
Natasya terbangun di tengah malam, memandang dalam diam Edward yang tengah tertidur disampingnya. Jika dilihat-lihat, wajah tidur lelaki ini jauh lebih tampan daripada dia sedang tersadar. Karna ketampanan dan kesempurnaan lelaki ini telah ditutupi oleh ekspresi dingin serta aura yang mengerikan.
“Apa yang kau lihat? Apa wajahku begitu tampan, sehingga kau terus-menerus menatapku?”
Edward membuka matanya dengan senyuman licik, membuat Natasya dengan sontak menutup matanya. Seakan-akan kejadian tadi tak pernah terjadi. Sungguh hatinya berdetak dengan kencang, dan perasaan yang malu karna diam-diam menatap lelaki itu.
“Jangan terlalu narsis, wajahmu itu biasa saja dimataku” Natasya mengelak
Edward terkekeh, “Jika ketampananku ini kau lihat biasa saja, lalu bagaimana dengan lelaki yang dipinggiran sana?”
Natasya yang mendengar itu pun langsung menatap Edward dengan tatapan yang tajam, tetapi Dimata Edward itu sangat menggemaskan. Berpikir, apa benar ini adalah Natasya yang dulunya dikenal dingin dan sangat susah untuk diajak dekat?
“Kau benar-benar lelaki tidak tau malu”
Natasya pun beranjak dari tempat tidurnya dengan kesal, hati nya kini terus meruntuki dirinya sendiri karna sudah mengakui lelaki itu sebagai lelaki tampan. Edward yang melihat Natasya hendak berjalan keluar dari kamar, langsung berkata
“Ingin kemana?”
“Makan, lapar! Kau mengurungku hingga membuatku kelaparan, jika kau terus mengurungku samai pagi. Mungkin aku sudah akan mati”
Menyelesaikan perkataannya, Natasya kembali berjalan keluar dari kamar tanpa menolehkan sedikit kepalanya kebelakang. Saat didapur, Natasya langsung mencari beberapa persediaan makanannya, namun memeriksanya didalam lemari, ternyata semuanya sudah habis.
Natasya menghela nafas dengan kasar, “Sial, makanannya sudah habis. Lalu bagaimana caranya aku mengesampingkan rasa laparku ini?”
Sibuk memasrahkan diri, tiba-tiba ada sebuah tangan datang menyentuh pintu lemari yang sedang terbuka itu. “Ada apa? Katanya ingin makan, kenapa malah melamun disini?” Tanya suara itu dari belakang Natasya
Membuat gadis itu dengan malas mengangkat kepalanya keatas. “Aku lupa jika belum membeli beberapa persediaan makanan.”
“Jadi sekarang, tidak ada makanan disini?”
__ADS_1
Natasya mengangguk sambil menurunkan kembali pandangannya. “Yasudah, sekarang kamu ganti baju dulu sana. Aku akan menunggumu diruang tamu” Edward berkata sambil mengelus kepala natasya dengan lembut
Natasya membalikan tubuhnya, menghadap lelaki itu. “Ganti baju? Untuk apa?”
“Tidak perlu banyak tanya, kau ganti baju saja. Aku akan menunggumu” Edward berkata dengan penuh misterius
Natasya yang terheran dengan Edward pun hanya bisa menyetujuinya. Berjalan pergi masuk kedalam kamar untuk berganti pakaian sesuai dengan permintaan Edward, sedangkan Edward hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum
-Bagaimana bisa dia bisa melupakan itu?-
Beberapa menit kemudian, Natasya pun keluar dari kamarnya. Dia terlihat memakai pakaian yang simple, hanya dengan atasan baju hitam lengan panjang dengan bawahan celana panjang hitam serta rambut panjang yang sedikit bergelombang terurai.
Natasya berjalan menghampiri Edward yang tengah duduk disofa sambil memainkan hpnya. “Sedang apa kau?” Natasya bertanya sambil melihat layar hp Edward. “Menyuruh orang untuk memeriksa beberapa file penting di kantor” Edward menjawab tanpa mengangkat kepalanya sedikit pun
“Apa ada masalah di kantor?” Natasya ikut duduk disamping lelaki itu. Melupakan perasaan heran yang sebelumnya ia rasakan.
Edward menolehkan kepalanya kesamping, tepat dimana Natasya duduk disebelahnya. “Kau ini sepertinya begitu peduli ya dengan masalah diperusahaanku.”
