Aku Masih Menunggumu

Aku Masih Menunggumu
Manusia itu pembohong besar


__ADS_3

Edward, Tante Kinan serta Arya pergi ke kediaman keluarga Jing, mereka semua naik mobil yang diikuti banyak mobil polisi dibelakangnya. Mereka berhuyung-huyung pergi kesana dibawah langit yang tengah berubah menjadi gelap. Suasana dijalan juga mulai terasa dingin karna angin yang tertiup kencang.


Edward didalam mobil pribadinya, tampak tenang melihat jalan dari jendela. Raut wajah lelaki itu sangat dingin, bahkan Arya yang tengah menyetir disampingnya tanpa sadar tubuhnya seketika merinding. Merasa bahwa keluarga Jing akan lenyap malam ini, diatas kemarahan Edward.


Tante Kinan yang duduk di kursi penumpang belakang terus menatap ponselnya dengan ekspresi wajah yang gelisah. Dan pandangan dari wanita itu terus beralih ke jendela. Melihat sekeliling seperti tengah mencari sesuatu.


Tante Kinan bahkan berulangkali menelpon seseorang dari ponselnya, namun tidak ada kunjung jawaban dari pihak yang ia hubungi. ‘Sial!! Kenapa orang itu?!! Kenapa telponnya tidak diangkat sih?’ batin Tante Kinan dengan kesal.


“Kau sedang apa Tante?” tanya Edward dari kursi penumpang depan. Suara lelaki itu terdengar sangat dingin hingga membuat Tante Kinan dengan sontak mengangkat pandangannya kearah depan. “A-ahh..tidak ada, aku hanya menghubungi Stella saja. Dia tidak terlihat sejak tadi, dan bahkan aku mencoba menghubunginya tapi tidak dijawab. Aku takut ia tersasar di kota karna ini adalah pertama kalinya ia datang kesini”


Edward menyipitkan matanya “ Pertama kali? Apa kau yakin?”


Tante Kinan terheran, ia tidak mengerti apa maksud dari Edward. Tetapi jika dipikir-pikir, Stella Tampak sangat berani berkeliling kota tanpa ia temani. Bahkan wanita itu tampak hafal dengan rute jalan yang biasanya orang lewati. “Eum...y-ya, memangnya kenapa?”


“Temanmu itu, dia tampak asing bagiku. Aku harap Tante bisa menjaga jarak dengannya” sahut Edward yang membuat Tante Kinan semakin terbingung. “Asing? Tentu saja asing, kalian kan baru saja bertemu. Kenalan saja kalian belum, jadi tidak ada salahnya jika kau merasa Stella adalah orang asing”


“Dia memang orang asing yang bisa jadi kawan ataupun lawan”

__ADS_1


Telpon Tante Kinan yang telah tersambung, membuat wanita itu dengan cepat menempel ponselnya pada telinganya. “Kenapa lama sekali angkatnya? Kau ada dimana?” Tanya Tante Kinan dengan cekatan. “Maaf Kinan, tadi aku ada urusan sebentar jadi baru bisa angkat telpon kamu.” jawab dari telpon dengan suara yang pelan namun dapat menusuk hati membuat Tante Kinan tanpa sadar gemetar. “Kamu ada dimana? Kenapa aku tidak melihatmu ikut rombongan ini?” Tante Kinan mengulang kembali pertanyaannya.


“Ohh...Aku ada kok, Cuma aku tidak ada dibarisanmu. Jadi itu yang membuatmu tidak dapat melihat mobilku”


Tante Kinan menghela nafasnya “Sekarang kamu ikutin mobil polisi yang ada dibelakang aku ya. Jangan sampai tersesat!”


“Baik, itu tidak akan terjadi!”


Setelah mendengar jawab itu, Tante Kinan langsung mematikan telponnya lalu menyimpannys kembali ponselnya didalam tas kecilnya. “Apa kau yakin semua ini tidak akan membahayakan Natasya?” tanya Tante Kinan setelah menyimpan ponselnya.


“Entahlah, aku tidak tahu. Karena yang sekarang ini hanya aku pikirkan adalah membawanya pulang dengan selamat. Dan jika aku menemukannya dengan penuh luka, maka aku meminta izin padamu untuk menghancurkan semuanya di kediaman Jing” Jawab Edward dengan suara yang terdengar menatap amarah.


