Aku Masih Menunggumu

Aku Masih Menunggumu
kami ini bawahanmu bukan mangsamu!


__ADS_3

“Edward?”


Tanpa sadar, nama lelaki itu keluar dari mulut Natasya saat membaca surat tersebut. Karna siapa lagi yang melakukannya jika bukan lelaki itu.


Setelah membaca surat itu, Natasya langsung mengeluarkan beberapa makan instan yang hanya diseduh dalam waktu beberapa menit saja. Natasya juga tidak habis pikir, bahwa Edward akan menyiapkannya sarapan pagi ini. Padahal jelas-jelas dirinya masih mampu membeli makanan ataupun minuman.


Walaupun tidak semewah yang dibelikan oleh lelaki itu terhadapnya, tetapi Natasya masih bisa menikmatinya. Mungkin untuk kali ini, Natasya berhutang banyak pada Edward.


Selang beberapa menit, Natasya pun menghabiskan sebagian makanan instan yang diberikan oleh Edward padanya. Rasanya sangat enak dan pedas, seperti nya lelaki itu sudah tau makanan favoritnya.


Setelah makan, Natasya pun kembali lagi ke kamar mandi. Terdiam sejenak sambil menatap dirinya sendiri di pantulan cermin. Menatap lekat pada perban di lehernya, ia masih tidak mengingat apa yang terjadi pada lehernya ini. Entah karna terlalu lama tidur, jadi membuat pikirannya sedikit tidak fokus atau memang dirinya melupakan hal yang menurutnya tidak penting.


Natasya yang tidak tahan pun langsung mengambil gunting yang berada di atas rak. Ia menggunting perban tersebut hingga terlepas dari lehernya, dan memperlihatkan bekas kemerahan serta luka bekas kuku yang masih berlihat jelas disana.


Natasya saat melihat luka serta bekas kemerahan itu, hanya terdiam tanpa ekspresi. Gadis itu tidak terkejut dengan lukanya, melainkan ia hanya terkejut dengan perbannya.


“Luka ini kan?” Gumam Natasya sembari meraba pelan lehernya. Hal itu membuat wajah gadis itu sedikit merintih karna rasa perih pada lehernya. Natasya yang tidak terlalu memikirkan itu pun langsung membersihkan tubuhnya dengan air, bahkan beberapa lagi Natasya merintih sedikit karna perih yang amat terasa saat air menyentuh kulit lehernya.

__ADS_1


Setelah selesai, Natasya pun langsung memakai pakaian kantor nya, hari ini Natasya tidak menguncir rambutnya seperti biasa karna memang harus menyembunyikan luka dan bekas kemerahan itu. Niatnya ingin menutupi dengan bedak, namun bedak hanya membantu memudarkan dan tidak bisa menutupinya secara sempurna.


Karna memang sudah seperti ini, Natasya pun langsung keluar dari apartemennya untuk pergi ke kantor Edward. Dirinya benar-benar tidak seperti sekretaris pada umumnya, dan pernah berpikir bahwa kini dirinya bekerja dengan Edward tanpa rasa lelah sedikitpun.


Entah memang dirinya tidak merasa atau memang tidak.


Sesampainya disana, Natasya langsung pergi ke ruangan Edward. Dirinya takut lelaki itu akan marah kepadanya karena selalu datang sesuka hati. Namun saat gadis itu membuka pintu ruangan Edward, disana tidak terlihat lelaki berwajah dingin, melainkan hanya Arya yang tengah merapihkan buku-buku yang tersusun di rak.


Arya yang terkejut dengan kedatangan Natasya pun langsung menolehkan kepalanya. Lelaki itu melihat Natasya tengah berdiri didepan pintu dengan tangan yang masih memegang gagang pintu serta nafas yang sedikit Terengah-engah.


“Nona Tasya? Ada apa? Kenapa anda terlihat terburu-buru?” tanya Arya sembari berjalan menghampiri Natasya. Gadis itu yang mendengar pertanyaan Arya, bukannya menjawab malah mengajukan pertanyaan “Dimana Edward? Apa dia belum datang?”


