Aku Masih Menunggumu

Aku Masih Menunggumu
Apa dia alasan dibalik berubahnya sifatmu?


__ADS_3

Natasya dan Edward pulang dengan keheningan diantara mereka. Semua terjadi setelah kejadian dirumah Liana selesai membuat keduanya menjadi sangat canggung untuk berbicara. “Kenapa kau menghentikanku, saat aku ingin menelpon polisi?” Edward bertanya


 


Natasya awalnya terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu, “Tidak apa-apa, hanya menghindar sesuatu yang lebih parah dari ini saja” Edward terpaku “Apa maksudmu?” Edward menatap Natasya sekilas dengan tatapan kebingungan


 


Natasya menghela nafas pelan lalu sedikit menunduk kepalanya, “Kejadian kau ingin kau lakukan pernah terjadi padaku dan itu membuat ibu Liana nyaris terbunuh” Edward memincingkan matanya, apa ia tidak salah dengar? Apa maksud dari semua itu?


 


“Awalnya juga aku tidak terima dengan perlakuan kasar itu dan mencoba menghubungi kepolisian, tetapi alhasil bukannya membuat masalah menjadi selesai, malah membuat masalah semakin rumit. Aku jujur juga tidak tahan dengan itu, tapi aku juga tidak bisa membiarkan ibu Liana terbunuh oleh lelaki bajingan itu” Natasya mulai menjelaskan


 


Edward mengangguk, ternyata jalan ceritanya seperti itu. Pantas saja natasya menghentikannya tadi, ia tidak ingin melihat seseorang kehilangan sosok ibu yang amat sangat berharga bagi seorang anak. Karna dirinya sudah merasakan hal itu dan itu sangat menyakitkan


 


“Aku paham sekarang, maaf atas tindakan terburu-buruku” Edward mengakui kesalahannya


 


“Tidak apa, aku juga paham. Kau baru saja mengetahui hal ini bukan, jadi wajar saja jika reaksimu seperti itu” Natasya berkata sambil menenangkan dirinya


 


Sedangkan Edward hanya terdiam sambil diam-diam melirik kearah Natasya yang tengah duduk disebelahnya, gadis itu tampak sangat rapuh tetapi berusaha menguatkan dirinya agar tidak terlihat seperti itu Dimata orang lain. Rasanya ingin memeluknya dan memberi sedikit kekuatan tetapi saat ini belum waktu yang tepat untuk dia melakukannya.


 


Biarkan gadis itu sendiri yang memeluk dirinya sendiri karna sahabat yang terbaik adalah diri kita sendiri.


 


Setelah Edward mengantar natasya ke apartemennya, Edward kembali kerumah dalam waktu menjelang malam. Karna diperjalanan juga sedikit macet, itu juga salah satu alasannya ia terlambat untuk pulang. “Edward, kamu darimana saja? Kenapa baru sampai?” bunda bertanya saat melihat Edward masuk kedalam ruang tamu


 


Edward melirik dingin lalu menghela nafas dengan kasar “Ada sedikit masalah, dijalan juga macet”


 


Bunda yang merasa mood Edward lagi dalam keadaan buruk pun langsung menahan beberapa pertanyaan dalam hatinya, ia tidak ingin menganggu lelaki itu dulu “Yasudah, kamu istirahat dulu sana dikamar. Nanti bunda bilang ke bibi, suruh antarkan kamu makanan”

__ADS_1


 


Edward menolak dengan halus “Tidak perlu, aku sudah makan. Aku ingin istirahat saja” bunda yang mendengar itu hanya menghela nafas dengan pelan lalu tersenyum “Baiklah kalau begitu, kamu istirahat dulu. Nanti kalau lapar, turun saja. Bibi sudah memasak banyak makanan didapur”


 


Edward hanya menjawab sekilas lalu berjalan menaiki tangga, sementara bunda hanya terdiam memandang punggung Edward yang secara perlahan mulai menghilangkan dari pandangannya. Bunda menghela nafas dengan pelan lalu menunduk kepalanya


 


Ia merasa Edward sejak bertemu dengannya, masa sekali tidak ada kedekatan diantara mereka. Hanya ada kata asing yang membuat jarak antara ibu dan anak ini. Ayah yang melihat kemurungan bunda pun membuatnya berjalan menghampiri bunda tengah terdiam ditempat dengan ekspresi yang sedikit terlihat sedih


 


“Sayang, ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat sedih? Apa kau memiliki masalah?” ayah bertanya dengan memegang bahu bunda dari belakang


 


Bunda menggeleng “Tidak ada, sayang. Aku Cuma merasa heran, kenapa aku dan Edward tidak bisa menjadi ibu dan anak seperti yang lainnya. Kenapa kita harus seperti orang lain jika saling bertemu?”


