
Angel mengangguk, namun tak menjawabnya dengan suara. “Apa kau pernah bertemu dengannya, sebelum kau datang kesini?” Tanya Edward yang menatap angel dengan tatapan serius. Benar-benar seperti tengah disidang oleh pengadilan saja. “Maaf tuan, bukannya aku ingin mengambil kesempatan, tapi bisakah kita bicara didalam saja.” Pinta angel dengan kepala yang menunduk.
Edward yang mendengar hal itu, tidak bisa tidak mengerutkan keningnya. Merasa bahwa angel benar-benar aneh hari ini, namun jika ini bersangkutan dengan Natasya, Edward tidak akan mempermasalahkannya.
“Hn...masuklah!”
Edward berbalik badan, lalu meraih gagang pintu. Membukanya lalu berjalan masuk yang diikuti oleh angel dari belakang. Semua penjaga yang melihat itu pun langsung memandang angel dengan tatapan benci, berpikir bahwa angel akan berbuat sesuatu yang buruk lagi seperti halnya yang ia lakukan dia kediamannya sendiri.
Saat didalam, Edward langsung duduk di meja kerjanya. Sementara angel berdiri di depan meja Edward dengan posisi kepala yang menunduk. “Jadi, bagaimana?” tanya Edward yang mengulang pertanyaan tadi.
Angel mengangguk, “Aku...pernah bertemu dengannya 6 hari yang lalu, mungkin sebelum aku datang kesini”
Edward terkejut serta terpaku di tempat saat mendengar bahwa angel bertemu dengan Natasya di 6 hari yang lalu. Tepat dimana ia tengah berurusan dengan keluarga LU. “Dimana kau bertemu dengannya?” tanya Edward yang berusaha menampilkan ekspresi dinginnya.
“Di jembatan layang, dekat dengan kediamanku” jawab spontan angel yang membuat Edward semakin di buat bingung. “Apa dia sempat berbicara denganmu?” Edward kembali mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang sudah mengganggu sejak kemarin.
Angel menggeleng, “Tidak, aku tidak sempat berbicara dengannya karena ada sebuah mobil hitam datang menjemputnya.”
“Mobil hitam?!”
Angel mengangguk, “Ya mobil hitam, tetapi saat itu aku bertemu dengannya saat malam hari. Jadi tidak terlihat begitu jelas, apa plat nomor mobil itu.”
__ADS_1
“Lalu apa dia melihatmu?” tanya Edward yang memiliki harapan angel mengetahui dimana keberadaan Natasya. Namun saat itu angel menggeleng, menghilangkan sedikit harapan Edward padanya. “Dia tidak melihatku, karena jarak kita begitu jauh.”
“Jika jaraknya begitu jauh, lalu kenapa kau bisa bilang kalau yang kau temui itu adalah Tasya?” Edward bertanya dengan tidak sabar.
“Karena itu memang nona Tasya, aku benar-benar melihatnya berjalan sendirian dimalam hari!!” bantah angel dengan suara yang agak sedikit keras “Aku melihatnya berjalan sendirian di malam hari, dia sendirian. Wajahnya terlihat datar namun aku merasa ditengah menahan semua rasa didalam hatinya. Aku tidak berbohong! Orang yang aku temui dimalam itu benar-benar nona Tasya, gadis yang berjalan dimalam hari seperti robot tanpa otak”
Edward tertegun, “Robot tanpa otak? Apa yang kau bicarakan?”
Angel terdiam, kini perasaan nya terasa tidak enak terhadap Natasya. Ia merasa aneh padanya dirinya sendiri, kenapa ia ingin memberitahu Natasya pada Edward? Bukankah seharusnya ia bersaing dengan wanita itu untuk mendapatkan Edward?.
Ahhh....tidak tahu!!!
“Apa kau tahu dimana arah mobil itu pergi?” tanya Edward disela-sela kelamunan angel. “Aku tidak tahu pasti, tetapi arah mobil itu pergi kekediaman JIN.” Jawab angel yang membuat angel sekali lagi terkejut dengan jawabannya.
Edward terpaku, tubuhnya seperti batu yang tidak bisa digerakkan, serta jantung yang berdegup kencang hingga membuat dadanya terasa sakit. Sementara angel hanya terdiam, karna tidak mendapatkan respon ataupun jawaban dari Edward.
...__🥀🕊️__
...
