Aku Masih Menunggumu

Aku Masih Menunggumu
Dimana Tasya?!


__ADS_3

Lelaki itu tertawa, “Hak mereka darimana? Tuan muda Chen, anda ini penguasa dunia pembisnisan. Dan saya sebagai clien kerja sama anda, akan membimbing anda bagaimana caranya mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari sebelumnya.” Edward terdiam, tanpa menjawab apapun dari perkataan lelaki itu.


“Bagaimana tuan, apa kau setuju dengan kesepakatan ini?” Tanya lelaki itu lagi.


Tanpa menjawab, Edward hanya beranjak dari duduknya lalu berbalik badan membelakangi lelaki itu. Suasana hati Edward sedang tidak baik, dan jika ia berlama-lama disini, mungkin ia akan menghabisi lelaki yang terlalu banyak omong kosong ini. “Kerja sama ini aku batalkan. Tidak perlu melanjutkan kembali penggusuran mereka!” kata Edward yang hendak berjalan pergi meninggalkan lelaki itu.


Lelaki itu tertegun dan dengan sontak bangun dari duduknya. Menatap Edward dengan tatapan terherannya. “Dibatalkan? Kenapa? Kerja sama kita ini sudah hampir berhasil 75% , apa anda yakin akan membatalkan kerja sama ini?” Edward memiringkan kepalanya, lalu melirikkan matanya kearah lelaki yang berada dibelakang.


Tatapan itu tajam dan dingin, hingga membuat lelaki itu tanpa sadar merasa tubuhnya gemetar. “Jika aku berkata batalkan ya batalkan. Apa kau keberatan dengan keputusanku?” tanya Edward yang membuat lelaki itu bergidik ngeri. “Saya bukan keberatan tuan, tapi..” lelaki itu mencoba menjawab perkataan Edward namun terhenti.


“Jika tidak lalu apa?” Edward berbalik badan menghadap lelaki itu dengan ekspresi dinginnya.


Lelaki itu tergagap saat ingin menjawabnya, ekspresi Edward benar-benar menekannya. “Eum...Bukan begitu saya maksud tuan, tapi kerja sama ini tidak bisa dibatalkan karena sudah hampir 100%, jadi akan sangat disayangkan sekali jika anda membatalkannya tuan”


Edward mengangkat alisnya, “Ohh...begitukah?”


“Iya tuan, sebaiknya anda pikirkan kembali keputusannya.” Lelaki itu sedikit mengharapkan Edward menarik kembali kata-katanya. “Sepertinya akan sangat disayangkan jika itu dibatalkan, karna kau tidak akan bisa mengambil ataupun mendapatkan uang 100 miliyar” cibir Edward yang membuat lelaki itu tertegun.


“Kau takut tidak mendapatkan uang itu kan?” Edward berdecih “Kau sudah sangat kaya, tetapi masih saja mengambil hak dari orang-orang seperti mereka. Apa kau tidak takut akan merusak reputasimu?”

__ADS_1


Lelaki terpaku, masih tidak menjawab perkataan Edward tadi. Sedangkan Edward hanya berbalik badan membelakangi lelaki itu kembali lalu berjalan pergi dengan senyuman licik diwajahnya.


Saat keluar dari ruangan, Edward disapa oleh beberapa orang bawahan lelaki itu dengan nada ramahnya. Edward bahkan sempat berpikir kenapa orang-orang baik seperti mereka bisa bekerja dengan lelaki serakah akan hak orang lain? Terlebih lagi apa mereka mendapatkan hak mereka selama bekerja disini?


Edward berpikir terlalu dalam hingga membuat kepalanya merasa pusing. Namun disaat lelaki itu tengah memijat-mijat keningnya, ia baru teringat bahwa Natasya tidak menelponnya sama sekali. Bahkan gadis itu tidak mengirim pesan untuk menanyakan berkas yang sebelumnya ia berikan padanya.


Kenapa dia tidak menghubungiku? Apa dia mengerti dengan semua berkas itu?


Edward yang memiliki perasaan tidak enak pun langsung bergegas pergi keluar dari sana, lelaki itu bahkan mengabaikan semua orang yang tengah menyapanya dengan ramah. Sesampainya diluar, Edward langsung masuk kedalam mobilnya, lalu menjalankannya dengan kecepatan penuh pergi dari sana.


Selama diperjalanan, Edward mencoba trus menghubungi Natasya. Bahkan pandangan Edward tidak fokus pada jalanan, tetapi terus menolehkan kepalanya kearah ponsel yang berada di kursi penumpang depan dengan layar yang tengah menghubungi gadis itu.