 


“Apa maksudmu? Kau dan Edward sudah menjadi ibu dan anak, kenapa kau selalu berpikir kau dengannya masih seperti orang asing?” ayah berkata sambil menatap bunda dengan penuh keyakinan


 


 


“Berhenti berkata seperti itu, wajar jika reaksi Edward masih seperti itu kepadamu. Mungkin dia butuh waktu untuk memasukkan kamu kedalam hidupnya. Kumohon kau mengerti dengan semua kejadian yang telah Edward lewati sebelumnya. Menurutku, luka itu pasti masih berbekas dihatinya dan itu membuatnya tidak bisa menerima orang baru” Ayah berkata dengan serius


 


Bunda terdiam sejenak, jika mengingat semua cerita tentang Edward, ia merasa sedih dengan kejadian yang dialami Edward. Seharusnya ia mengerti dengan kondisinya dan bukan malah mempermasalahkan kedekatannya kepada Edward.


 


“Maaf sayang, aku salah. Seharusnya aku tidak pernah berpikir seperti itu.” Bunda menundukkan sedikit kepalanya


 


“Tidak apa, aku mengerti perasaanmu. Sudahlah tidak perlu kau pikirkan! Sekarang pergilah kekamar untuk istirahat, aku akan ke kamar Edward terlebih dulu.” Kata ayah


 


“Kekamar Edward? Untuk apa?” bunda bertanya dengan rasa penasaran

__ADS_1


 


“Hanya menanyakan sesuatu, nanti aku akan beritahu setelah selesai bicara dengannya” ayah mencium kening bunda lalu berjalan naik keatas untuk pergi ke kamar Edward


 


Sedangkan bunda hanya tersenyum mendapatkan ciuman itu lalu menghela nafas dengan pelan, “Kamu ini ada-ada saja”


 


Disisi yang tak jauh dari sana, ayah sudah berdiri didepan pintu kamar Edward, dengan perlahan ia mengetuk pintu tersebut, “Edward, apa kamu didalam? Bisakah ayah masuk?” Ayah bertanya dari balik pintu hingga membuat Edward yang didalam kamar menjawab pertanyaan itu


 


“Ada. Masuk saja, pintunya tidak dikunci”


 


Mendengar jawaban itu, ayah perlahan membuka pintu itu lalu terlihat bagian dalam kamar yang cukup besar. Ada lelaki tengah berdiri didepan meja belajarnya dengan ekspresi dingin yang menatap kearahnya. “Ada apa?”


 


Ayah menggeleng lalu berjalan masuk kedalam. Duduk disofa yang letaknya di samping ruangan kamar, dekat dengan pintu yang mengarah ke balkon. “Ada yang ingin ayah bicarakan sama kamu” Ayah berkata sambil menatap Edward yang masih terdiam didalam ditempat yang sama


 


“Bicara? Tentang apa? Jika tentang bunda, maka lain waktu saja. Aku sedang malas membicarakan itu” Edward melirik sekilas ke arah ayah yang sedang duduk disofa “Kenapa kau begitu tidak suka jika aku membicarakannya? Apa kau masih belum menerima semua itu?” ayah bertanya dengan nada serius


 


“Apa kau tidak dengar apa yang kubilang? Aku sedang tidak ingin membicarakan itu! Jika kau masih membicarakan itu maka kau keluarlah dari sini! Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu” Edward berkata dengan nada kesal serta suara yang keras


 


“Baiklah ayah tidak akan membicarakan itu. Sekarang aku ingin bertanya, siapa wanita yang tadi pagi menjemputmu?” ayah menganti topik pembicaraan “Siapa dia? Bukanlah urusanmu!” Edward menjawab dengan nada tidak suka


 


“Apa dia yang selama ini kau maksud? Apa dia alasan dibalik berubahnya sifatmu?” ayah bertubi-tubi bertanya kepada Edward “Ayah, berhenti bicara! Aku tidak ingin menjawab apapun tentangnya” Edward memalingkan wajah kesalnya


 


“Kenapa? Apa kau takut aku menyadari semua itu? Sesuatu yang kau sembunyikan selama ini?” Ayah bangun dari duduknya dan menyamakan tingginya dengan Edward “Tidak ada alasannya aku takut dengan semua itu, aku hanya tidak suka jika kau Membicarakannya” Edward menatap ayah dengan tatapan dingin


 

__ADS_1


__ADS_2