
Edward melihat seorang wanita dengan gaun pengantin berwarna putih tengah tergeletak dilantai dengan tubuh yang penuh dengan luka. Ia tidak melihat, siapa wanita itu karna posisi wanita yang terkurap meringkuk dan keadaan ruangan yang gelap. Awalnya Edward ragu untuk mendekati itu, namun entah kenapa rasa sakit yang terus menyelimuti hatinya membuat ia dengan menggerakkan kakinya.
Berjalan kearah wanita itu dengan perlahan. Baru saja hendak sampai, Edward lagi-lagi kejutkan oleh kelopak bunga mawar yang berserakan di lantai. Kelopak itu sangat banyak, hampir mengelilingi tubuh wanita itu. Edward yang semakin dibikin penasaran pun langsung menurunkan tubuhnya, dengan pelan-pelan tangan besar Edward meraih tubuh wanita itu.
Membalikkan posisi tubuhnya, agar ia dapat melihat siapa wanita itu sebenarnya.
Dan benar saja, mata Edward langsung terbelalak terkejut saat melihat wajah wanita itu sangat mirip dengan seseorang yang ia cari. “N-natasya?!” Suara kecil dengan penuh gemetar Edward menyebutkan nama dari wanita itu. Hati dan tubuhnya terasa sakit, bahkan segenap kekuatannya menghilang saat melihat wanita yang ia cari tengah berada disini dengan tubuh yang penuh luka.
Edward yang tidak tenggelam dalam kesedihannya pun langsung melepaskan jas hitamnya. Menutup tubuh Natasya yang penuh luka, lalu mengangkatnya dengan perlahan. Menggendong serta memeluknya. Hati yang keras, dingin kini mencair saat Edward mendapati sesuatu yang tidak ia inginkan selama ini.
Edward berdiri sembari mengangkat tubuh Natasya, melihat sekeliling ruangan yang kotor dan sangat gelap membuat Edward memendam amarahnya. Ia benar-benar membenci Yudha, dan ia bersumpah akan meminta semua pertanggungjawabannya nanti. Saat hendak keluar dari ruangan, manik mata Edward seketika langsung tertuju pada sebuah foto yang terkena sinar bulan masuk dari jendela.
Disana terdapat 2 orang gadis dengan wajah yang tersenyum ceria, wajah mereka tampak mirip. Bahkan sangat mirip. Edward yang melihat itu seketika mengerutkan keningnya, menatap foto itu dengan lekat. Salah satu dari 2 gadis itu, adalah Natasya. Namun Edward tidak tahu siapa gadis yang bersama dengan Natasya didalam foto itu.
Mereka tampak mirip, mungkin jika orang sekilas melihat foto tersebut akan menyangka bahwa itu adalah orang sama. Namun di pandangan Edward, 2 gadis yang berwajah mirip itu sangat berbeda. “Siapa dia? Kenapa wajahnya sangat mirip?” mata Edward sekilas beralih ke Natasya yang berada di gendongannya.
__ADS_1
Ya...wajah itu sangat mirip, tapi siapa dia? Kenapa ia tidak tahu tentang gadis itu?
Edward yang tenggelam dalam pertanyaan pun langsung tersadar saat mendengar beberapa langkah kaki datang menghampiri ruangan mereka. Edward panik, namun ia terjebak diruangan itu. Tidak jalan, dan bahkan ia tidak bisa keluar dari jendela karena ukurannya yang sangat kecil.
Disisi lain, Aroma yang keluar dari tubuh Edward membuat sesuatu yang berada didekatnya tersadar. Suatu pergerakan yang dibuat oleh Natasya, membuat Edward dengan sontak menurunkan pandangannya. Menatap wajah tanpa tenaga Natasya, membuat hatinya merasa senang dan sedih. Ia senang karna gadis itu telah sadar, namun ia juga sedih karna melihat kondisi tubuh Natasya yang benar-benar harus segera diobati.
Ditambah lagi, kini mereka tengah terpojok. Ada beberapa langsung yang terus berjalan mendekat kearah ruangan ini. Edward yang sudah tidak bisa memikirkan apapun, berniat untuk melawan mereka saat masuk kedalam.
