
Natasya yang merasa suasana telah berubah pun membuatnya tidak memiliki nafsu makan. Dengan perlahan tangannya mendorong piringnya sedikit menjauh dan beranjak dari duduknya. Edward yang melihat itu langsung mengangkat kepalanya dan menatap Natasya dengan tatapan dinginnya.
“Aku akan pergi ke toilet sebentar”
Natasya mengatakan hal itu tanpa memandang lelaki yang tengah duduk disebrangnya. “Perlu aku mengantarmu?” Edward bertanya dengan nada yang masih terdengar dingin
Natasya menggeleng, “Tidak perlu, aku bisa menanyakan hal itu pada pelayan restoran nanti. Kau lanjutkan saja makananmu”
Setelah menyelesaikan perkataannya, Natasya pun langsung berjalan menuju pintu sambil restoran. Ia pergi meninggalkan Edward sendirian disana, walaupun hatinya merasa tidak enak namun perasaan juga tidak nyaman jika berlama-lama disana.
Tidak nyaman? Ya, bukankah Edward sebelum bersikap biasa saja padanya? Tapi kenapa sekarang sikapnya kembali seperti semula?
Perasaan yang kini dirasakan oleh Natasya adalah perasaan kesal kepada lelaki dingin itu. Entah karna perubahan sikapnya atau memang ia merasa kesal dengan orangnya. Tapi kenapa dirinya merasa kesal? Bukankah seharusnya ia sudah tau jika sikap dari lelaki itu memang seperti itu
Bukankah seharusnya Aku paham? Tapi kenapa aku akhir-akhir ini merasa ada yang aneh jika bersama dengannya? Apa aku telah nyaman dengannya? Tidak! Tidak mungkin.
Natasya pun langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, menghapus pertanyaan itu dari benaknya. Benar-benar mustahil jika ia sampai dengan nyaman dengan lelaki misterius itu.
Sibuk dengan pikirannya yang mulai tidak beres, Natasya pun sampai tidak memperhatikan jalan didepannya. Membuat gadis itu menabrak seseorang yang tengah jalan didepannya. Kening Natasya juga sedikit terpantuk keras oleh sesuatu yang letaknya di dada seseorang itu.
“Aduh, maafkan aku” Natasya mundur beberapa langsung sambil mengeluskan keningnya yang mulai terasa nyeri “Maafkan aku nona, maafkan aku yang telah tidak memperhatikan jalan” Seseorang yang didepannya juga dengan sontak meminta maaf kepada Natasya
Natasya pun langsung mengangkat kepalanya dan melihat seorang lelaki tengah menunduk kepalanya. Lelaki itu berpakaian sangat rapi serta wajah yang menunjukkan ekspresi bersalah. “Tidak, tidak, kau tidak salah. Aku yang salah. Maafkan aku yang tidak memperhatikan jalan tadi”
__ADS_1
Lelaki itu mengangkat kepalanya kembali dan menatap natasya dengan senyuman diwajahnya, “Tidak apa-apa nona. Maaf nona, apa anda terluka?” lelaki itu bertanya saat mendapati Natasya yang masih mengelus-elus keningnya.
“Ah tidak, ini hanya masalah kecil” Natasya dengan cepat menurunkan tangannya, serta dalam diam ia menahan rasa nyeri itu.
Lelaki itu cemas, “Benarkah? Apa nona yakin?”
Natasya mengangguk, ia ingin sekali cepat-cepat pergi dari sana. Kegelisahan pun menyelimuti hati natasya hingga membuat dirinya terlihat kebingungan. “Eum...nona, apa anda sedang mencari sesuatu?” lelaki itu bertanya kembali dengan suara yang pelan
“Ya, bisakah kau beritahu aku, dimana letak toilet?” Natasya mengunakan alasan itu untuk pergi dengan cepat
Lelaki itu mengangguk, “Ouh... toilet ada disebelah sana nona. Apa perlu saya mengantarnya?” lelaki itu menunjuk kesebuah lorong sebelah kanan yang menunjukan itu toilet yang sedang ia cari
“Tidak perlu, aku bisa sendiri. Terimakasih”
Namun suasana toilet itu cukup sedikit menegangkan, mungkin karna sepi dan ini juga tengah malam jadi wajar sana jika suasana cukup sedikit ekstrim. Tidak ingin berlama-lama, Natasya pun langsung mencuci wajahnya di wastafel dekat disebelahnya.
