Aku Masih Menunggumu

Aku Masih Menunggumu
Edward salah menulis alamat?


__ADS_3

Sesampainya di parkiran apartemen, Natasya turun dari mobil dan diikuti oleh Edward setelahnya. Mereka berdiri disamping mobil dengan posisi saling berhadapan.


“Kau pergi beristirahatlah” Edward berkata sambil menyandarkan tubuhnya di sambil mobil.


Natasya sedikit mengangkat kepalanya, “Apa kau akan pulang sekarang?”


“Ya, aku akan pulang setelah ini.” Edward memandang Natasya yang jaraknya tak jauh darinya


Natasya mengangguk tanpa menjawab, sedangkan Edward kembali melanjutkan perkataannya. “Pagi ini kau tidak perlu datang ke kantor, kau beristirahat saja di apartemen”


Natasya terpaku, “Kenapa tidak? Apa kau pikir aku akan sakit jika memaksakan kerja setelah pergi bersamamu semalaman ini?”


“Tidak, aku hanya ingin kau beristirahat. Kau sudah banyak aktivitas hari ini. Dari mulai merawatku dan menemaniku berjalan-jalan, jadi untuk hari ini beristirahat saja, urusan kantor akan aku urus dengan arya.”


Natasya terdiam, membuat Edward disana tersenyum sambil merenggangkan salah satu tangannya untuk mengelus kepala natasya dengan lembut. “Sudahlah, tidak perlu memikirkan apapun. Sekarang pergilah beristirahat, aku akan segera pulang untuk bersiap ke kantor dan terimakasih juga atas kerja kerasmu hari ini”


“Tidak perlu berkata seperti itu. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan”


Edward terkekeh kecil sambil menurunkan tangan besarnya dari kepala Natasya, berjalan masuk kedalam mobil sport hitamnya. “Aku pulang dulu, kau jangan terlalu lama disini. Bahaya!” Edward mengingatkan Natasya layaknya seorang kakak dari gadis itu.


“Iya, aku tau itu. Aku akan segera naik ke atas setelah kau pergi”


Edward mengangguk sambil menghadap kedepan, dan mulai menjalankan mobilnya. Meninggalkan Natasya diparkiran seorang diri. Sebenarnya Edward ingin mengantar Natasya sampai kamarnya, tetapi ini sudah hampir pagi. Takutnya menimbulkan pembicaraan yang tidak masuk akal.


Jadi dengan terpaksa, Edward hanya mengantar Natasya sampai diparkiran saja. Disisi lain, Natasya masih terdiam ditempat memandang mobil sport hitam itu melaju kencang dikegelapan malam. Setelah mobil itu susah tidak terlihat lagi, Natasya barulah membalikan tubuhnya dan berjalan masuk kedalam apartemennya.


Suasana di koridor cukup sepi namun masih ada beberapa orang yang sudah bangun untuk berangkat kerja.


Sesampainya disana, Natasya langsung duduk di sofa ruang tamunya. Merenggangkan kaki dan tangannya yang terasa sangat lelah. Kelopak matanya juga perlahan turun dan menutup pandangannya, dia benar-benar merasa ngantuk sekarang.


“Aku tidur 10 menit saja deh”

__ADS_1


Natasya berkata sambil memposisikan tubuhnya menjadi tiduran disofa yang ukurannya cukupnya. 1 jam kemudian berlangsung begitu cepat, Natasya terbangun dari tidurnya karna mendengar suara ketukan pintu dari luar.


Dengan rasa terpaksa, Natasya pun menarik tubuhnya untuk bangun dan beranjak menuju pintu tersebut. Lalu merapihkan sedikit rambutnya yang berantakan, barulah ia membukakan pintu. Saat pintu terbuka, terlihat ada seorang lelaki berbaju hitam dengan sesuatu ditangannya tengah berdiri tegak di depan pintunya.


Natasya menyipitkan matanya, “Ada apa?”


“Maaf telah menganggu waktu mu nona. Aku datang kesini, mendapatkan perintah dari tuan besar untuk memberimu ini” Lelaki itu menunjukan sebuah bingkisan di tangannya kepada Natasya


Natasya heran, “Apa itu?”


“Ini...hm...maaf nona, sebaiknya anda melihatnya saja sendiri.” Lelaki itu dengan ragu menjawab pertanyaan Natasya


Natasya yang merasa tidak memesan sesuatu pun langsung menolak bingkisan dari lelaki berbaju hitam ini. “Maaf, aku tidak memesan apapun. Sepertinya kau salah orang”


Lelaki itu terbingung, “Salah orang? Tidak nona, pesanan ini memang diajukan untuk nona yang bernama Tasya diruangan no 53” lelaki itu memeriksa kembali kertas kecil yang ada didalam saku celananya.


