Aku Masih Menunggumu

Aku Masih Menunggumu
Tahu apa kau soal menunggu?


__ADS_3

“Tidak apa, ini hanya luka kecil. Kau tidak perlu seperti ini” Natasya menyingkirkan tangan Edward yang masih saja mengelus keningnya dengan lembut. Serta manik mata gadis itu juga menatap wajah Edward yang terlihat serius.


“Ssttt...diamlah, aku sedang melihat seberapa besar lukanya ini” Edward berkata sambil melanjutkan kembali tangannya yang sebelumnya terhenti.


Natasya terpaku, “Astaga, apa kau yang katakan? Ini hanya luka kecil, apa maksudmu dari seberapa besar lukanya?”


“Luka kecil darimana, jelas-jelas kau selalu merasa nyeri jika aku menyentuh luka ini” Edward yang tidak fokus pun tanpa sengaja, tangannya terlalu keras saat mengelus bekas kemerahan itu.


Natasya merintih, “Augh...apa kau sedang menyiksaku?”


Natasya menatap Edward dengan tatapan tajamnya, sedangkan Edward merasa bersalah karna tindakannya yang tidak disengaja itu. “Maaf, aku tidak sengaja tadi. Apa luka ini masih terasa sakit?” Edward kembali memeriksa luka itu.


Berpindah kesisi lain, suara pintu terbuka dengan kencang. Membuat Natasya dan Edward yang sedang berdekatan dengan sontak langsung menjaga jarak diantara mereka. Terlihat dari arah pintu, ada seorang wanita dengan dress mewahnya tengah berjalan anggun menghampiri mereka. Serta senyum manis yang terukir diwajahnya


Dia benar-benar bagaikan peri digelapnya malam. Natasya yang melihat kedatangan wanita itu, dan seorang lelaki yang berjalan dibelakangnya membuat suasana berubah menjadi suram. Aura yang keluar dari Edward juga seketika membuat natasya terlonjat kaget


Benar-benar sangat dingin dan mengerikan. Memang wajah lelaki itu tampan namun dengan auranya membuat seseorang yang berdiri disebelahnya memilih untuk pergi dari sana.


“Selamat malam Edward, maaf aku sedikit terlambat” Wanita itu berkata saat berhenti tepat didepan Edward.


Sikapnya memang berwibawa, namun sikap manjanya membuat orang bergidik geli saat melihatnya. “Sedang apa kau disini?” Edward bertanya dengan nada dinginnya. “Sedang apa aku disini? Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau sedang bercanda, Ward?” wanita itu mencoba menyentuh lengan panjang Edward namun lelaki itu dengan cepat mundur satu langkah besar kebelakang agar menghindari persentuhan dengan wanita itu.


Sontak, wanita itu terkejut dengan reaksi Edward. “Kenapa kau menjauh? Apa kau masih tidak suka saat aku menyentuhmu?”


“Jika sudah tau, kenapa malah bertanya?”

__ADS_1


Wanita itu terpaku, “Kenapa Kau bersikap seperti ini? Bukankah malam ini kau mengundangku untuk makan?”


Edward dan Natasya terkejut secara bersamaan. Mereka tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh wanita itu. “Apa maksudmu? Aku tidak pernah mengundangmu makan!” Bantah Edward yang merasa bahwa dirinya tidak melakukan itu


Wanita itu menolak, “Bagaimana tidak, jelas-jelas kau mengundangku. Kenapa kau melupakan itu? Apa kau tidak memikirkan seberapa lama aku bersiap untuk ini? Aku sudah merasa senang mendapatkan undangan mu, tapi kenapa sekarang kau bersikap seolah-olah kau tidak melakukan itu?”


Edward terdiam, menatap dingin wanita itu. Sedangkan Natasya kebingungan dengan apa yang sedang terjadi sekarang. “Kau kenapa selalu seperti ini, aku tau kau belum bisa membuka hati untukku. Tapi disini aku juga terus nungguin kamu buat siap dengan pertunangan ini, Ward”


Edward menyipitkan matanya, “Menungguku? Tahu apa kau soal menungguku?”


Wanita itu terpaku, ia tidak tau harus menjawab apa. Menunggu? Wanita ini memang sedang menunggu Edward untuk membuka hati untuknya tetapi arti dari menunggu itu apa? Dirinya tidak mengetahui itu.


