Aku Masih Menunggumu

Aku Masih Menunggumu
Menghadiri acara penting di caffe


__ADS_3

“Tidak, kurasa itu sangat cocok untukmu.” Kata Edward dengan senyuman diwajahanya. “C-cocok dari mananya? Dress ini bahkan sangat pendek untukku” protes Natasya sambil menatap Edward yang tengah berdiri tak jauh darinya. “Kau bilang tidak cocok, karna kaunya saja yang tidak terbiasa memakai pakaian yang seperti ini kan?” Tebak Edward yang membuat Natasya terdiam.


 


Natasya memang tidak terbiasa dengan pakaian yang seperti itu, tapi entah kenapa saat memakai dress ini, Natasya sedikit merasa nyaman walaupun awalnya ia berkata bahwa dress-nya itu sedikit berlebihan. “hn...tidak juga” elak Natasya sembari memalingkan wajahnya kearah lain. Seseorang Edward yang mendengar hal itu hanya mengangguk lalu berjalan menghampiri gadis itu. Lelaki itu tampak tenang, tidak mengucapkan banyak kata dan itu juga membuat Natasya sedikit bingung.


 


“Jika tidak nyaman, maka katakan saja. Nanti aku akan Carikan gaun yang lebih nyaman lagi untuk kau pakai.” Kata Edward saat berhenti tepat didepan Natasya. “Huh? T-tidak perlu! Ini juga sudah nyaman kok. Maaf atas perkataanku tadi” jawab Natasya sambil menatap Edward yang tengah menatapnya dengan tatapan dinginnya. “Kau yakin?” tanya Edward yang memastikan. Sementara Natasya hanya mengangguk seraya berkata “hn sudah cukup yang ini, tidak perlu yang lain”


 


“Baiklah kalau begitu, ayo kita pergi membayarnya.”


 


Edward dan Natasya pergi ketempat kasir untuk membayar dress itu, semua pegawai yang disana tanpa terkejut dengan dress yang dikenakan oleh Natasya. Karna dress itu adalah dress yang sangat langka, bahkan hanya ada satu di negara ini.  Jadi mereka sedikit meragukan Edward. “Baik tuan, apakah ini saja?” tanya kasir wanita itu dengan ramah.


 


“Hn.” Angguk Edward


 


Pegawai itu tersenyum, lalu memeriksa harga dari dress yang dikenakan oleh Natasya. Setelah menemukan harganya, kasir wanita itu langsung menatap Edward lalu berkata “Karna dress yang di pakai oleh nona, adalah dress yang desainnya hanya ada satu di negara ini. Jadi totalnya 1M”


 


Natasya tertegun, dress yang dikenakannya ini seharga 1M ? Apakah kasir wanita itu sedang menipu mereka? Natasya yang ragu akan membayar dress pun tanpa sadar menyegol pelan lengan panjang Edward dari samping, menandakan Agar tidak jadi membelinya. Tetapi lelaki itu tampak tidak mendengarkannya. Bahkan Edward sendiri sampai mengeluarkan black card-nya dari dompetnya hanya untuk membayar dress seharga 1M ini.

__ADS_1


 


Semua para pegawai serta kasir wanita itu tanpa terkejut saat melihat nama yang tercantum di black card tersebut adalah penguasa perbisnisan, atau bisa disebut juga dengan tuan muda Chen. “A-anda t-tuan muda Chen?” kata kasir wanita itu dengan gugup menatap Edward dengan perasaan yang tidak percaya. Sementara Edward hanya terdiam sembari menyerahkan black card tersebut kepada kasir wanita itu.


 


Kasir itu langsung dengan perlahan mengambil black card milik Edward, lalu mengeseknya di alat khusus. Kemudian setelah selesai, kasir itu mengembalikan kartu itu pada lelaki itu. Edward tampak diam saja saat waktu pembayaran, dan bahkan setelah melakukan pembayaran, lelaki itu langsung menarik tangan Natasya untuk pergi dari toko tersebut. Tidak ada kata apapun yang terucap oleh lelaki itu saat meninggalkan toko.


 


Saat diluar, Natasya langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Edward. Membuat lelaki itu dengan sontak membalikkan tubuhnya menghadap kearahnya, terlihat sekali ekspresi dingin yang masih terpasang diwajah lelaki itu. “Kenapa kau malah membayarnya? Jika mahal kan kita bisa membatalkannya” kata Natasya sembari menatap Edward.


 


Edward terdiam sejenak, “Itu tidak mahal, harga segitu tidak akan membuatku jatuh miskin. Jadi tidak perlu mempermasalahkannya!”


 


 


Dan bisa-bisanya lelaki itu berkata dengan santai bahwa 1M itu tidak akan membuat dirinya jatuh miskin.


 


“hn..iya, kau sangat kaya. Bahkan uang sebesar itu, kau tidak mempermasalahkannya” cibir Natasya dengan suara pelan. Sementara Edward hanya tertawa saat mendengar cibiran itu. “Aku tidak mempermasalahkannya, karna itu uangku. Jika saja itu uang dari orangtuaku mungkin aku juga akan seperti dirimu.” Jawab Edward dengan senyuman diwajahnya.


 


Natasya yang melihat itu hanya mengangguk paham, lalu menatap Edward dalam diam. “Ada apa lagi, hn? Apa masih ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?” tanya Edward sembari menyelipkan rambut Natasya ke belakang telinganya. “Jelaskan yang didalam!” jawab Natasya yang membuat Edward sadar akan hal yang ia lupakan.

__ADS_1


 


“Baik” Edward mengangguk “Malam ini perusahaan akan mengadakan sebuah acara penting di caffe, dan karna aku wajib untuk mengikuti acara itu, jadi kau jug harus ikut denganku kesana.”


 


Natasya terkejut, “Huh?!” menatap Edward dengan tatapan yang terheran “Kenapa aku juga, bukankah itu urusanmu?”


 


“Itu memang urusanku, tapi kau sebagai sekertaris juga harus ikut.” Jawab Edward dengan menatap lembut. “Tapi Arya juga sekertarismu! Dan bahkan posisinya jauh lebih tinggi dibandingkan denganku, kenapa kau tidak mengajaknya saja?” protes Natasya dengan raut wajah yang tidak puas dengan keputusan itu.


 


“Dia juga ikut, tetapi akan datang lebih lambat jadi kau harus ada disana juga. Apa kau keberatan?” tanya Edward dengan nada halus namun tidak memberikan Penolakkan pada Natasya.


 


Natasya pasrah, mengangguk pelan “Baiklah aku akan ikut”


 


--//--


 


Disisi lain, Yudha yang tengah duduk di kursi meja kerjanya tampak terlihat begitu serius saat berbicara dengan seorang lelaki yang tengah berdiri depannya. Bahkan Yudha sendiri tampak akrab hingga membuat suasana ruangan yang sebelumnya canggung menjadi tenang. “Sudah lama sekali aku tidak melihatmu, ternyata kau sudah tumbuh sebesar ini ya” kata Yudha dengan senyuman diwajahnya yang keriput.


 

__ADS_1


Sementara lelaki itu hanya tersenyum dengan anggukan kepala “Ya, senang bertemu denganmu juga paman. Sudah lama kau tidak terlihat sejak kelulusan ku itu” Yudha tertawa “Maaf-maaf, sewaktu dulu aku begitu sibuk dengan kantor. Jadi melupakanmu” “ Hn...tidak apa paman, aku mengerti kondisimu.”


__ADS_2