Sepertinya itu catatan dari pesanan yang memang untuknya, tapi dari siapa? Natasya tidak ingin menerima sesuatu dari seseorang yang tidak jelas. “Aku benar-benar tidak merasa memesan, sepertinya orang itu salah menulis no kamar.”


“Sepertinya tidak nona, orang yang memesan ini adalah orang yang benar-benar penting. Bagaimana bisa dia salah menulis no kamar?” bantah lelaki itu


“Tentu saja, Tuan besar Chen. Apa nona mengingatnya?”


Natasya dengan sontak terpaku. Apa dia tidak salah dengar? Tuan besar Chen itu bukankah Edward? Tapi kenapa lelaki itu memesan bingkisan yang diajukan ke apartemennya?


Natasya yang kebingungan pun hanya bisa menerima bingkisan itu dan akan menanyakannya pada Edward. “Baiklah, aku terima. Terimakasih” Natasya meraih bingkisan itu


“Tidak masalah nona, kalau begitu saya izin permisi”


Lelaki itu pun pergi meninggalkan natasya, sedangkan Natasya juga ikut berbalik masuk kedalam lagi. Meletakan bingkisan itu diatas meja dan membukanya. Saat bingkisan itu terbuka, tercium lah aroma lezat dari dalam.


Apa itu makanan? Ya tentu saja.

__ADS_1


Natasya mendapati beberapa makanan pedas, sayur bening serta buah-buahan kecil didalam sana. Semua terlihat menggugah selera, tetapi Natasya baru ingat jika makanan ini dipesan oleh Edward. Jadi sekarang ia harus menanyakannya lebih dulu pada lelaki itu.


Natasya mengambil hpnya dari dalam saku celananya, lalu menekan beberapa tombol. Setelah itu barulah ia menempelkan pada telinganya. Menunggu beberapa saat untuk telpon itu tersambung. Tak lama kemudian, suara serak pun terdengar dari telpon.


“Halo, ada apa?”


Natasya terdiam, tidak tau harus bertanya bagaimana. Membuat seseorang yang ditelponnya ini juga sedikit kebingungan karna tidak mendapatkan jawaban dari Natasya.


“Tasya? Ada apa?” Edward bertanya lagi


Natasya tersadar, “Tidak ada, maaf apa aku menganggumu?”


“Tidak, aku sedang Bersantai sekarang. Ada apa kau menelponku?” Edward bertanya dengan nada lembutnya, membuat Natasya semakin tidak enak dalam menanyakan soal makanan itu.


Berpikir sejenak, lalu berkata, “Tadi ada seseorang datang membawa bingkisan ke kamarku dan berkata bahwa kau yang memesannya. Saat aku lihat, didalamnya ada beberapa makanan. Aku pikir kau salah saat menulis alamatnya. Apa aku perlu mengantarnya ke kantormu?”


Edward yang mendengar itu pun tertawa kecil, merasa bahwa gadis ini benar-benar menggemaskan. Jelas-jelas dirinya menulis alamatnya itu pada pesanan, seharusnya dirinya tau akan hal itu. Bukannya malah mengira Edward salah menulis alamat.


Natasya yang mendapati Edward tertawa pun langsung mengerutkan keningnya, “Apa yang kau tertawakan? Apa yang lucu?”


“Tidak ada...soal makanan itu, kau tidak perlu mengirimnya ke kantor” Edward berkata setelah tertawa nya terhenti


Natasya mengerutkan keningnya, “Kenapa? Ini kan kau yang pesan. Ini juga banyak sekali. Apa kau ingin makan bersama seseorang?”


“Tidak, makanan itu untuk mu. Aku memesannya tadi” Edward mengakuinya


Natasya terpaku, “Hah? Untukku? Kenapa?”


“Apa kau tidak ingat, kita malam makan diluar karna persediaan dirumahmu sudah habis?” Edward mengingatkan kejadian semalam


Natasya mengangguk, “Aku mengingatnya”

__ADS_1


“Baguslah jika kau mengingatnya. Sekarang kau makanlah makanan itu, jika sudah dingin maka tidak akan enak”


Edward berkata dengan layaknya seorang ayah yang sedang mengingatkan putrinya makan. Walaupun mereka seumur, tapi Natasya jika bersama Edward selalu berpikir bahwa lelaki ini seperti orang yang telah dewasa.


__ADS_2