Aku Masih Menunggumu

Aku Masih Menunggumu
menentukan perpisahan atau pengakuan


__ADS_3

“Nomernya tidak aktif sejak kemarin, maka dari itu aku datang kesini untuk mencarinya.” Wanita datar itu menjawab dengan mengeluarkan hpnya. Menekan beberapa nomer di layar hp, kemudian menempelkannya pada telinganya. Menunggu beberapa saat, wanita datar itu langsung menjauhkan hpnya dari telinganya. Raut ekspresinya menampilkan rasa kesal dan cemas.


Edward dapat melihat itu dalam sekali lihat, “Apa masih tidak diangkat?”


Wanita itu terdiam, menatap Edward dengan tatapan pasrahnya. “hn..dia tidak mengangkatnya. Nomernya juga belum kunjung aktif” Edward mengerutkan keningnya, “Nomernya aktif, namun ia tidak mengangkatnya. Tetapi kenapa di hpmu nomernya tidak aktif?” Edward menunjukkan hpnya kearah wanita itu.


Layar hpnya menampilkan bahwa Edward tengah menelponnya, dan panggilan tersebut berdering bukannya memanggil. Wanita itu terkejut, mengangkat hpnya lalu menatapnya dalam waktu yang lama. ‘Nomernya bukannya tidak aktif, tetapi gadis itu yang memblokir nomernya’


“Tidak mungkin, tidak mungkin dia memblokir nomerku!” wanita itu berkata dengan nada tidak percaya, membuat teman wanitanya menolehkan kepalanya kearahnya. “Nan kenapa? Apa yang tidak mungkin?” tanya wanita itu dengan cemas.


“Dia memblokirmu, apa kau memiliki masalah dengannya?” tanya Edward yang menyambung pembicara 2 wanita itu. “Tidak, sebelumnya aku tidak memiliki masalah dengannya. Tapi kenapa sekarang dia malah memblokir nomerku tanpa alasan?” wanita itu menggeleng dan trus menatap layar ponselnya dengan rasa tidak percaya.


Edward menghela nafas, “Tidak memiliki masalah dengannya, lalu kenapa kau meninggalkannya sendirian? Bahkan kau membiarkan terjun di dunia perbisnisan yang kejam ini di umurnya yang masih muda, apa kau berniat mencelakainya?”


“Tidak!! Apa yang kau bicarakan ini?” bantah wanita itu dengan menatap Edward Edward tatapan tajam. “Aku tidak pernah berniat sedikitpun untuk melukainya. Kau jangan berkata sembarangan ya!”


“Lalu kenapa kau meninggalkannya?”


Wanita itu terdiam, “I-itu, i-itu karna aku memiliki pekerjaan lain di luar negeri. Dan harus ku kerjakan beberapa bulan. Dan aku juga sudah berpamitan dengannya” “Berpamitan atau tidak, kau tetap saja telah mengingkari janjimu, Tante” tekan Edward dengan nada dingin.


Wanita itu adalah Tante Kinan, dan wanita yang bersamanya adalah Stella. Sahabat kinan setelah Elisa pergi. Mereka berdua sudah kenal sejak SMA dan Elisa sendiri mengenali Stella namun mereka berdua tidak pernah ketemu, karna tempat tinggal yang berjarak jauh.


Elisa memang sahabat dekat Kinan, namun Stella lah yang paling tahu tentang Kinan. Karna Kinan sendiri masih menutup sedikit dirinya pada Elisa. Baginya, Elisa terlalu baik dan lembut untuk mengetahui siapa dirinya.


Karna itulah Kinan masih menjadi sahabat misterius Elisa.


“Memanggilku dengan sebutan seperti itu” Tante Kinan terkekeh “Aku tidak pantas”

__ADS_1


Edward menyipitkan matanya, “tidak pantas? Apa maksudmu? Apa karna kau tidak menempati janji, Kau berpikir sebutan itu tidak akan pantas lagi padamu?” Tante Kinan menatap Edward dengan tatapan terbingung. “Maafkan aku, aku seharusnya tidak pergi meninggalkannya” ucap Tante Kinan yang mengaku bersalah.


“Kau tidak salah, aku tahu kau terpaksa melakukan itu. Tapi bagaimanapun aku juga sedikit kecewa dengan apa yang kau lakukan padanya. Aku menyuruhmu untuk menemaninya, aku menyuruhmu agar bisa membuat ia lupa dengan masa lalunya. Tetapi kau sendiri yang malah membuat ia kembali ke masa lalunya.” Jawab Edward sembari memalingkan wajahnya kearah lain.


