
“Kenapa tidak melihatnya sendiri?” Edward tersenyum sambil memandang Natasya dari layar laptopnya.
Senyuman tulus yang terukir diwajah Edward seketika menghilang saat matanya melirik ke arah lain. Natasya yang melihat itu pun langsung terdiam, berpikir bahwa Edward adalah seorang lelaki yang mudah merubah ekspresinya dalam jangka waktu dekat.
“Ada apa?” Edward berkata kepada seseorang yang entah siapa itu. Natasya tidak mengetahuinya
“Maaf tuan besar, Masalah informas..”
Edward yang menyadari bahwa dirinya kini sedang menelepon Natasya pun langsung menghentikan orang itu untuk berbicara dengan sebuah isyarat tangan. Orang itu juga hanya mengangguk lalu terdiam sampai Edward mengizinkannya kembali membuka suaranya.
Pandangan Edward beralih ke layar laptop, mengubah ekspresinya menjadi santai. Mencoba menghilangkan rasa penasaran dari Natasya.
“Ward, ada apa? Apa ada masalah di kantor?” Natasya bertanya saat pandangan Edward sudah bertemu dengannya
Edward menggeleng, “Tidak, ini hanya masalah yang lain. Kau tidak perlu khawatir”
“Kau yakin? Apa aku perlu kesana?” Natasya berkata dengan cemas
Edward tersenyum kecil, “Tidak perlu. Kau sudah selesai makan?”
Natasya mengangguk “Ya sudah, jadi aku bisa ke kantor setelah ini”
“Tidak perlu, Kau bersiaplah disana. Aku akan menjemputmu setelah ini” Edward berkata yang membuat Natasya terheran
“Menjemputku? Untuk apa?”
Edward menghela nafas, “Kau bersiap saja! Setelah kita pergi nanti, kau akan tau”
“hn...baiklah” natasya menyetujuinya
Setelah pembicaraan mereka setelah, Edward dan Natasya pun sama-sama mematikan telponnya. Mereka kembali melakukan aktivitasnya masing-masing. Edward pun kembali menampilkan ekspresi dingin kepada seorang lelaki yang tengah berdiri di seberangnya ini.
“Ada apa?” Edward bertanya lagi
__ADS_1
Lelaki itu mengangguk lalu berjalan menghampiri Edward dengan sebuah map ditangannya. Setelah berdiri tepat didepan meja Edward, lelaki itu menyerahkan map tersebut sambil berkata “Sebagian dari informasi yang tuan besar minta sudah terkumpul.”
Edward mengerutkan keningnya, “Sebagian? Kenapa tidak seluruhnya? Apa ada masalah dibagian pencarian?”
“Tidak tuan. Sebenarnya, kami sudah selesai mengumpulkan semua data-data informasi tentangnya. Tetapi, dari sebagian informasi itu ada yang kami sangkal” Jelas lelaki itu
Edward yang mulai serius dengan pembicaraan itu pun langsung menyandarkan tubuhnya di sandaran kursinya sambil melipat kedua tangannya di dada. “Di sangkal? Kenapa?”
Lelaki itu terdiam menunduk, tidak berani berbicara. Membuat Edward disana menatapnya dengan tatapan dingin, seolah-olah tidak puas dengan hasil kerjanya hari ini. “Ma-maaf tuan, bukannya kami sok pintar atau seperti apa, tapi kamu hanya tidak yakin dengan pencarian itu” cicit lelaki itu
“Tidak yakin dengan hasilnya? Apa maksudmu? Bisakah kau jelaskan semuanya kepadaku?!” Tekan Edward yang sudah tidak sabar lagi
Lelaki itu mengangguk, “Kasus yang anda berikan pada kami, memiliki sebuah kaitan khusus dengan teman dari orang tersebut.”
“Kaitan khusus pada teman?” Edward terpaku, dirinya bukan tidak mengerti maksud lelaki itu. Melainkan pemikirannya mulai berjalan dengan aneh.
Lelaki yang melihat Edward terdiam pun langsung melanjutkan kembali penjelasannya. “Kalau dari pencarian ini, teman dekatnya memiliki sebuah hubungan dengan suaminya. Memang mereka tidak dekat, tetapi hari sebelum orang itu hilang. Mereka sempat bertemu disebuah cafe private.”