Setelah selesai, Natasya pun langsung berjalan keluar dari toilet tersebut dan tak sengaja ia bertemu dengan seorang wanita dengan pakaian dress merah yang sedikit terbuka dibagian dadanya serta perhiasan yang cukup menyilaukan matanya.
Wanita itu juga melihat menyadari kehadiran Natasya, dengan bersama pandangan mereka pun bertemu. “Melisa?” gumam kecil natasya dengan menatap wanita itu dengan dingin. “Natasya? Apa kau lakukan disini? Bukankah seharusnya semua orang tidak boleh masuk ya, kecuali orang-orang tertentu?” Melisa bertanya dengan nada yang ramah
Natasya memutarkan bola matanya dengan malas, “Bisa atau tidaknya itu bukan urusanmu”
Natasya yang tidak menyadari kebediriannya seorang manajer dibelakang Melisa pun membuatnya terkejut saat lelaki itu melangkah maju didepannya. “Maaf nona, tolong bersikap sopan dengan putri kehormatan WU”
__ADS_1
Manik mata Natasya seketika langsung tertuju kepada manajer itu. “Aku bersikap tidak sopan apa ya dengannya? Kenapa kau berkata seperti aku ini hanyalah orang dibawah kekuasaannya?”
“Maaf nona, bukan seperti itu. Tapi Putri Melisa ini adalah putri Dari keluarga bermarga WU. Kumohon nona kerjasamanya, jika tidak ingin kena masalah dengannya” Natasya yang mendengar itu pun mulai terasa bosan, dan hendak berjalan pergi melewati mereka.
Namun sepertinya Melisa sedang mencari masalah dengannya, menahan tangannya dengan menunjukkan ekspresi polos nya itu. “Natasya, kau ingin kemana? Mumpung kau masih disini, kenapa kita tidak makan bersama saja?”
Natasya menghempaskan tangannya dengan pelan, membuat genggaman tangan Melisa terlepas darinya. “Tidak perlu, aku sedang terburu-buru. Makasih atas tawaran berbaik hatinya Putri WU” Natasya pun berjalan pergi meninggalkan mereka
Sedangkan Melisa hanya terdiam menatap punggung kecil Natasya berjalan menjauh dan menghilang dikegelapan malam. “Putri, siapa dia? Kenapa dia seperti sombong sekali denganmu? Bukankah makan malam bersama putri itu adalah suatu kesempatan yang terlangka?” Manajer itu berbisik
“Sstt...tidak perlu berkata seperti itu. Lagipula aku juga tidak mempermasalahkannya” Melisa menghentikan manajer itu untuk membicarakan Natasya. “Kau sangat baik putri, sehingga banyak orang yang terlalu menyempelekan kebaikanmu itu”
“Sudah paman, tidak apa-apa. Kau tidak perlu membicarakannya lagi.” Manager itu pun langsung menundukan kepalanya, lalu mempersilahkannya wanita itu melanjutkan perjalanannya lagi.
Disisi lain, natasya yang telah kembali ketempat sebelumnya. Ia duduk dengan perasaan yang suntuk. Edward yang tadinya sedang sibuk dengan laptopnya pun langsung mengangkat matanya dan menatap gadis yang tengah duduk disebrangnya sedang dalam mood yang buruk.
“Sudah ke toiletnya?”
Edward bertanya dengan suara yang biasa, serta tatapannya juga terlihat sedikit santai. “Sudah. Apa kau sudah selesai makan? Aku ingin pulang” natasya berkata sambil menatap kearah Edward
“Sudah, aku juga ingin pulang tap..” Edward yang sedang menatap Natasya pun langsung terkejut dengan matanya yang dibuat tertuju oleh bekas kemerahan dikening gadis itu. “Ada apa denganmu? Bekas kemerahan apa ini?” Edward beranjak dari duduknya, dan langsung menghampirinya Natasya
Natasya bangun dari duduknya juga, dan melihat Edward datang menghampirinya, lalu tangannya yang besar mulai mengelus bekas kemerahan pada keningnya, “luka apa ini? Apa yang kau lakukan saat pergi ke toilet tadi?”
__ADS_1
Edward bertanya dengan suara yang serak namun terdengar sedang kesal. Tapi kenapa kesal? Apa yang ia kesalkan? Bukankah ini hanya sebuah bekas kemerahan saja?