
“ Edward, kamu bisa pulang sekarang gak, nak? Ini ayah ingin bicara sama kamu “ kata bunda
“ Bisa, bentar lagi nanti Edward pulang “
“ Yaudah kalau gitu, kamu hati-hati ya “ kata bunda yang hanya berbicara singkat dalam telpon
“ Hm “
Edward pun mematikan telponnya dan menyimpannya kembali kedalam saku celana lalu menatap gadis yang ada di sebelahnya tengah menunggunya sambil Memainkan hpnya. Sedangkan Natasya yang menyadari Edward telah selesai menelpon, ia langsung menyimpan hpnya juga didalam saku celananya.
“ Aku akan pulang sekarang, jika kau ingin pulang maka pulanglah bersama Arya tapi jika kau masih ingin mengerjakan pekerjaanmu maka jangan terlalu malam saat pulang “ kata Edward
“ baiklah, mungkin aku akan pulang nanti. Aku coba periksa berkas-berkas dulu di atas, jika sudah maka aku akan pulang pakai taksi “ jawab Natasya yang menatap lelaki didepannya
“ Tidak perlu, apa kau lupa soal kunci mobil yang aku tadi berikan? “ tanya Edward sembari melipat tangan didadanya
“ tidak kok “ jawab Natasya
“ Kamu kembali ke atas jika ingin memeriksa berkas-berkas yang ada, nanti aku akan hubungi Arya untuk menunjukkan dimana mobilnya “ kata Edward
“ Hm...baiklah, terimakasih atas pemberiannya tuan “ ujar natasya yang sedikit menunduk
“ Aku permisi dulu “ kata Edward sembari berjalan keluar kantor
Natasya yang berada disana pun hanya terdiam saat melihat punggung Edward yang berjalan keluar melewati gelapnya malam. Setelah beberapa saat, barulah gadis itu beranjak ke lift untuk pergi ke ruangan Edward untuk memeriksa beberapa berkas
*
__ADS_1
*
*
Di sisi lain, kini Edward sudah berada di rumah dan melihat bahwa rumahnya kini terlihat seperti ada tamu. Yaps..benar saja, baru saja Edward masuk ia langsung melihat di ruang tamu sudah ada Tante Lucia, ayah bundanya dan wanita yang tadi ia temui ditaman saat bersama Natasya.
Ayah yang menyadari kedatangan Edward pun langsung memanggilnya untuk bergabung, Edward yang merasa terpanggil pun hanya mengangguk dan berjalan mendekati mereka lalu duduk di sofa yang kosong. Ekspresi yang kini ditunjukkan Edward hanyalah ekspresi dingin
“ Edward, apa kau tau kenapa ayah memanggilmu kesini? “ tanya ayah
“ Mungkin soal pernikahan atau pertunangan “ jawab Edward yang langsung membuat semua yang di sana terkejut
“ Bagaimana kau tau soal itu? “ tanya bunda yang memincingkan matanya
“ Karna sangat tidak mungkin kita akan bicara seperti ini jika bukan karna membicarakan soal itu “ jawab Edward
Kedua orangtuanya terdiam saat mendengar jawaban itu keluar dari mulut Edward, lelaki yang kini bersikap dingin sekarang mudah sekali mengungkapkan perasaan yang ia tidak sukai dan jarang ia ungkapkan rasa yang ia sukai.
“ Edward, maaf ini semua atas kemauan Tante, nak. “ kata Tante Lucia yang menyambung
Edward hanya melirik kearah Tante Lucia dengan tatapan dinginnya, hingga Tante Lucia tanpa sadar bergidik ngeri dengan tatapan itu namun ia terus melanjutkan pembicaraannya dan tujuannya datang ke sini.
“ Tante kesini memang ingin membicarakan soal pertunangan kamu dengan Melisa, Tante pengen kalian bisa bersama untuk mempersatukan hubungan kita dan hubungan pekerjaan. Tante harap juga kamu bisa mencintai Melisa dan menerima pertunangan ini, Ward. “ kata Tante Lucia
“ huh...Maaf Tante, sekarang ini aku masih belum memikirkan soal itu. Sekarang aku masih ingin fokus dengan perusahaanku dulu “ tolak Edward yang halus
“ Tapi Edward, kamu sudah cukup berumur dan seharusnya kamu juga sudah memikirkan soal itu kan “ kata Tante lucia yang masih membujuk dengan cara halus
__ADS_1
“ Aku tidak memiliki Perasaan dengannya sekarang, dan aku juga tidak menginginkan seseorang untuk jadi pendampingku “ jawab Edward
“ tapi Perasaan itu akan tumbuh sendiri jika kalian sudah terbiasa bersama bukan? “ Kata Tante Lucia
“ memang, perasaan akan datang jika kita sudah terbiasa tapi perasaan juga tidak bisa dipaksa untuk mencintai seseorang. Karna aku tidak pernah menentukan hatiku ingin dengan siapa namun hatikulah yang menentukan dengan siapa aku nantinya. “ jawab Edward dengan suara dingin
Semua terdiam saat mendengar jawaban Edward, memang benar jika semua itu yang menentukan adalah hati dan bukanlah diri kita seorang. Bunda yang melihat Edward memang benar-benar tidak mudah jatuh cinta pun merasa bersalah jika terus memaksa putranya untuk menikahi wanita yang belum tentu ia cintai.
“ Edward? “ kata bunda dengan suara lembutnya
“ Hm? “
“ Jadi kau menolak ini? “ tanya bundanya Untuk memastikan
Tante lucia yang tidak ingin Edward menolak pun langsung menyelak pembicaraan Edward dengan bundanya mengenai pendapat Edward.
“ Mbak, tolong jangan terburu-buru! Lebih baik kita coba saja dulu mendekatkan mereka mungkin nanti akan ada keajaiban datang dan membuat Edward mencintai putri saya “ kata Tante Lucia
Bunda yang mendengar itu hanya terdiam dan melirik kearah Edward untuk mendapatkan jawaban dari putranya ini karna ia tidak ingin membuat keputusan sepihak lagi. Edward yang mengerti itu langsung berdiri dari duduknya berjalan menuju tangga.
Semuanya hanya melihat itu dengan tatapan kebingungan, saat langkah Edward terhenti saat ingin memulai anak tangga yang pertama.
“ Baik jika itu keinginan Tante, kita akan coba selama 3 hari. Jika selama 3 hari aku tidak dapat mencintai Melisa maka aku akan membatalkan semua ini “ kata Edward yang membuat wajah Tante lucia tersenyum lebar
Selesai mengatakan hal itu dan tanpa menunggu jawaban dari Tante Lucia, Edward kembali berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Ia sudah tak peduli dengan semua yang ada di sekitarnya lagi dan terutama soal cinta ataupun pernikahan.
Sesampainya di kamar, Edward langsung melepas jas hitamnya lalu melemparnya ke atas kasur dan di ikuti dengan hempasan tubuhnya. Edward merebahkan tubuhnya yang lelah diatas kasur, terdiam sejenak sambil menatap langit-langit yang gelap.
__ADS_1
Bergumam sesuatu sebelum ia menutup matanya lalu tertidur...
“ Aku tidak akan menikmati cinta maupun pernikahan jika kau disana masih terjebak di gelapnya masa lalu "