Aku Masih Menunggumu

Aku Masih Menunggumu
Pengakuan Tante kinan


__ADS_3

Pagi harinya, Tante Kinan datang kembali ke RS untuk menjenguk Natasya dan Edward. Awalanya ia berniat untuk mengucapkan terimakasih pada Edward terlebih dulu, namun ia terlambat karna dikamar Edward sudah terdapat Arya dan jihon disana. Mereka juga terlihat seperti tengah menjenguk Edward.


Jadi Tante Kinan memutuskan untuk mengejuk Natasya terlebih dulu untuk menunda beberapa waktu. Sesampainya dikamar 143, terlihat seorang gadis masih terbaring lemah di ranjang rumah RS dengan mata yang sudah terbuka. Namun raut wajah dari gadis itu sangatlah pucat. “Tante?” kata gadis itu dengan suara lembutnya.


Tante Kinan tersenyum, lalu mulai melangkahkan kakinya untuk berjalan mendekati ranjang tersebut. Lalu menarik bangku yang ada didekat ranjang kemudian duduk disana. Menatap kondisi Natasya dengan hati yang tercabik-cabik. “Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah masih terasa sakit?” Tante Kinan mengelus kepala gadis itu dengan lembut.


Natasya menggelengkan, “Tidak, ini hanya luka kecil. Jadi Tante tidak perlu khawatir”


Mendengar hal itu, Tante Kinan terdiam. Ia merasa bahwa luka seperti ini bagi Natasya hanya luka kecil, tapi ia juga memiliki luka besar yang tidak dapat ka sembuhkan. Yaitu mengetahui kebenaran yang sudah terlambat, mengetahui semua di akhir setelah ia sudah melewati banyak hal.


Kehilangan adalah luka yang tidak disembuhkan, namun kehilangan akan tersembuhkan dengan sesuatu lain. Walaupun rasanya berbeda, tetapi Natasya bersyukur bisa membuktikan bahwa ia masih terus menunggu walau akhirnya ia juga yang harus menerima pahit dan manisnya kenyataan.


“Aku sudah mengetahui semua, Tante” kata Natasya dengan suara yang benar-benar ingin menangis namun tidak ada air mata yang keluar dari sana. “Kenapa? Kenapa Tante tidak memberitahuku sejak awal jika ibu benar-benar sudah pergi? Kenapa Tante harus berbohong? Menutupi semua kepahitan yang ada dihidupku?”


“...” Tante Kinan terdiam


“Aku tahu, waktu itu aku masih kecil. Pasti kau berpikir bahwa aku tidak seharusnya tahu itu terlebih dulu karena takut akan mempengaruhi mentalku. Tapi kau seharusnya sudah tahu bahwa mentalku sudah kena sebelum ibuku.” Kata Natasya dengan nada yang serak. Tante Kinan mengangkat pandangannya, melihat gadis itu tengah menangis dari sekian lamanya.

__ADS_1


Apakah ini sudah menjadi titik terlemahnya?


Tante Kinan yang tidak tega melihat itu pun langsung beranjak dari duduknya, memeluk Natasya yang tengah menangis tersedu-sedu hingga membuat nafasnya tidak beraturan. “Maafkan Tante, sayang. Tante terpaksa melakukan ini.”


Natasya terdiam tanpa menjawab apapun. Hatinya benar-benar terasa sakit, ia tidak tahu kenapa baru beberapa kata yang ia keluarkan, air mata ini langsung mengalir keluar. Padahal sejak dulu, ia bisa menahan semuanya. Tapi kenapa sekarang didepan Tante Kinan ia tidak menahannya?


“Maafkan Tante, Tante tahu jika kau mengetahuinya lebih dulu mungkin kau sudah akan siap. Tapi Tante benar-benar sangat mengkhawatirkan keadaan kamu saat itu. Tante gak siap buat kasih berita yang benar-benar buat Tante sedih juga, sayang.” Tante Kinan melepaskan pelukannya, kembali duduk sembari menjelaskan semuanya. “Tante, awalnya juga tidak menyangka semuanya akan berjalan seperti. Tante juga tidak pernah menyangka bahwa pada akhirnya Tante dan kamu yang harus kehilangan Elina.”


“Ayah bilang, Tante membenciku. Apa kau bisa jelaskan itu?”


