
“kita ini sebenarnya ingin kemana sih? Apa kau tidak bisa memberitahuku?” Natasya bertanya disela-sela jalan mereka
Mendengar hal itu, Edward menolehkan kepalanya kesamping. Tepat Natasya berjalan, “Menurutmu kita akan kemana?”
Sialan! Lelaki ini bukannya menjawab pertanyaannya, malah membalikan pertanyaan. Memang jika pergi bersama itu pasti diawali dengan rasa penasaran. Natasya yang mendengar jawaban itu pun langsung membuang muka dengan malas dan itu membuat Edward yang melihatnya tertawa kecil.
“Aku sudah bilang, kalau kau akan tau nanti jika kita sudah sampai” Edward berkata sambil mengelus kepala natasya dari belakang
“Kenapa harus sudah sampai? Apa kau tidak bisa memberitahuku sekarang? Memangnya untuk apa kau menyembunyikannya dariku?”
Edward mengangguk, “Baiklah, aku akan beritahu.”
“Jadi hari ini adalah ulan tahun besar keluarga MU, keluarga yang kini sedang bekerjasama dengan perusahaan ku. Keluarga MU ini bisa disimpulkan sebagai keluarga terbesar di negara ini no 4. Kekayaan mereka juga cukup melimpah, bahkan dari pekerja dari perusahaan mereka sangatlah yang terbaik. Jadi karna mereka hari ini berulang tahun, aku harus mengikutinya.”
Natasya mengangguk paham, “Lalu hubungannya dengan kita ingin kemana apa?”
Edward yang mendengar itu pun langsung menggelengkan kepalanya, merasa bahwa gadis ini sedang tidak fokus dalam menyimpulkan semuanya. Jadi dengan perlahan, Edward mencubit pipi tembem Natasya dengan gemas.
“Kau ini bisa lemot juga ya”
Natasya yang merasakan cubitan tersebut pun langsung menatap Edward dengan tatapan tajamnya, “Apa susahnya, jika kau menjelaskannya lebih detail? Aku ini tidak paham, kenapa kau malah mengejekku?”
Edward mengganti cubitan tersebut menjadi sebuah elusan yang lembut di pipi mulus Natasya. Tangan kasar dan besar Edward merasa bahwa pipi Natasya cukup kenyal dan lembut. Benar-benar sangat enak jika sedang memainkannya.
Mendekatkan wajahnya pada wajah Natasya, dengan tangan yang masih mengelus lembut pipi Natasya. “Ikut aku, dan kau akan tau nanti!”
Setelah menyelesaikan perkataannya Edward langsung menjauhkan wajahnya dari gadis itu, lalu dengan sigap menarik tangannya dengan cepat namun lembut. Lelaki itu tidak membiarkan Natasya membuka suaranya untuk membantah perkataannya lagi.
“Wa-ward!!”
Panggil Natasya dari belakang yang terhuyung-huyung menyamakan langkahnya dengan Edward. Namun apa yang diharapkan oleh Edward, ia terlihat seperti tidak peduli dengan penolakannya ini.
__ADS_1
Saat mobil, Natasya terus meruntuki Edward di dalam batinnya, serta wajahnya yang cantik kini terlihat menggemaskan karna masamnya.
“Tidak perlu ngambek seperti itu, aku bukannya tidak ingin menjelaskannya padamu. Tetapi aku lebih suka, jika kau mengetahuinya secara langsung” Edward mengusap kepala Natasya dengan lembut.
Sedangkan Natasya terdiam tanpa menjawab perkataan lelaki itu. Gadis itu terdiam bukan karna tidak memiliki jawaban untuk Edward, melainkan ia tahu jika sebenarnya lelaki ini memang ingin menjelaskannya saat mereka tiba di tempat yang ingin mereka tuju.
Natasya mengangguk dan membuat Edward tersenyum kilas.
Tak lama, hp Edward berbunyi. Menandakan adanya telpon. Dengan sigap, Edward langsung mengambil hpnya dibalik jas hitamnya. Natasya yang berada disamping Edward pun ikut menoleh karna mendengar hp Edward yang berbunyi.
Terlihat saat hp itu sudah ditangan Edward, lelaki itu terdiam sejenak sambil memandang layar hpnya. Natasya yang melihat itu hanya diam dengan penuh rasa heran. Ingin bertanya namun takut mengurusi urusan pribadi lelaki itu.