“Tidak nona, Hari ini kantor kita di datangi oleh artis terkenal di kota. Mungkin itu bisa disebut tamu penting” Arya membenarkan perkataan Natasya dengan sabar. “Apa mereka masih lama?” tanya Natasya sembari menutup pintu ruangan Edward


“Aku tidak tau nona, soalnya sudah 1 jam tuan besar belum kembali. Mungkin memang pertemuan mereka cukup penting”


Natasya mengangguk sembari berjalan menuju sofa, lalu gadis itu duduk disana sambil menyandarkan tubuhnya. Arya yang melihat kondisi Natasya yang kurang baik pun langsung bertanya, “Nona, apa anda sedang sakit?”

__ADS_1


Natasya melirik, “Tidak, aku tidak sakit” gadis ini terheran dengan pertanyaan Arya. Memangnya dia terlihat seperti orang sakit, hingga Arya berkata seperti itu?


“Ahh..bukan begitu maksudku nona.” Arya berkata sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kau hari ini terlihat lelah, jadi aku mengira kau sedang sakit”


Natasya menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku tidak sakit. Lagipula tubuhku memang sedikit lelah, tetapi itu tidak begitu bermasalah” Arya yang mencemaskan keadaan Natasya pun berjalan menghampirinya. “Apa kau yakin nona? Jika memang tubuhmu sedang lelah,lebih baik anda beristirahat saja. Biar aku yang memberitahu tuan besar nanti”


Natasya mengangguk tanpa menjawab, gadis itu juga perlahan beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Arya yang melihat jalan Natasya sedikit sempoyongan pun membuat dirinya berniat untuk membantu gadis itu.


Namun saat ia hendak berjalan, pintu ruangan tersebut terbuka dari luar. Menunjukkan seorang lelaki tengah berdiri didepan pintu dengan ekspresi dinginnya. Lelaki itu cukup tingga, hingga membuat Natasya harus mengangkat kepalanya untuk menatap wajah lelaki itu.


Lelaki tinggi dengan ekspresi dingin, tidak salah lagi jika lelaki ini adalah Edward.


Edward yang melihat Natasya berada diruangan bersama Arya pun seketika kerutan didahinya perlahan muncul. Menatap keduanya dengan tatapan dinginnya. Natasya yang merasakan itu pun langsung berjalan menghampiri Edward, lalu berhenti tepat didepannya. “Tidak perlu menatap orang seperti itu! Kami ini bawahanmu, bukan mangsamu”


Manik mata Edward menurun, menatap gadis yang tengah menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa. “Kenapa kau ada disini? Dan sejak kapan kau datang?” Edward bertanya dengan nada dinginnya. Lelaki itu sama sekali tidak merubah nadanya saat berbicara dengan Natasya. “Memangnya kenapa jika aku ada disini? Lagipula aku sudah datang sejak 10 menit yang lalu. Kau saja yang terlalu lama berurusan dengan tamu mu”


Mendengar hal itu, Edward pun menghela nafasnya dengan pelan. Serta menutup matanya untuk menenangkan dirinya. Dia benar-benar tidak habis pikir, jika ia bisa bertengkar dengan jihon saat itu. “Kau bilang baru sampai, lalu kau ingin kemana? Apa kau pikir, bisa seenaknya keluar masuk kantorku?” Edward berkata dengan nada yang sedikit berubah

__ADS_1


Arya yang melihat Edward tengah menatap Natasya dengan tatapan menyeramkan baginya, Arya pun langsung melangkah maju sembari berkata, “Nona Tasya bilang tubuhnya lelah, jadi aku menyuruhnya untuk beristirahat. Dan sekarang dia ingin pulang”


Edward yang mendengar itu pun dengan sontak melirik kearah Arya, lelaki yang berdiri tak jauh dari tempat mereka berdiri. “Lelah? Apa maksudmu?”


__ADS_2