“Cafe private? Dimana itu?” Edward bertanya dengan rasa tertarik
“Dijadikan pelacur?” Edward memastikan
Lelaki itu mengangguk, “Benar tuan, banyak wanita yang berada di jalanan menghilang akibat ulah mereka. Menjual dan menjadikan wanita sebagai bahan nafsu saja itu sudah melanggar hukum di negara ini”
Edward terdiam, pembicaraannya ini sedikit tidak sejalan dengan apa yang direncanakannya dari awal. Memang sedikit rumit, namun hal ini harus tetap dijalani sampai semuanya selesai.
“Nanti malam, kau kumpulkan semua data-datanya di meja saja. Biarkan saya yang melihat laporannya” Pinta Edward dengan datar
Lelaki itu mengangguk, “Baik tuan”
“Sekarang kau boleh pergi, aku masih banyak urusan disini” Edward berkata sambil menatap jam yang melingkar ditangannya
Lelaki itu mengangguk kembali, lalu berbalik badan untuk berjalan keluar dari ruangan Edward. Namun saat lelaki itu tepat didepan pintu, langkahnya seketika berhenti. Membuat Edward yang melihatnya langsung mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Edward hanya terdiam dan membiarkan lelaki itu yang memulai pembicaraan duluan jika memang ada hal yang harus dibicarakan. Dan benar saja, lelaki itu berbalik badan menghadap Edward dengan raut wajah yang terlihat cemas.
“Tuan, dalang semua ini bukankah targetmu.”
Selesai menyelesaikan perkataannya, lelaki itu kembali membalikan tubuhnya. Lalu meraihkan gagang pintu dan membukanya. Berjalan keluar meninggalkan Edward yang tengah terpaku dengan perkataannya tadi.
Dalangnya bukan targetku? Lalu siapa, dibalik semua ini? Bagaimana mungkin dalangnya mempermainkan orang itu selama hidupnya? Dan bahkan dia bermain dengan bersih, hingga tidak meninggalkan bekas sedikitpun dari tindakannya ini.
Edward yang diambang kebingungan pun langsung mengusap wajahnya dengan kasar. Benar-benar sulit dibayangkan.
-Andai masalah ini bisa diselesaikan lebih cepat, mungkin kesalahpahaman antara aku dengannya juga bisa diselesaikan secara cepat.-
...🥀🕊️
...
Disisi lain, Natasya yang sudah bersiap pun langsung duduk menunggu Edward di sofa ruang tamunya. Gadis itu tampak cantik saat memakai pakaian dress hitam ( pendek ) dengan rambut hitam panjang yang dikuncir kuda.
Tak lama menunggu, suara ketukan pintu pun terdengar. Membuat natasya langsung beranjak dari duduknya dan berjalan menuju kearah pintu. Tangannya perlahan meraih gagang pintu dan membukanya.
Terlihat ada seorang lelaki, tengah berdiri didepan pintu dengan pakaian tak kalah rapihnya dengannya. Lelaki itu tampan dan ekspresi dinginnya juga tak asing di mata Natasya. Tak lain lelaki itu adalah Edward, si lelaki pengatur ekspresi dengan cepat.
Lelaki pengatur ekspresi dengan cepat? Ya, itu julukan baru untuk Edward dari penilaian Natasya.
“Maaf membuatmu menunggu lama”
Edward mengelus kepala Natasya dengan lembut serta terukir senyuman tulus diwajahnya. Edward benar-benar penghangat yang terbaik setelah ibu dan Rio, pikir Natasya dalam batinnya.
Natasya menggeleng, “Tidak, aku juga baru selesai bersiap”
“Benarkah? Kalau begitu, Bisakah kita berangkat sekarang?” Edward menjauhkan tangannya dari natasya.
Natasya mengangguk dengan ragu, “Y-ya terserah dirimu saja”
__ADS_1
Edward tersenyum sambil meraih tangan Natasya lalu menggenggamnya dengan lembut. Salah satu tangan Natasya yang masih terbebas juga menutup pintu saat Edward sudah mengajak nya berjalan. Keduanya berjalan berdampingan layaknya sepasang kekasih.
Keduanya memiliki temperamen yang sama, ‘Dingin, cantik/ganteng’ benar-benar sangat cocok bukan? Bahkan mereka juga memiliki masalah masing-masing dimasa lalu.