Aku Masih Menunggumu

Aku Masih Menunggumu
Mencari Natasya di tengah malam


__ADS_3

Sesampainya di kediaman Jing. Edward, Tante Kinan serta Arya langsung keluar dari mobil untuk melihat pemandangan bangunan yang menjulang tinggi dihadapan mereka. Mereka tidak terkejut lagi dengan bangunan itu, karna keluarga Jing adalah keluarga tingkat 6 terkaya di negara mereka.


Arya yang melihat bangunan tersebut sangat gelap, membuat kerutan didahi lelaki itu pada sadar terlihat. “Kenapa sangat gelap sekali? Apa disini tidak ada orang?” Edward dan Tante Kinan yang mendengar hal itu ikut mengerutkan kening. Menyadari bahwa bangunan itu memang sangat gelap dan sangat sepi. Tidak ada orang yang tengah melakukan kesibukan di malam ini.


“Apa semuanya sudah tertidur??” Tante Kinan menatap Edward dengan tatapan yang bertanya-tanya. Sementara Edward hanya terdiam menatap bangun gelap itu, lalu mengangkat tangannya untuk melihat layar ponselnya yang ada ditangannya. “Mereka bukannya tertidur, tapi memang tidak ada disini”


“Apaaa?!!”


Kedua orang itu dengan sontak terkejut, berteriak begitu keras hingga membuat Edward yang diteriaki nya menutup telinga dengan jari telunjuknya. “Lalu dimana mereka? Kau bilang mereka ada disini, tapi kenapa sekarang kau malah berkata mereka tidak ada disini?” tanya Tante Kinan disela-sela kebingungannya.


“Aku baru mengetahuinya” Edward membalasnya tatapan Tante Kinan dengan tatapan dinginnya. “salah satu orang bawahanmu mengirimkan lokasi, Dimana tempat itu terdapat Natasya didalamnya.”


Tante Kinan tertegun, “Di-dimana tempat itu? Apakah orang bawahanmu dapat melihat keadaan Natasya? Apakah dia baik-baik saja?” Edward terdiam, menatap sejenak layar ponselnya, lalu berkata “Tidak, dia hanya mengirimkan lokasi serta bukti-bukti yang ada di tempat itu.”


“Lalu, apakah lokasinya jauh dari sini?” tanya Tante Kinan lagi. Sementara Edward menggeleng “Tidak terlalu jauh jika kita cepat. Karna aku merasa hal buruk akan terjadi nantinya”


Setelah mengucapkan kata-kata itu, pandangan Edward beralih ke tempat berdirinya Arya. “Pergi, katakan pada mereka, kita akan pergi ke tempat lain. Dan beritahu juga bahwa informasi ini, tidak memungkinkan.” Arya yang mendengar hal itu, segera mengangguk dengan sigap lalu berbalik arah untuk pergi menjalankan perintah dari Edward.


Sementara Edward masih terdiam disana, sembari menatap punggung Arya yang tengah pergi menjauh dari hadapannya. “Kita pergi duluan!” ucap Edward sembari masuk kedalam mobil, lalu diikuti oleh Tante Kinan dari belakang.

__ADS_1


Mobil sport hitam itu pun melaju cepat di kesunyian malam, Serta udara dingin yang terus membuat suasana menjadi hening. “Rio, kamu ingin kemana? Kenapa kita pergi dari sana?” Tanya Tante kinan yang masih di tengah kebingungannya. Edward melirik dingin, memberikan suatu peringatan besar pada ucapan Tante Kinan tadi. “Berhenti memanggilku dengan nama itu! Aku sangat membencinya”


Tante Kinan tertegun mendengar jawaban dari perkataan Edward tadi, “A-apa maksudmu? Kenapa kau bicara begitu?” Edward yang dalam kondisi hatinya buruk pun langsung memukul kemudi dengan keras. Hal itu tentu saja membuat Tante Kinan terlonjat kaget melihat apa yang telah dilakukan oleh Edward.


“Berhenti membicarakan hal itu, dengar tidak?!!”