“Hn...kenapa? Apa kau takut jika om Yudha lebih dulu memberitahu tentang kematian Tante Elisa pada Natasya?” tanya Edward dengan memicingkan matanya. “Eum...tidak juga, aku hanya...” Tante Kinan terdiam. Tidak melanjutkan perkataannya membuat Edward kembali berkata “Jika kau tidak salah, kenapa kau malah takut untuk memberikan penjelasan padanya?”


Arya yang berada disana, tidak bisa tidak menahan tawanya. Hingga akhirnya lelaki itu kelepasan tertawa, dan membuat ke2 orang dimobil itu dengan sontak menolehkan kepala kearahnya. “Apa yang kau tertawakan?” tanya Edward dengan menatap tajam Arya.


“Tidak ada tuan, aku hanya merasa lucu saja dengan perkataanmu itu.” Edward terdiam. “Kau berkata seolah-olah kau tidak sepertinya. Padahal sudah jelas sekali jika kau dan Tante ini sama-sama orang yang pengecut.”

__ADS_1


Mendengar hal itu, kedua orang tersebut terdiam. Tidak membantah sedikitpun perkataan Arya. Sementara Arya kembali berkata “Kejujuran dalam kehidupan itu memang banyak orang yang membantahnya, sementara kebohongan dalam kehidupan itu adalah kebahagiaan yang orang nikmati. Karna banyak dari mereka yang selalu menutup kejujuran yang pahit dengan kebohongan yang indah, hanya untuk membahagiakan seseorang.


Tapi kau tidak akan tahu, bahwa seseorang yang kau bohongi itu akan lebih menderita dan kecewa padamu jika kau akan terus berbohong padanya. Menurutku lebih baik tahu kenyataan yang pahit daripada harus menerima kebohongan yang indah, namun akan terbongkar nantinya. Memang semua sama-sama sakit, dan banyak orang yang tidak mau menerimanya. Tapi selain menerima kenyataan, apa yang bisa kita lakukan lagi? Lari dari kenyataan? Atau membuat khayalan yang membuat seseorang lupa dengan kenyataan yang pahit?”


“Kau berbicara seperti itu, seakan-akan kau pernah mengalaminya” cibir Edward.


Sementara Arya hanya tertawa, lalu berkata “Aku memang tidak pernah mengalaminya, dan aku juga...tidak pernah merasakannya. Karna aku tahu, kalau itu akan menyakitkan.” “Menyakitkan? Ya, sangat menyakitkan” sambung Tante Kinan dari belakang.


“Tante, maafkan aku jika aku telah berkata yang tidak baik. Tetapi jika kau mau menerima saranku, maka aku akan senang sekali.” Arya melirik sekilas kearah spion kaca mobil untuk melihat Tante Kinan tengah duduk dikursi penumpang belakang. “Tidak apa-apa, aku sangat berterimakasih sekali padamu sudah berkata seperti itu. Karna aku memang orang yang pengecut, aku telah membohongi Elisa, mama dari Natasya. Dan aku juga...telah membohongi Natasya dari kehidupan yang gelap ini”


Edward melirikkan matanya, “Manusia itu pembohong besar, namun saat ia dibohongi oleh seseorang. Maka ia akan marah dan tidak terima dengan perlakuan seperti itu, padahal jelas-jelas manusia itu sendiri yang memulainya”


“Jika manusia itu adalah pembohong besar, lalu kenapa kau masih menjadi bagian dari mereka? Kenapa kau tidak memiliki keberanian untuk menjelaskan semuanya? Apa kau takut ia akan kecewa, marah, atau membencimu?” balas Arya yang membuat suasana di mobil menjadi hening.


Arya kembali melanjutkan perkataannya, “Bagaimanapun reaksinya nanti, itu adalah urusan belakangan. Karena tujuanmu menjelaskan, adalah untuk membebaskan dia dari kebohongan. Bukan untuk menyakitinya. Tapi jika dia marah, kecewa bahkan sampai membenci, maka biarkanlah. Memang disaat mengetahui kenyataan yang jujur, butuh waktu untuk menerimanya.”


Edward dan Tante Kinan yang mendengar hal itu, seketika hatinya terkagum dengan perkataan Arya. “Pintar sekali kau bicara, darimana kau belajar itu?” tanya Edward dengan cibiran.

__ADS_1


“Dari nona Tasya”


__ADS_2