Aku Masih Menunggumu

Aku Masih Menunggumu
Bicara dengan Arya sangatlah menenangkan


__ADS_3

“B-baiklah kalau begitu nona” Angguk para penjaga itu dengan ragu. Sementara angel masih terdiam ditempat dengan posisi kepala yang menunduk. “Angkat kepalamu! Kau tidak perlu menurunkan reputasimu hanya untuk bicara dengan wanita biasa sepertiku” kata Natasya dengan suara dinginnya.


Mendengar hal itu, angel pun perlahan mulai mengangkat kepalanya, lalu menatap Natasya dengan tatapan seperti orang pada umumnya. Dari manik matanya juga tidak terlihat kesombongan sedikitpun hingga itu membuat Natasya sedikit mempercayai atau menyetujui pertemuan ini. “Kalian kembalilah ketempat, jika tuan Edward keluar dan menanyakanku, bilang saja jika aku sedang ada urusan!” Natasya berkata kepada para penjaga itu


“Baik nona!!”


Para penjaga yang telah mendengar perintah dari Natasya pun langsung kembali berjalan ke tempat mereka berjaga. Tidak ada yang mengerumuni mereka lagi, hingga itu membuat angel sedikit menghela nafas dengan lega. “Apa kita bisa pergi sekarang?” Natasya bertanya tanpa melirik ataupun menolehkan kepalanya kearah angel.


Angel mengangguk dengan cepat, lalu mulai berjalan untuk menunjukkan arahnya. Sedangkan Natasya hanya mengikutinya dari belakang dengan ekspresi datarnya.


...--🥀🕊️--...


Disisi lain, Edward yang tengah terdiam di meja kerjanya, membuat Arya yang disana merasa sedikit jengkel dengan sikap lelaki ini. “Kau ini kenapa? Apa bertengkar lagi dengannya?” tanya Arya tanpa memikirkan posisi mereka sekarang.


Edward mengangguk tanpa menjawab, dan hal itu semakin membuat Arya terheran. “Berbicara saja kau sampai harus bertengkar, apa setiap saat jika kau berbicara dengannya akan berakhir pukul-pukulan?” Edward menggeleng, “Tidak, aku hanya sedikit kehilangan kendali saat si brengsek itu memancingku”


Arya terpaku, “Tumben sekali? Kau ini tidak biasanya lho mudah terpancing seperti ini. Apa dia memancingmu dengan kaitan sahabatmu dulu?”

__ADS_1


“Eum... seperti itulah, dia memang tidak pernah berubah. Selalu saja memancingku dengan masa lalu itu” respon Edward yang sedikit lelah memiliki sahabat dekat seperti jihon. “Dia tidak berubah, tapi kau yang berubah.” Bantah Arya dengan sembari berjalan menuju sofa yang selalu diduduki oleh Natasya.


Mendengar hal itu, Edward mengerutkan keningnya, “Apa maksudmu?” “Apa maksudku? Bukankah sudah jelas sekali, jika kau disini yang telah berubah. Aku bukannya membela jihon, tetapi jika dilihat-lihat dari perilakumu yang dulu dengan yang sekarang, bisa dikatakan benar-benar berbeda. Bahkan aku bisa menyebutnya sebagai kau bukan Edward, dan siapa kau?” Arya berkata sambil melipat kedua tangannya didada


Edward terdiam, sedangkan Arya yang melihat itu kembali berkata “Aku pikir, kau masih belum sepenuhnya menerima dunia ini. Bahkan kau sepertinya masih ingin kembali ke duniamu yang dulu, dimana kau masih bisa merasakan kebahagiaan diatas penderitaan.....Ward, kau ini sudah besar. Aku tidak perlu menjadi guru nasehatmu lagi, karena kau ini pasti sudah bisa berpikir bagaimana harus menjalankan semuanya yang sudah hancur berantakan.


Menjalankan sesuatu dimasa sekarang, bukan berarti kau kembali menempatkannya seperti yang kau lakukan dulu. Perbaikilah masa lalu mu disini! Karna disuatu hari nanti, akan banyak masalah yang harus kau hadapi.”


“Berkata itu mudah, karna kau tidak merasakannya” Edward berkata dengan nada seraknya. “Ya, berkata itu memang sangat mudah dilakukan oleh orang-orang untuk menasehati orang yang tengah menghadapi masalah. Tapi aku disini, berkata untuk kau selesaikan masalahmu! Bukan kembali kemasa lalumu. Aku juga tidak pernah tau bagaimana hancur dan buruknya masa lalu mu, karna aku tidak pernah menginginkan hal itu terjadi padaku.