Sesampainya dikantor, Edward langsung keluar dari mobilnya. Berjalan masuk kedalam kantor dengan aura yang mengerikan, dan hal itu membuat para pekerja yang ada disana menatapnya dengan tatapan kebingungan.


Arya yang tadinya tengah berbincang dengan salah seorang lelaki, manik matanya langsung tertuju pada Edward yang tengah berjalan mengarah kearah ruangannya. “Malam tuan, kau sudah kembali. Kukira kau akan langsung kembali Kerumah setelah pertemuan itu” Arya mengerutkan keningnya, menatap Edward yang terdiam tanpa menjawab perkataannya.


“Ada apa? Kenapa kau seperti ini?” suara Arya mulai terdengar serius serta tangan Arya yang menyuruh lelaki itu pergi meninggalkannya berdua dengan Edward. “Dimana Tasya?!” tanya penekanan pada Edward yang membuat Arya terkejut. “Kau ini kenapa? Nona Tasya sudah pulang sejak daritadi, apa kau ada perlu dengannya?”


Edward menolehkan kepala dengan cepat kearah Arya, membuat lelaki itu seketika merasa terbidik dengan tatapan tajam Edward. “Pulang?” tanya Edward yang mengulang perkataan Arya.

__ADS_1


Arya mengangguk, “Ya, dia sudah pulang dari 1 jam lalu. Kenapa? Apa ada yang salah?”


“Jika dia sudah pulang lalu bagaimana dengan semua berkasnya? Apa dia sudah menyelesaikannya?” tanya Edward yang perlahan mulai santai dalam bicaranya. “Berkas apa kau maksud?” tanya Arya yang tidak tahu apa-apa


Edward berdecih, “Berkas yang ada di meja kerjaku! Apa dia sudah menyelesaikannya?”


“Ouh...berkas itu, sudah. Memangnya kenapa? Apa dia yang mengerjakan tugasmu itu?” tanya Arya yang menatap Edward tengah berdiri didepannya. “Ya, dia yang ingin membantuku menyelesaikan itu. Awalnya aku tidak yakin karena sebelumnya dia tidak pernah mengerjakan berkas itu, jadi aku menyuruhnya untuk menghubungiku jika ada sesuatu yang tidak ia mengerti. Tetapi sampai sekarang dia tidak menghubungiku, dan aku khawatir dia mengerjakan semua berkas itu dengan asal” jelas Edward


“Kurasa tidak mungkin, nona Tasya adalah wanita yang pintar. Jadi sangat tidak mungkin ia mengerjakan sesuatu dengan asal-asalan, dan bahkan itu adalah milikmu. Sangat tidak mungkin!” bantah Arya yang mengenal Natasya dengan baik.


Edward terdiam, dirinya memang tidak khawatir akan hal itu. Tapi entah kenapa perasaan tidak enak ini terus menyelimuti hatinya. Bahkan membuat dirinya bertingkah seperti ini, karena tidak nyaman. Arya yang melihat Edward, ia pun merasa bahwa lelaki ini tengah berada dimasalaj yang tidak boleh ia tanyakan..


“Kau pulanglah Kerumah, biarkan aku yang mengurus kantormu.” Arya berkata dengan nada pelan namun tegas. Edward menggeleng dengan lemas, “Tidak, aku harus mengecek berkas-berkas itu kembali. Takut akan ada kesalahan didalamnya” “Tidak perlu, biarkan aku saja yang melakukannya! Kau kembalilah Kerumah, dan beristirahat. Kau terlihat begitu jelek jika sedang banyak pikiran!” ejek Arya yang membuat Edward menatapnya dengan tajam.


“Apa, kau ingin bertengkar denganku? Maka bertengkar setelah kondisimu membaik, karna aku tidak ingin terlihat jahat karna menindasmu yang lemah” Arya berkata dengan sombong, namun tidak serius.


Edward disana masih terdiam lalu mulai perlahan berbalik arah dan pergi. Lelaki itu bergerak seperti tengah mengikuti perkataan Arya tadi. Sedangkan Arya terus menatap Edward dengan tatapan tersenyum sambil melambaikan tangannya. “Beristirahatlah dengan baik! Jika tidak, kau tidak akan pernah bertarung denganku”


Setelah Edward menghilang dari pandangannya, seketika raut wajah Arya berubah menjadi suram dan bahkan sangat serius menatap arah kepergian Edward.

__ADS_1


__ADS_2