Terdiam cukup lama, Edward pun menekan layar hpnya. Lalu menempelkan pada telinganya. Terdengar suara berisik dari telpon yang menandakan Telpon itu sudah tersambung.
“E-edward?”
Suara cemas terdengar dari dalam telpon. Suara itu penuh kekhawatiran serta rasa rindu yang tidak dapat ungkapankan. Suara itu lembut, membuat Edward dengan cepat mengenali siapa yang tengah menelponnya.
“Edward? Apakah ini kau?” suara itu terdengar semakin cemas, dan bahkan suara itu bergetar seperti ingin menangis
Edward mengangguk, “Ya, ini aku. Ada bunda menelponku?”
“Bunda, khawatir denganmu. Kemana saja kau kemarin? Kenapa Telpon bunda tidak pernah kamu angkat? Apa kau memiliki masalah?” bunda berkata dengan suara seraknya
Edward terdiam sejenak, “Tidak ada, maaf jika kemarin aku tidak mengangkat telponmu. Hpku mati dan lupa di Cass jadi tidak tau jika ada telpon dari mu”
Natasya yang mendengar perkataan Edward pun langsung melirik sekilas kearah lelaki itu, Berpikir bahwa lelaki Ini sedang menyembunyikan sesuatu yang telah terjadi sebelumnya. Tapi kenapa?
“Sungguh? Apa kau tidak sedang berbohong padaku?” Suara itu bertanya pada Edward karna merasa ragu dengan jawaban lelaki itu.
Edward menyandarkan tubuhnya disandaran kursi sambil berkata “Untuk apa aku berbohong padamu? Lagipula tidak ada gunanya juga aku berbohong padamu.”
__ADS_1
“Tapi kenapa kau tidak pulang, jika tidak terjadi apa-apa? Dan sekarang, dimana kamu?”
“Aku dijalan, jadi tidak bisa berbicara terlalu lama denganmu. Jika ingin bicara, maka bicaralah nanti”
“Di jalan? Kau ingin kemana?”
“Ke acara pertemuan penting”
“Acara apa?”
Edward berdecih, “Kau bisa tanyakan pada ayah. Aku sedang buru-buru. Aku matikan Telponnya!”
Selesai mematikan telponnya, Edward langsung menaruh kembali hpnya didalam saku jas hitamnya. Terlihat raut wajah lelaki itu berubah menjadi suram, ekspresi santainya telah hilang berubah menjadi ekspresi dingin setelah menerima telpon dari seseorang tadi.
Sebenarnya ada apa dengannya? Kenapa mudah sekali mengubah ekspresinya dalam sekejap mata?
Natasya terdiam tanpa menanyakan siapa yang menelponnya tadi. Lelaki itu juga tidak berbicara, dan hanya menjalankan mobilnya dengan ekspresi dinginnya. Membuat suasana didalam mobil menjadi hening dan canggung.
Kenapa setiap hari harus seperti ini? Apa disalah satunya tidak bisa menjadi api untuk menghangatkan suasana? Kenapa selalu ada es disekitar mereka?
Natasya yang terdiam pun membuat Edward menoleh sekilas kearahnya, rasa bersalah dalam hatinya mulai muncul secara perlahan. Seharusnya ia tidak mendiamkan gadis ini, hanya karna permasalahannya. Natasya tidak ada hubungannya dengan masalahnya, jadi jangan memperlakukan seperti itu.
Edward yang merasa canggung pun, perlahan mengangkat tangannya dan meletakkan kearah diatas tangan Natasya yang kini berada diatas kedua pahanya. Menggenggam tangan kecil itu dengan lembut, hal itu membuat Natasya dengan sontak menoleh kearah Edward yang sedang menyetir mobil disebelahnya.
“Maafkan aku”
Lelaki itu ini meminta maaf? Kenapa?
Natasya yang tidak mengerti, kenapa Edward meminta maaf kepadanya pun hanya terdiam dengan penuh rasa heran dihatinya. Bagaimana menjawab perkataan lelaki ini?
Edward disana masih terdiam dengan tangan yang menggenggamkan tangan Natasya dengan tangan kirinya yang besar. Tangan Edward terasa hangat untuk tangan natasya yang dingin. Kenapa lelaki ini tiba-tiba seperti ini? Ada apa dengannya?
__ADS_1
“Maafkan aku, aku salah”