Lelaki itu tampak marah, sangat marah. Tante Kinan dapat merasakannya hingga tak sadar bahwa tubuhnya kini tengah bergetar. Hati Tante Kinan terasa sakit, namun merasa kasihan dengan sikap Edward saat ini. Ingin meraih bahunya dari belakang, namun sadar bahwa itu hanya akan membuat amarahnya kembali naik.


Disisi lain, Edward lain menginjak gas dengan kencang. Membuat mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi, laki-laki ini cukup berbahaya jika tengah dalam kondisi hati yang buruk. Bisa-bisa nyawa akan melayang jika satu mobil bersama dengannya. “Edward, apa yang kau lakukan?! Pelan-pelanlah. Ini sangat bahaya!!!” teriak Tante Kinan dari kursi penumpang belakang.


Suara teriakan itu menyadarkan sedikit kesadaran dalam emosi Edward, perlahan lelaki itu mulai memperlambat kecepatan mobilnya hingga stabil.


...--//--...


Itu menandakan ada beberapa orang yang masih beraktivitas di malam hari. Manik mata Edward menatap tajam beberapa bangunan tersebut, serta mulut yang sedikit berkomat-kamit.


Terdiam cukup lama, akhirnya Edward pun berbalik badan menghadap Tante Kinan lalu berkata “Tetaplah di sini sampai arya dan yang lainnya datang! Aku akan masuk terlebih dulu untuk mencari keberadaan Natasya” Tante Kinan yang mendengar itu, langsung menggelengkan kepalanya. Menolak keputusan yang telah diambil oleh Edward tanpa pikir panjang.


“Tidak! Kau tidak bisa masuk kesana! Itu sangat berbahaya. Lebih baik kita tunggu sampai yang lainnya datang, baru kita masuk bersama-sama” saran Tante Kinan sembari menahan tangan besar Edward. “tidak apa Tante, aku akan berhati-hati. Jadi Tante tunggulah disini!!” jawab Edward sembari pergi meninggalkan Tante Kinan.

__ADS_1


Lelaki itu masuk kedalam bangunan tersebut, terlihat seperti lorongnya sangat gelap. Hanya menyisakan lampu yang sudah redup di setiap sisi bangunannya. Edward sendiri hampir mengalami kesulitan saat mencari jalan untuk pergi ke kamar 542.


Setelah berjalan cukup lama, Edward akhirnya bertemu dengan satu pintu yang terlihat cukup Kotor dan berdebu. Pintu itu cukup besar, bahkan letaknya saja paling terpencil dari kamar-kamar yang lain. Didaerah lorongnya juga tidak terdapat lampu sama sekali, hingga itu yang membuat orang menyangka tidak jalan ini tidak akan pernah ada.


-Masuk!!-


Sebuah pesan singkat muncul dari layar ponselnya Edward, membuat lelaki itu mengerutkan keningnya dengan ragu. “Apa ini ruangan 542?” tanya Edward pada dirinya sendiri. Menatap kearah pintu itu lagi, lalu menegukkan rasa keraguan sendiri.


‘Ini adalah ruangan 542, ruangan tersisah dari semua ruangan yang kulewati sebelumnya. Apakah Natasya berada disini?’


Semua pertanyaan konyol terus memutar dibenak lelaki itu, perasaan tidak yakin ikut menyelimutinya hingga membuat ia ragu dengan ruangan terakhir ini.


-Cepatlah masuk!! Kau tidak memiliki banyak waktu-


Pesan itu muncul kembali, membuat Edward menarik nafasnya lalu menghembuskannya secara perlahan. Manik lelaki itu menatap layar ponsel lalu beralih ke arah pintu itu. ‘Aku tidak tahu kau siapa, tetapi kenapa kau seperti membantuku?’ batin Edward sembari mendorong pelan pintu besar itu.


Sreekk!!


Pintu itu terbuka dengan membuat suara yang keras. Karna takut ketahuan, Edward segera masuk kedalam sana, lalu manik mata yang dingin seketika terbelalak terkejut saat melihat sesuatu yang ada didepannya.

__ADS_1


Hati dan pikirannya kini menjadi berantakan, jantungnya pun berdegup dengan kencang serta tubuhnya gemetar dengan hebat. Hatinya terasa sangat sakit, namun rasanya ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya sedikit pun.


‘Tidak mungkin!!!’


__ADS_2