdiam sejenak, “Sudah tuan, tapi laporan tersebut masih ditangan pihak sana. Jadi saya belum mendapatkannya pagi ini”