Dari melihatmu saja, aku sudah tau jika kau pasti sudah berkali-kali memikirkan untuk menghabisi nyawamu sendiri kan?”


Arya menghela nafas panjang “Sebaiknya kau pulang dan beristirahatlah! Hari ini kau terlihat buruk, karena memikirkan hal itu.” Edward menggeleng “Tidak bisa, aku masih harus memeriksa beberapa dokumen penting hari ini, dan siang nanti kau bilang aku harus menghadiri sebuah acara penting di *****”


Arya tertegun, ia baru mengingat akan hal itu. Sial, benar-benar bodoh dirinya sampai melupakan akan hal penting itu. “Biarkan aku yang menangani hal itu semua, kau tidak perlu memikirkannya lagi” sahut Arya yang sedikit meruntuki dirinya sendiri.


Edward mengangguk, “Hm...baiklah aku akan pulang. Tapi jika kau memiliki masalah disini, jangan lupa kabari aku.” “Baik-baik, kau tidak khawatir akan hal itu. Sekarang kau pulanglah! Aku sudah menyuruh salah satu bodyguardmu untuk mengantarmu pulang, dan mungkin sekarang dia sudah menunggumu dibawah” Arya berkata sambil menatap layar ponselnya

__ADS_1


Edward menjawab sekilas lalu beranjak dari duduknya, lalu berjalan menuju pintu untuk keluar dari ruangannya. Arya yang terdiam melihat Edward tengah berjalan keluar dari ruangan tersebut membuatnya menghela nafasnya dengan lega. Menatap pintu tersebut dengan lekat lalu bergumam.


“Kau memang pintar dan ahli dalam dunia perbisnisan, tapi menurutku kau hanyalah orang bodoh yang menyembunyikan identitasmu dengan kelebihanmu. Aku yakin dengan kau menyelesaikan itu, kau dapat hidup normal seperti orang pada umumnya. Tapi jika kau terus-menerus tenggelam dalam dunia itu, maka mungkin kau akan berakhir ditengah jalanmu”


Kringg!!


Suara ponsel Arya berdering, serta menunjukan nomer seseorang tengah menghubunginya. Arya yang mendengar hal itu langsung mengambilnya dan mengangkat telpon tersebut. “Sial, lama sekali kau mengangkatnya!” bentak seseorang dari dalam telpon yang membuat Arya dengan sontak mengelus telinganya.


“Bukankah aku sudah cepat mengangkatnya? Kenapa kau masih mengomeliku?” tanya Arya pada seseorang itu. “Cikh...itu tidak penting, sekarang kau sibuk tidak? Aku ingin bicara denganmu” Seseorang itu berkata dengan nada kesalnya. Entah apa yang telah membuatnya kesal dan kenapa kekesalannya ini ditumpahkan ke Arya.


“Bicara? Mengenai apa? Apa kau ingin membicarakan tentang keluhanmu terhadap Edward lagi padaku?” tanya Arya.


Seseorang itu terpaku, terdiam sejak hingga membuat Arya disana menghela nafasnya lagi. “Kau sepertinya terlalu berlebihan tadi, memukulinya sampai seperti itu apa kau tidak kasihan dengannya? Dia sudah dibuat keras oleh keadaan dan keluarganya, apa kau juga akan membuatnya keras juga?”


“Tidak, aku hanya memberikan penjelasan atas kesalahannya itu” Elak seseorang itu dengan rasa tidak bersalah. “Semenjak kau pergi keluar negeri ternyata bukan merubahmu menjadi lebih baik, malah merubahmu menjadi sombong diatas masalah orang ya” cibir Arya yang sengaja memancing emosi dari seseorang tersebut


“Apa maksud dari perkataanmu hah, sialan?!!” bentak seseorang itu yang tidak terima.

__ADS_1


Arya menghela nafas, “Aduhh...kau ini apa tidak sakit tenggorokanmu, jika berteriak seperti itu? Lagipula apa aku salah berbicara seperti itu jika yang aku bicarakan itu nyata denganmu? Kau ini terkadang bisa menasehati orang lain, tapi kau sendiri terkadang lupa untuk menasehati dirimu sendiri”


__ADS_2