Tentu saja hal itu langsung dihentikan oleh Natasya. Gadis meremas kemeja putih kotor Edward karna tubuhnya. Gadis itu terlihat seperti ingin mengeluarkan suaranya, namun tidak ada suara sedikitpun yang keluar dari mulutnya. “Tenanglah, tidak akan ada yang menyakitimu lagi!! Aku ada disini!!”
Natasya yang tidak ingin melihat Edward terlibat dengan masalah ini pun langsung mengerahkan seluruh tenaganya ke tangan kanannya. Gadis mengangkat tangannya secara perlahan hingga akhirnya mendarat di wajah Edward. Tangannya sangat dingin, dan wajah Edward sangat hangat. Membuatnya nyaman saat merasakan kehangatan itu.
Edward yang terkejut dengan tindakan Natasya seketika menurunkan pandangannya kembali, menatap gadis yang berada di gendongannya tengah menunjuk kearah bagian ruangan yang gelap. Ia tidak tahu apa yang dimaksud oleh Natasya, hingga ia dengan ragu berjalan kearah bagian ruangan yang ditunjuk oleh gadis itu tadi.
Setelah Edward pergi ke bagian ruangan gelap itu, ia dapat melihat sebuah lorong yang sangat gelap Membuatnya tak tahan untuk mengerutkan keningnya. Disisi yang bersamaan, pintu ruangan pun terbuka keras. Menunjukkan beberapa orang berbaju hitam serta seorang pemimpin yang berdiri tengah orang-orang tersebut.
__ADS_1
“Dimana gadis itu?!!” bentak pemimpin itu dengan suara yang menggelar. Dan semua anak buahnya hanya saling bertukar pandang karena mereka tidak tahu apa-apa. Pemimpin yang kesal itu pun langsung berdecih saat tidak mendapatkan jawaban dari anak buahnya itu. “Cari gadis itu sekarang!! Kalau tidak, bos pasti akan marah jika acaranya gagal”
Semua anak buah yang ketakutan membayangkan, bagaimana bos mereka marah pun segera berlari keluar dari ruangan tersebut untuk mencari keberadaan Natasya. Sementara pemimpin tadi masih terdiam ditempat sembari melihat sekeliling ruangan gelap itu dengan matanya yang tajam.
Setelah melihat sekeliling, pemimpin itu langsung berjalan keluar dari ruangan dengan perasaan yang marah. Membanting pintu hingga membuat Natasya terlonjat kaget mendengarnya. “Mereka sudah pergi, sekarang kita harus pergi dari sini juga sebelum ada yang menemukanmu!”
Edward langsung berjalan keluar dari ruangan gelap itu, membuka pintu secara perlahan lalu melihat kondisi lorong diluar. Setelah dirasa aman, Edward langsung berjalan keluar bersama Natasya. Mereka memang sedikit kesulitan saat mencari jalan yang aman, karna saat ini semua para penjaga tengah mencari keberadaan Natasya diseluruh ruangan.
Tak lama berputar-putar di dalam bangunan itu, Edward masuk kedalam ruangan 267 di lantai 6. Karena sudah lelah mencari jalan, akhirnya Edward meletakan tubuh Natasya yang lemah di atas lemari kecil tepat di samping jendela.
Lelaki itu mengeluarkan ponsel lalu melihat seberapa banyak nomer Arya yang terus menelponnya sedari tadi. Edward yang kelelahan pun menghela nafasnya yang berat, membuat Natasya yang tengah duduk di lemari kecil itu mengangkat kepalanya untuk melihat Edward yang tengah berdiri tepat didepannya.
Terlihat Edward tengah mengangkat telponnya dari seseorang, lalu menempelkan ponselnya di dekat telinganya. “Dimana kau, dasar bodoh?!!” teriak seorang lelaki dari telpon. “Di ruang 267 lantai 6” jawab Edward dengan nada dinginnya, namun nafas dari lelaki itu terlihat terengah-engah.
“Lantai 6, apa kau bercanda? Itu sudah terlalu dalam kau masuk ke sana?!” suara lelaki itu kembali terdengar dari ponsel Edward yang membuat Natasya menempelkan kepalanya ke perut Edward. Tubuhnya sangat lemas, tidak memiliki kekuatan hingga ia hanya bisa menyerahkan tubuhnya pada lelaki yang ada didepannya ini.
__ADS_1