“Menunggu itu adalah mengharapkan sesuatu yang telah pergi, datang kembali kepada kita.”


Natasya menjawab dengan suara datarnya, membuat ketiga orang yang ada disana menatapnya dengan spontan. Mereka menatap Natasya dengan cara pandang yang berbeda. Edward menatap Natasya dalam diam namun dalam hatinya menganggumi


Sedangkan natasya yang menjadi pusat perhatian membuat dirinya dengan ekspresi datarnya melanjutkan kembali perkataannya. “Kau bilang, kau menunggunya. Tapi rasanya kau seperti memaksa Edward untuk masuk kedalam kehidupanmu?”


Wanita itu terbingung, “Apa maksudmu? Aku tidak pernah memaksanya untuk masuk kedalam hidupku”


“Jika kau bukan memaksa lalu apa? Kau selalu mengungkit, bahwa kau menunggunya. Bukankah jika kau menunggu, itu berarti kau akan terus ditempat yang sama sampai seseorang yang kau tunggu itu kembali?” Natasya berkata sambil berjalan menghampiri wanita itu


Wanita itu hanya menatap natasya dengan tatapan benci, ia ingin sekali membuat gadis didepannya ini hancur. Namun disisi lain, ia teringat bahwa ada Edward yang tengah berdiri disana juga.


“Jika kau menunggunya, maka tunggulah sampai dia benar-benar membuka hati. Tapi jika kau tidak bisa, maka carilah seseorang yang bisa menerimamu apa adanya. Jangan pernah memaksa seseorang untuk mencintaimu, karna hati seseorang memiliki jalannya sendiri.” Kata Natasya saat berhenti tepat didepan wanita itu.

__ADS_1


Wanita itu terdiam sejenak, berkata dengan suara yang pelan “Kau berkata seperti itu, karna kau tidak pernah merasakan apa sakitnya menunggu seseorang itu”


“Jika sakit, maka berhentilah berharap. Karna kau seorang wanita, kau seharusnya yang dicintai bukan yang mencintai”


Setelah menyelesaikan perkataannya, Natasya langsung membalikan tubuhnya. Berjalan menghampiri Edward, kalau berkata “Kau bicaralah dengannya terlebih dulu, aku rasa dia butuh penjelasanmu”


Edward menatap Natasya dengan diam, tidak mengatakan sepatah katapun.


“Aku akan menunggumu disini, kau pergi selesaikan masalahmu. Aku tidak ingin melihat diantara kalian ada yang seperti ini lagi” Natasya berjalan melewati Edward sambil menepuk kepala lengan besar lelaki itu.


Memberikan sebuah kepercayaan bahwa Edward bisa menyelesaikan masalah ini. Membiarkannya hidup dengan tenang tanpa ada seorang wanita yang memaksanya untuk mencintai.


Edward mengangguk, lalu berjalan menghampiri wanita itu tetapi dia tidak berhenti. Melainkan berjalan melewatinya sambil berkata, “Ikut aku, kita selesaikan masalahnya malam ini”


Natasya yang melihat Edward dan wanita itu pergi, membuatnya tersenyum kecil. Berharap masalah dari mereka selesai, tidak ada lagi orang bodoh yang menunggu dan tidak ada lagi orang yang terpaksa mencintai wanita karena kontrak.


Saat kepergian keduanya hilang, natasya langsung kembali berekspresi datar. Hatinya sedikit terasa ada yang hilang namun ia tidak tau apa itu.


Di aula utama restoran.


Edward dan wanita itu berdiri dengan berhadapan ditengah-tengah aula utama yang sepi. Suasana malam serta keheningan membuat perasaan menjadi canggung. Keduanya masih belum membuka suaranya untuk berbicara.


Wanita itu terlihat memandang Edward dengan penuh harapan bahwa lelaki ini akan menjawabnya sesuai harapan, sedangkan Edward menatap wanita itu dengan dingin. Ia benar-benar bosan harus menghadapi masalah ini lagi


Mau dibicarakan bagaimanapun jika sudah cinta buta maka akan mustahil jika dibicarakan hanya dengan mulut.

__ADS_1


“Jadi bagaimana jawabanmu?”


__ADS_2