Stella yang berada disana pun berkata, “Apa kau tidak pernah berkaca? Kau juga meninggalkannya kok!! Kenapa kau berkata seperti menyalahkan semuanya pada Kinan?” Edward melirikkan matanya kearah wanita itu dengan sekilas, lalu beralih ke Tante Kinan yang berdiri tepat disebelah wanita itu. “Seberapa jauh kau menceritakan semuanya pada wanita ini?”


Tante Kinan tertegun, “Aku? Aku tidak pernah cerita dengannya!” Tante Kinan menolehkan kepalanya kearah stella. Menatapnya seperti meminta penjelasan dari perkataannya tadi. “Kenapa menatapku seperti itu? Terkejut kah mendengar aku berkata seperti itu?” tanya Stella dengan santainya.


Sementara Edward, menatap wanita itu dengan tatapan dingin. “Seberapa jauh, kau mengetahuinya?”


“Jauh! Sejauh-jauhnya!” jawab Stella dengan cepat “Bahkan aku juga tahu tentang Elisa tanpa kau beritahu” “Stella, apa maksudmu? Berhentilah berbicara yang aneh-aneh!” Tante Kinan menatap Stella dengan tatapan heran. Merasa bahwa Stella sedikit berubah saat pembicara mereka sudah masuk kedalam inti.


“Berbicara aneh apa? Aku pikir, aku berbicara dengan benar.” Sahut stella dengan mata yang beralih ke Edward yang tengah duduk di meja kerjanya. “Daripada kau duduk disini, lebih baik kau pergi menemuinya sebelum semuanya terlambat! Karna jika kau terlambat sedikit, maka kau tidak akan pernah menemuinya lagi. Sampai kapanpun!!” tekan Stella sembari membalikkan tubuhnya lalu pergi.


Sedangkan Edward yang masih terdiam disana hanya menatap wanita itu dengan tatapan terbingung, namun Tante Kinan dengan cepat menyadarkan kesadaran Edward. “Sekarang dimana Natasya? Apa kau tahu, Dimana dia?” tanya Tante Kinan dengan nada yang sedikit tidak sabar.


“Tapi apa? Apa terjadi?!” Tante Kinan merasakan sesuatu tidak enak dalam hatinya. “Dia berada di kediaman om Yudha, dan sekarang aku lagi menunggu informasi tentang kediamannya.” Jawab Edward dengan hati-hati


“Kediaman Yudha?!!”


...__🥀🕊️__...


Disisi lain, Stella berjalan keluar dari kantor Edward menuju taman samping kantor. Wanita berdiri ditengah-tengah taman dengan ekspresi wajah yang aneh. Wajah yang cantik dan cerianya tidak lagi terukir disana, hanya ada wajah jahat yang terlihat aneh.


Kringg!


Wanita itu mengambil ponselnya yang tengah berbunyi. Menekannya lalu menempelkannya ke telinga. Terdiam beberapa saat lalu berkata “Siapkan saja beberapa orang pilihanku sebelumnya! Sepertinya malam ini akan ada pertunjukan besar di kediaman Jing”

__ADS_1


“...”


“Ahh...aku tahu..bagaimana bisa aku tidak datang untuk melihatnya?”


“....”


“Baik-baik, siapkan saja semua yang ku perintahkan tadi! Tapi pastikan bos tidak mengetahui hal ini, karna kan merepotkan jika pertunjukan ini tertunda”


“....”


“Terluka? Apa dia di siksa selama dipenjara itu?”


“....”


“Ahh... merepotkan sekali, baik-baik! Sekarang pergilah mencari sesuatu yang nanti akan dibutuhkan. Karna dipertunjukkan itu, akan ada seseorang nekad melakukan sesuatu yang berbahaya”


“....”


“Kinan?” Stella tertawa “Dia tidak mengetahuinya, jadi kau tenang saja!”


“....”


“Dia akan mengetahuinya nanti, dan aku akan melihat bagaimana dia nantinya memandangku”


“....”


Setelah mengucapkan kata-kata, Stella pun mematikan telponnya. Lalu menjauhkan ponselnya dari telinganya. Memandang pohon besar yang berada didepannya dengan tatapan dingin. “Pohon ini adalah pohon pertemuanmu, namun kembaran dari pohon inilah yang akan menentukan perpisahan atau pengakuan yang akan kau terima nanti”

__ADS_1


__ADS_2