
Keesokan harinya Edward dan Arya kembali bekerja seperti hari biasanya, namun tidak dengan Natasya. Gadis itu tidak datang ke kantor hari ini, dan ketidakhadiran nya juga tidak ketahui, hingga hal itu membuat Edward sedikit cemas dalam diam. “Tuan, apakah masalah kerjasama antar kamu dengan tuan Lu benar-benar dibatalkan?” Tanya Arya yang tengah menatap sebuah map ditangannya.
‘Kemana perginya si bodoh itu? Apa dia pikir, dia bisa seenaknya keluar masuk dari perusahaanku ini’ batin Edward yang tidak mendengar perkataan Arya.
Arya yang melihat Edward tengah terdiam tak mendengar perkataannya, membuat lelaki itu menghela nafas kasar hingga membuat Edward dengan sontak tersadar akan suara helaan itu. “Apaan kau ini? Tidak sopan sekali” tegur Edward.
Mendengar hal itu, Arya kembali menunjukan ekspresi fisik lainnya. Seperti memutarkan bola matanya dengan malas, “Tidak sopan apanya? Aku ini hanya bernafas, tuan.” Edward menyipitkan matanya “Apa harus berbunyi seperti itu?” “Tidak, lagipula kau sendiri kenapa tidak mendengarkan perkataanku? Apa yang sedang kau pikirkan? Sampai-sampai pekerjaan yang selalu kau anggap no 1, sekarang menjadi terlupakan” Arya menjelaskan dengan tak sabar.
Edward terdiam, menurunkan pandangannya kearah berkas yang ada ditangannya. Termenung disana cukup lama, namun Arya yang melihat itu tidak sekalipun memiliki niatan untuk menganggu kembali. “Tidak ada, hanya berpikir bahwa semuanya akan berjalan sesuai dengan keinginannya” Edward berkata dengan pandangan yang masih sama.
Arya mengerutkan kening, “Semua berjalan sesuai dengan keinginannya? Apa maksudmu? Apa yang sedang kau bicarakan?” Arya tidak mengerti maksud dari perkataan Edward, Lelaki itu mencoba mengingat dan menyimpulkan apa yang dimaksud oleh Edward ini.
Setelah cukup lama berpikir, Arya pun menatap Edward dengan tatapan serius. Lelaki itu telah sadar apa yang tengah dibicarakan oleh Edward ini. “Apa maksudmu itu adalah dia? Tapi bukankah seharusnya mereka menjalankannya setelah berhasil menghilangkan semua informasi?”
“Tanpa melakukan hal itu, mereka tetap bisa menjalankannya dengan satu cara” Edward berkata sembari mengangkat kepalanya, menatap lelaki yang tengah berdiri disebrang meja kerjanya. “Satu cara? Apa itu?” tanya Arya yang penasaran. “Memanipulasi target mereka” Edward membuka laci meja kerjanya “Beberapa hari sebelumnya aku mendapatkan data bahwa orang tersebut telah merenggut beberapa nyawa orang dengan cara mengendalikan emosionalnya. Jadi jikalau kasus itu terbongkar, maka bukan pembunuhan namanya, melainkan bunuh diri atau kecelakaan biasa”
Arya yang mendengar hal itu, tidak bisa tidak mengerutkan keningnya. Ia hampir sempat terkejut dengan hal itu, namun yang lebih ia kejutkan adalah pelaku itu sendiri. “Manipulasi? Pada keluarganya sendiri begitu? Apa itu tidak terlalu kejam?” Edward menggeleng “Itu sangat kejam, tapi semua yang dilakukan olehnya, ada suatu penyebab namun aku tidak bisa mengetahuinya”
__ADS_1
“Tidak bisa? Memangnya kenapa?” tanya Arya yang semakin dibuat bingung oleh informasi yang terputus-putus itu. Sementara Edward menghela nafasnya dengan pelan, lalu mulai menjelaskan data rahasia yang selama ini ia simpan.
Selang beberapa menit, akhirnya Arya pun mengerti apa maksud dari informasi tersebut. Bahkan kecurigaannya selama ini, ternyata benar. Kasus pembunuhan yang belum ditentukan telah disembunyikan oleh kerjasama proyek dalam perusahaan Edward.
