Aku Masih Menunggumu

Aku Masih Menunggumu
Apa aku hanya salah dengar?


__ADS_3

Natasya terdiam sambil memalingkan wajahnya kearah lain, sedangkan Edward ikut terdiam dengan ekspresi yang suram. “Ada apa denganmu? Kenapa kau bisa seperti ini?” Natasya bertanya sambil menunduk kepalanya.


 


Edward menggeleng, “Tidak ada”


 


“Jika tidak ada lalu kenapa kau kemarin malam bisa sampai mabuk berat dan demam? Bahkan kau juga memiliki beberapa luka diwajah mu. Apa yang kau lakukan tadi malam?” Natasya bertanya dengan sedikit serius. “Tidak ada yang kulakukan”


 


Natasya mengerutkan keningnya, “Kau ini ternyata bisa berbohong juga ya! Kau pikir aku tidak tau” Natasya mengunakan telunjuknya ke dahi Edward


 


“Kau saja yang tidak percaya denganku, jadi kau menyangka aku yang berbohong.” Edward membalas tatapan Natasya. “Aku tidak percaya karna aku memang tidak yakin dengan jawabanmu. Kau datang kemari dengan kondisi seperti itu, apa aku akan berpikir kau tidak akan melakukan sesuatu diluar?”


 


Edward menghela nafas, “Aku tidak melakukan apapun”


 


Natasya disana hampir kewalahan menghadapi Edward, ia benar-benar tidak bisa diajak kerjasama dalam berbicara. Tetapi saat hatinya ingin meruntuki lelaki itu, otak Natasya langsung mengingat kembali Edward yang semalam.


 


Keadaan mabuk berat dan dia juga demam. Apa dia tidak mengingat semua kejadian semalam, hingga membuatnya berkata tidak melakukan apapun? Natasya termenung disana, sedangkan Edward dibawah terus menatap natasya dengan tatapan kosong


 


“kau ini sedang memikirkan apa? Apa sebegitu penting, kau menanyakan hal apa yang kulakukan semalam?” Edward bertanya membuat kesadaran Natasya kembali


 


Natasya menggelengkan kepalanya, “Tidak juga, aku hanya bertanya.”


 


Edward tersenyum kecil saat mendengar itu, lalu salah satu tangannya terangkat dan mendarat di pipi mulus Natasya. Membuat mata natasya memandang Edward dengan tatapan sedikit terkejut. “Jika tidak, maka tidak perlu memikirkan itu lagi. Kau hanya akan menambah beban di pikiranmu saja”


 


Natasya menyingkirkan tangan Edward dengan pelan sambil memalingkan wajahnya. “Kau terlalu percaya diri, aku tidak memikirkanmu. Lagipula aku bertanya bukan dengan maksud mengkhawatirkan kondisimu tetapi karna pekerjaan yang kau tinggalkan.”


 


Edward terpaku, “Apa maksud? Aku tidak pernah meninggalkan pekerjaanku sedikitpun”


 

__ADS_1


“Tadi pagi aku mendapatkan telpon dari Arya, dia mencarimu karna ada meeting yang harus dihadiri saat pukul 08.00 tetapi pagi ini kau tidak datang, dan itu membuat Arya sedikit panik. Menelponku untuk menanyakan dimana kau sekarang, tapi saat itu kau masih belum sadar dan aku juga tidak mungkin membiarkan orang lain tau jika kau malam tidur di apartemenku


 


Jadi aku terpaksa berbohong dan mengatakan kalau aku tidak mengetahuinya. Mendengar Arya pasrah dengan keadaan, membuat aku berniat mengurus masalah itu secara online” Natasya bercerita panjang lebar, sedangkan Edward hanya mengangguk saat mendengar gadis itu mengoceh


 


“Jadi hasilnya bagaimana? Apa kau berhasil atau tidak?” Edward bertanya sambil memandang Natasya dari bawah


 


Natasya mengangguk, “Syukurnya mereka bisa mengerti, jadi meetingnya juga berjalan dengan lancar. Saat itu aku sedikit tidak yakin melakukan meeting secara online, tetapi aku juga tidak bisa pergi kemana-mana. Mobil yang kau berikan padaku ada dikantor dan aku juga tidak kepikiran untuk menaiki taksi saat itu.”


 


“Tidak bisa pergi kemana-mana? Atau kau takut meninggalkanku disini?”