“Jika hanya bertanya, maka lupakan saja hal itu. Ayo kita pergi!” Edward beranjak dari duduknya sambil menarik tangan Natasya. Berjalan keluar dari ruangan bersama. Disepanjang koridor, Natasya merasa canggung, karna Edward masih belum kunjung melepaskan genggaman tangannya.
“Kau ini sebenarnya ingin kemana? Kenapa begitu tergesa-gesa?”
Natasya berjalan dibelakang Edward, bersusahpayah mengimbangi langkah kaki Edward namun tidak bisa. Memang, Edward kini sedang berjalan dengan santai namun karna kakinya cukup panjang. Itu membuatnya langkah kakinya menjadi besar.
Natasya saja perlu berjalan cepat demi mengimbanginya.
Sesampainya dibawah, Edward langsung menuju mobil hitam yang terparkir didepan mereka. Natasya awalnya sempat terbingung dengan mobil itu. Namun jika sudah dekat, Natasya baru mengenali mobil sport itu.
-Jadi dia membawa mobil kesini?-
__ADS_1
Natasya yang terdiam memandang mobil itu, membuat Edward menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya menghadap gadis yang tengah terdiam ditengah jalan. “Apa yang kau lakukan disana? Cepat kemarilah! Kita akan terlambat nanti” Edward berkata membuat kesadaran Natasya kembali
Dengan cepat, Natasya berlari menghampiri Edward. Saat diperjalanan, suasana didalam mobil sedikit terasa canggung. Keduanya masih terdiam. Akhirnya, Edward pun membuka suaranya untuk memulai topik
“Bagaimana keadaan Liana? Apa dia sudah baik-baik saja?” Edward bertanya sambil melirik sekilas kearah natasya
Natasya sedikit menggeleng dengan ragu, jawaban yang kini dihatinya sangat tidak pasti. Jadi ia ragu untuk menjawabnya seperti apa. “Ada apa? Apa masalah kemarin masih belum selesai?” Edward bertanya lagi, saat mendapati Natasya terlamun
“Masalahnya sudah selesai atau tidak, aku belum dapat kabar darinya. Tapi soal keadaan Tante, dia sudah lumayan membaik. Luka ditubuhnya juga sudah tidak terasa sakit, walau masih terlihat bekasnya” Natasya menjelaskan dengan hati-hati.
Edward terdiam sejenak, “Bisakah kau berikan aku penjelasan tentang masalah Liana?”
“Penjelasan yang bagaimana? Bukankah aku sudah menjelaskannya padamu?” Natasya terlalu malas mengulang kembali perkataannya dulu
Edward menghela nafas, “Kau ini jangan terlalu menganggap remeh kekasaran lelaki. Bagiku, semakin kau membiarkan dia bertindak seperti itu, maka membunuh pun lelaki itu tidak akan memikirkan perasaan orang lain lagi”
Natasya terdiam, dan Edward kembali melanjutkan perkataannya. “Memang jika masalah itu diketahui oleh polisi akan membuat masalah semakin besar, tapi apa kau akan tetap diam saja, melihat seorang wanita yang sudah berumur itu diperlakukan kasar?”
Natasya menggeleng
“Aku tau, kau takut membuat nyawa dari Tante itu hilang kembali, tapi kalau kau diam saja begini malah justru kau membuat hidup Liana dan ibunya semakin menderita. Hidup didalam kekerasan lelaki itu, bisa membuat mental seorang wanita secara perlahan menjadi lemah lho. Bahkan jika tidak bisa mengontrol diri, mungkin dia sudah bunuh diri”
Natasya tertunduk, “Lalu aku harus bagaimana? Aku ingin sekali membantu mereka tapi sekarang ini aku tidak tau harus bagaimana”
“Tenangkan dirimu, buatlah pikiranmu menjadi jernih terlebih dulu. Karna jika pikiranmu ringan, maka masalah apapun, mungkin bisa kau hadapi” Edward memberi saran
Natasya disana hanya terdiam tanpa menjawab perkataan Edward. Bagaimana bisa dia menjernihkan pikirannya terlebih dulu jika ingin menghadapi masalah jika masalah kecil saja dia bisa memikirkannya secara berlebihan.
Disisi lain, Edward yang melihat Natasya tengah terdiam menunduk seperti memikirkan sesuatu membuat ikut terdiam. Diposisi saat ini, mungkin Natasya perlu ruang untuk memikirkan perkataannya, berharap bisa membantu walaupun sedikit.
__ADS_1
-Jernihkan pikiranmu terlebih dulu, karna semua tindakan harus kau lakukan setelah kau berpikir-