“Tidak mungkin!” bantah Arya “Mereka itu sudah bekerja dengan kita selama 7 tahun, jadi tidak mungkin jika ada penghianat di sini”
Edward menatap Arya dengan reaksi yang telah ia duga awal, “Jika dipikir secara persaudaraan, maka itu tidak mungkin. Tapi jika kau berpikir secara logika, maka hal itu sudah biasa terjadi di kalangan dunia perbisnisan. Banyak Orang yang menggunakan cara itu, namun kau sendiri tidak menyadarinya.”
“T-tapi...” “Tidak ada tapi, manusia itu pasti akan melakukan berbagai cara untuk mewujudkan keinginannya. Termaksud dirinya” Edward berkata sembari mengangkat pandangannya kearah langit-langit.
...--🥀🕊️--
...
Tante Kinan menggeleng, “Tidak apa, hanya terpikir sesuatu saja”
“Terpikir apa maksudmu?” Wanita itu terbingung, sementara Tante Kinan menghela nafasnya dengan kasar lalu berkata “Gadis yang pernah ku ceritakan padamu, kini dia berbuat nekad.” Wanita itu mengerutkan keningnya “Nekad? Maksudmu?” Wanita itu terus menatap Tante Kinan dengan tatapan kebingungan, namun tak lama dari itu mata wanita itu langsung terbelalak terkejut.
__ADS_1
Sedangkan Tante Kinan hanya terdiam tak merespon apapun. “Dia kembali dengan lelaki itu?” tanya wanita itu disela-sela keterkejutannya. Tante Kinan mengangkat bahunya, “Sadar juga...huh..aku tidak habis pikir dengan anak itu. Padahal jelas-jelas aku sudah melarangnya sekali”
“Lalu sekarang bagaimana? Apa dia masih bertekad seperti itu?” wanita itu panik. “Beberapa hari sebelumnya ia memang mengharapkan itu, tetapi aku tidak tahu sekarang. Dia tidak sama sekali menghubungiku. Bahkan saat aku mencoba untuk menghubunginya, nomernya malah tidak aktif.” Jelas Tante Kinan dengan pasrah.
“Lalu kenapa kau masih disini jika dia tidak ada kabar? Apa kau tidak sayang lagi dengan anak itu?” Wanita itu menatap Tante Kinan dengan lekat. “Aku akan pergi kesana nanti, masalah ku disini masih belum selesai, jadi aku tidak bisa meninggalkannya” jawab Tante Kinan dengan raut wajah yang sedih namun ada kepasrahan di sana.
“Berhenti berbicara bodoh!!” wanita itu berteriak begitu kencang “Apakah pekerjaan itu lebih penting daripada sebuah amanah yang sudah ditetapkan padamu?! Apa kau ingin melupakan amanah dari sahabat kita?!! Apa kau ingin membuatnya bersedih disana?!”
Tante Kinan terdiam, hatinya terasa berat dan bahkan rasa kebingungan serta kepasrahannya membuat diri tidak tahu harus berbuat seperti apa.
“Kinan!! Tenangkan dirimu!!”
Wanita itu meraih wajah sedih Kinan. Mengelusnya dengan perlahan, lalu berkata “Sekarang pulanglah ke negaramu! Temui anak itu, dan jelaskan semuanya. Sebelum lelaki itu ikut campur dalam masalah kalian”
Tante Kinan menatap wanita itu dengan raut wajah yang sedikit tenang dengan perlahan “Lalu bagaimana dengan ancamannya? Aku sangat takut jika dia sampai berani menyentuhnya” ”Tidak perlu memikirkan ancamannya! Aku yakin dia sengaja mengancammu, membuatmu pergi keluar negeri, sementara anak itu hanya seorang diri disana yang membuatnya mudah untuk mencelakainya” bantah wanita itu dengan suara pelan.
Tante Kinan terdiam tanpa menjawab perkataan wanita itu, sedangkan wanita itu kembali berkata “Aku tahu kau khawatir dengannya, aku tahu kau sangat menyayanginya tapi kau sendiri tidak boleh seperti ini jika ingin melindunginya. Karna jika kau seperti ini lebih lama lagi, maka itu hanya akan membuat anak itu kembali kepada traumanya dulu!”
__ADS_1
‘Ya, aku sangat menyayangi anak itu yang dulu pernah kubenci. Bahkan sangat membencinya,' batin Tante Kinan