 


Natasya mengerutkan keningnya, “Kau ini terlalu narsis. Siapa juga yang takut meninggalkanmu”


 


“Aku bukan terlalu narsis tetapi itu fakta. Kau bercerita saat itu aku masih belum sadar, dan Arya berharap kau bisa datang kekantor untuk melakukan meeting penting itu. Karna dia sedikit tidak yakin jika kau melakukannya secara online, tetapi kau masih bersikeras untuk tidak pergi. Karna itulah kau takut meninggalkanku disini” Edward berkata dengan ekspresi yang cukup menyebalkan bagi Natasya


 


 


“Terserah kau saja, Awas! Aku akan mengambilkan kau bubur dulu” Natasya berkata sambil menyingkirkan kepala Edward dari pangkuannya.


 


Sedangkan Edward hanya terdiam duduk, menatap natasya berjalan keluar dari kamar. Wajah lelaki itu terukir senyuman tulus namun senyuman itu hanya bertahan 5 detik lalu menghilang. Tak berapa lama, Natasya pun kembali dengan membawa nampan yang berisi mangkuk kecil dengan bubur hangat serta gelas yang berisi air putih.


 


Natasya menaruh nampan di itu atas meja kecil samping tempat tidur. “Buburnya masih hangat, dimakan dulu nih.” Natasya mengambil mangkuk kecil, mengaduk bubur sebentar lalu menyodorkan sendoknya yang bubur kearah mulut Edward.


 


Edward membuka mulutnya dan memakan bubur tersebut, namun saat merasakan bubur itu dalam mulutnya, Lelaki itu langsung tersedak entah karna apa. Sedangkan Natasya bergegas mengambil gelas diatas meja lalu memberikannya kepada Edward, “Minumlah!” Edward meraih gelas itu lalu meminumnya


 


“Kau ini kenapa? Makan saja bisa sampai tersedak seperti itu” Natasya mengambil gelas itu kembali dari tangan Edward lalu menaruhnya diatas meja. “Bukankah seharusnya itu kau, kenapa kau tidak beritahuku, kalau bubur itu masih panas?” Edward bertanya dengan nada kesalnya.


 


Natasya terpaku. Seingat dia, bubur itu sudah hangat karna sudah ditinggal beberapa menit. Tetapi kenapa lelaki ini bilang bubur ini masih panas?

__ADS_1


 


Natasya pun mencoba mengambil sedikit bubur dengan sendok lalu memakannya. Berniat untuk memastikan benar atau tidaknya yang dikatakan oleh Edward. Namun saat bubur itu ada didalam mulutnya, rasa panas pun menyerang Indra perasanya. Ingin memuntahkan tetapi tidak enak dengan lelaki yang ada didepannya ini


 


Jadi Natasya berusaha menahannya, sedangkan Edward hanya memandang Natasya dalam tatapan terpaku. “Apa yang kau lihat?” Natasya bertanya saat mendapati Edward yang terdiam dengan tampilan terkejutnya.


 


Edward memalingkan wajahnya, “Tidak apa-apa” Kembali menolehkan kepalanya lagi kearah Natasya. “Bagaimana? Apa sekarang percaya?”


 


Natasya mengangguk sambil menjauhkan sendok itu dari mulutnya. “Seingatku bubur ini sudah ku dinginkan, tapi kenapa masih saja panas?” Natasya bertanya pada dirinya sendiri


 


Natasya pun kembali menyuapi Edward dengan awalan meniupinya terlebih dulu. Edward yang memakan bubur tersebut juga merasa tidak terlalu panas, hingga membuatnya merasa nyaman saat memakannya.


 


“Kau tidak makan?” Edward bertanya sambil menatap Natasya. “Belum, aku akan makan nanti saja” Natasya menjawab sambil terus menyuapi Edward. “Sudah hentikan, aku sudah merasa kenyang” Edward menolak makan lagi


 


Natasya pun menurunkan mangkok dan sendoknya, “Apa kau yakin sudah kenyang?”


 


Edward mengangguk, “Ya, aku sudah kenyang. Sekarang kau pergi makan sana” Natasya sedikit menggeleng, “Tidak sekarang, aku masih belum merasa lapar”


 


Edward terdiam sambil merebahkan kembali tubuhnya, tidur diatas ranjang dengan membelakangi Natasya. “Kau pergilah, aku ingin istirahat sejenak” Edward berkata tanpa membalikan tubuhnya sedikitpun


 


“Baik, aku akan keluar. Kau istirahat terlebih dulu” sahut Natasya


 


Gadis itu hendak berjalan keluar dari kamar. Namun saat membuka pintu, suara Edward terdengar ditelinganya.


 


“Maafkan aku”


 


Dengan sontak Natasya pun langsung menolehkan kepalanya kebelakang, melihat Edward yang masih dalam posisi yang sama. Sepertinya dia sudah tertidur, tapi kenapa natasya seperti mendengar lelaki itu meminta maaf kepadanya? Apa dia hanya salah dengar? Tapi rasanya tidak mungkin! Karna suara itu benar-benar terdengar jelas.

__ADS_1


 


__ADS_2