Natasya mengangguk, membuat Tante Kinan kembali bercerita. “Mungkin kalau Tante bilang ini sama kamu, kamu tidak pernah percaya.” Natasya mengerutkan keningnya, “Tidak percaya? Apa maksudmu? Apa kau ingin bilang, jika kau dan ibuku sama-sama mencintai orang yang sama? Dan karena kau menghargai persahabatan itu, kau lebih baik diam dan membiarkan ibuku menikah dengan seorang lelaki yang kau cintai?”


Tante Kinan tertawa kecil, “Sepertinya tanpa aku harus menjelaskan secara detail, kau bisa menyimpulkannya dengan cepat ya.” Natasya menggeleng “Tidak, Aku sudah menyadari itu sejak awal. Dimana kau mengajakku pergi ke ****, saat kau pertama kali melihat ayahku berselingkuh dirumah saja, matamu bisa kunilai. Ada rasa kecewa, sedih, dan marah.”


Tante Kinan menatap Natasya dalam diam, “Kau?”


“Aku memang bisa menilai orang dari mata, Tante. Dulu ibumu pernah mengajariku, jika ingin mengenal atau mengetahui karakter orang lain, maka lihatlah matanya.” Jelas Natasya yang membuat Tante Kinan merasa sedikit terlupakan dengan rasa sedihnya. “Elisa...dia benar-benar wanita yang luar biasa! Aku sangat senang dapat mengenalnya”

__ADS_1


Setelah menyelesaikan perkataannya itu, tiba-tiba pintu ruangan kamar Natasya terbuka dari luar. Menunjukan seorang lelaki dengan baju pasien berwarna biru tengah berdiri sembari bertumpu pada pintu itu. Kedua wanita yang tengah asik bicara pun dengan sontak terkejut dan Tante Kinan hendak bergegas menghampiri lelaki itu untuk membantunya, tetapi saat ia baru saja ingin bangun, lelaki itu sudah mengangkat tangannya, sebagai isyarat untuk tidak pernah membantunya.


“Tuan?”


Natasya melihat sebuah perban yang melingkar di lengan atas Edward, yang membuatnya seketika mengingat kejadian malam itu. Ia merasa bersalah, namun ia sendiri tidak tahu harus bagaimana meminta maaf dengan lelaki ini.


Tante Kinan yang merasa bahwa Edward ingin berbicara dengan Natasya pun beranjak dari duduknya. “Sayang, Tante kebawah dulu ya belikan kamu makanan. Kamu pasti belum makan” Natasya menolehkan kepalanya ke arah Tante Kinan “hn..Tante jangan lama-lama”


Mendengar hal itu, Tante Kinan langsung berjalan keluar dari kamar nginap Natasya meninggalkan kedua orang tersebut didalam. Natasya yang melihat kepergian Tante Kinan, secara tidak sadar ia merasa bahwa suasana di dalam ruangan menjadi sedikit canggung. “Bagaimana keadaanmu? Apa sudah membaik?” Edward berjalan menghampiri ranjang Natasya dengan perlahan.


“Sudah membaik tuan, terimakasih atas pertolonganmu” Natasya mencoba mengukirkan senyuman dalam raut wajah sehabis menangis. Edward yang melihat hal itu hanya terdiam, kamu duduk di kursi samping ranjang. Tempat yang di duduki oleh Tante Kinan sebelumnya.


Natasya dapat melihat, raut wajah lelaki itu tidaklah dingin. Hanya wajah biasa yang membuatnya merasa terheran. “Tuan sendiri kenapa datang kesini? Apakah dokter sudah mengizinkanmu untuk berjalan-jalan?” tanya Natasya yang sedikit mengejek Edward. “Aku ini hanya terluka di tangan, bukan di kaki! Jadi tidak akan masalah jika aku berjalan jauh apapun.” Ketus Edward sembari menidurkan kepalanya disamping tangan Natasya.


“Apakah kau tidak suka, aku datang kesini?”


Natasya tertawa kecil, melihat tingkah Edward yang seperti anak kecil tengah merajuk membuatnya mengelus kepala lelaki itu dengan gemas. “Tidak, bukan begitu. Aku kan hanya bertanya, kenapa kau begitu membawa serius?”

__ADS_1


__ADS_2