Disisi yang jauh, Tante Kinan dan wanita yang bersamanya telah sampai di bandara. Mereka berdua keluar dari stasiun dengan membawa beberapa koper yang berisi pakaian mereka. “ahh...lelah sekali ya perjalanan jauh dari sana ke sini” ucap wanita itu sambil merenggangkan kedua tangannya. “Makanya sering-seringlah main kesini, biar terbiasa dengan yang namanya jauh” sahut Tante Kinan dengan nada juteknya.
__ADS_1
Wanita itu mengerutkan kening dan bibirnya, menatap Tante Kinan dengan tatapan tidak puas “Kau kan juga tahu, kalau aku tidak bisa keluar masuk dari tempat tinggalku. Jadi aku sendiri saja susah jika ingin keluar kemana-mana, pasti harus selalu melakukan hal yang merepotkan”
“Sepertinya kau harus tinggal bersamaku disini” jawab sekilas Tante Kinan yang membuat wanita itu dengan sontak menoleh kepalanya. Menatap Tante Kinan yang tengah berdiri disebelahnya. Terlihat cara berdiri Tante Kinan cukup sangat tegak, menampil aura yang tegas namun masih terdapat kelembutan didalam hatinya. Ekspresinya pun kini terlihat serius, wanita itu benar-benar dibuat kagum oleh perubahan Tante Kinan dari sebelumnya hingga sekarang.
Entah karna anak itu, atau karna masalahnya. Tante Kinan menurutnya adalah seorang wanita yang kuat, namun ia dapat lemah jika itu berkaitan dengan seseorang yang ia sayangi.
Wanita itu tersenyum, “Kau berubah banyak ya! Bahkan sekilas jika melihat, aku seperti tidak mengenalimu” “berubah lebih baik, bukankah bagus?” sahut Tante Kinan tanpa menolehkan kepalanya ke arah wanita itu.
Wanita itu hanya tertawa, lalu mereka berdua mulai berjalan di tengah keramaian stasiun dengan ekspresi mereka masing-masing.
Sesampainya di apartemen Natasya, Tante Kinan bergegas menanyakan pada orang yang berlalu lalang disana untuk menanyakan, ruang berapa yang kini di tempatkan oleh Natasya disini. Namun semua orang disana hanya menjawab bahwa Natasya pemilik ruang 109 dan sejak beberapa hari yang lalu tidak terlihat.
Banyak orang juga yang menduga bahwa Natasya telah pindah ke apartemen lain. Hal itu membuat Tante Kinan dan wanita yang bersamanya tertegun, “Bagaimana mungkin kalian bisa menduga seperti itu?” tanya Tante Kinan dengan rasa tidak percaya. “karena jika bukan pindah, lalu apa lagi yang bisa gadis itu lakukan? Dia masih terlalu muda untuk tinggal seorang diri disini, pasti sekarang ini dia sudah kembali bersama keluarga.” Jawab orang tersebut.
Tante Kinan menggeleng, ‘Tidak, tidak mungkin! Tidak mungkin ia kembali ke keluarganya!’
Hati yang sudah pasrah dan putus asa, serta perasaan bersalah mulai menyelimuti perasaan Tante Kinan. Dirinya sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi, jika Natasya benar-benar kembali ke tempat itu. Dia bisa mati! Bahkan hidupnya akan lebih menderita dari yang lalu.
“Nan, gimana donk? Anak itu gak ada, trus kita cari kemana?” tanya wanita itu dengan cemas.
Tante Kinan yang terdiam memikirkan sesuatu hal pun, langsung tertegun saat ia menyadari bahwa Natasya punya kenalan di tempat kerjanya. Mereka sangat dekat, dan bahkan Natasya pernah sesekali kepergok olehnya karna masih telponan ditengah malam.
__ADS_1
“Kita pergi ke kantornya!!” cekat Tante Kinan yang langsung menarik tangan wanita itu pergi dari sana. Meninggalkan orang tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata pun. “E-ehh...Kinan!! Ada apa kau ini? Lepaskan aku!!” wanita itu ditarik oleh Tante Kinan yang membuat dirinya kesulitan untuk berjalan.
Namun disana Tante Kinan hanya terdiam tanpa melepaskan genggaman tangannya pada tangan wanita itu, tetapi langkah kaki Tante Kinan perlahan mulai melambat hingga membuat wanita yang berjalan dibelakang mudah mengimbangi langkah kakinya.