
“Permainan atau tidaknya, aku tidak peduli. Aku hanya ingin informasi tentang tentang ibu. Jika memang harus kembali ke neraka itu, maka aku bersedia melakukannya.” Natasya berkata dengan nada dinginnya.
Tante Kinan disana terus menggelengkan kepalanya, rasa tidak percaya akan sifat Natasya. Ia selalu mengira, Natasya selalu berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Tapi kenapa sekarang dia seperti terlalu terburu-buru? Kenapa dia tidak memikirkan hal buruk yang akan terjadi jika ia kembali masuk kesana?
Natasya yang merasa pembicaraan mereka sudah cukup pun langsung meminta izin kepada Tante kinan untuk mematikan telponnya. Gadis itu terdiam saat selesai menelpon Tante Kinan, ia merasa aneh, kenapa otaknya ini seperti sedang keras kepala. Tidak ingin mendengarkan perkataan Tante Kinan.
Ia seperti ini melakukan sesuatu tetapi ia perasaannya sangat ragu akan hal itu. Entah karna ayah dengan permainannya atau Tante Kinan yang dituduh sebagai musuh dalam selimut. Dan yang lebih anehnya, kenapa itu selalu berputar-putar terus didalam benaknya. Membuat perasaan gelisah muncul secara perlahan.
“Ahh... merepotkan sekali”
Natasya mengusap wajahnya dengan kasar, masalah kali ini benar-benar membuatnya pusing. Masalah janji Rio saja belum selesai dan sekarang muncul beberapa masalah. Apa dunia ini tidak menginginkannya bahagia? Kenapa selalu mendatangkan berbagai macam masalah? Entah dari ayah, Tante Kinan, angel ataupun Hiro.
Kenapa semuanya tidak bisa membiarkannya hidup dengan tenang? Kenapa selalu datang dengan penuh masalah atau tidak, datang dengan penuh teka-teki.
Tenggelam dalam pikirannya, Natasya dikejutkan oleh suara pintu kamar yang terbuka dan menunjukan seorang lelaki yang tengah berdiri dengan bantuan dari tepi pintu. Karna sudah tidak memiliki keseimbangan lagi, lelaki itu pun hendak terjatuh kedepan. Namun Natasya dengan sigap berlari dan menahan lelaki itu agar tidak terjatuh.
“Hey, apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau keluar? Bukankah kau bilang tadi, ingin beristirahat dikamar” Natasya berkata sambil membantu Edward masuk kedalam kamarnya. Suhu dari badan lelaki itu masih saja sama seperti sebelumnya. Membuat natasya sedikit mengkhawatirkan kondisinya.
“Kita ke RS ya, kondisi tubuhnya semakin memburuk” Natasya berkata setelah membantu Edward duduk di tepi ranjang.
Edward menggeleng, “Tidak perlu”
“Tidak perlu bagaimana? Jelas-jelas demam mu masih belum kunjung turun sejak semalam” bantah Natasya dengan menatap Edward “Aku akan telpon Arya dulu, memintanya untuk membawakan aku mobil.”
Natasya yang hendak mengambil hpnya di ruang tamu, Edward lagi-lagi menarik tangan Natasya. Membuat gadis itu langsung terjatuh diatas kasur karna tidak memiliki keseimbangan saat lelaki itu menariknya.
“A-apa yang kau..”
__ADS_1
Belum selesai berkata, Edward langsung ikut merebahkan tubuhnya disamping Natasya lalu memeluk gadis itu. Natasya awalnya sempat menolak tetapj Edward bukannya melepaskannya, lelaki itu malah semakin mempererat pelukan itu.
“Tuan, apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku! Ada apa denganmu?!”
Natasya mencoba memberi jarak antara mereka, namun tidak bisa. Tubuh kecilnya kini telah masuk kedalam pelukan tubuh besar Edward. Natasya yang semakin memberontak didalam pelukan, membuat Edward sedikit kesal namun bukan emosi yang ia keluarkan. Namun sebuah suara serak yang membuat Natasya sedikit terpaku.
“Kau bilang kondisi tubuhku sedang tidak baik. Apa kau pikir, kau seperti ini tidak membuat tubuhku merasa sakit?”
Natasya mengangkat kepalanya, “Tapi kau memelukku seperti ini, benar-benar membuatku sesak.”
“Benarkah?” Edward bertanya sambil mengendur sedikit pelukannya.
Natasya mengangguk, merasa sudah ada sedikit jarak antara mereka membuatnya merasa sedikit lega namun perasaan masih tidaklah tenang. Jantung keduanya sama-sama berdetak begitu kencang. Keduanya sebenarnya menyadari akan hal itu, namun mereka lebih memilih untuk bersikap biasa saja.
“Ada apa? Kau sepertinya tidak nyaman sekali” Edward menatap Natasya dengan tatapan dinginnya
“Bagaimana bisa aku tidak merasa tidak nyaman, jika kita sedekat ini.”
Edward mengerutkan keningnya, “Memangnya kenapa? Ada apa yang salah?”
“Tidak ada, hanya saja ini sedikit tidak pantas dilakukan. Kita hanya sebatas atasan dan bawahan saja.” Natasya mengungkapkan dengan status mereka
Edward terheran, “Memangnya kenapa jika kita hanya sebatas atasan dan bawahan? Apakah kau terlalu memandang penting status?”
“Tidak, aku hanya merasa heran saja. Kita baru saja kenal untuk beberapa Minggu ini, tetapi kenapa kau sudah tidak tau namanya jarak antara kita?” Natasya perlahan mulai mengangkat kepalanya. Membuat pandangan mata mereka bertemu.
__ADS_1
Edward berpikir sejenak. Memang benar, mereka baru saja kenal untuk beberapa minggu ini, tapi kenapa dirinya sudah tidak tau namanya jarak antara mereka? Selalu saja ingin di dekat gadis itu, tanpa sadar Edward juga sedikit merasa gelisah jika mereka tidak bertemu ataupun sedang dalam suasana dingin.
Maksudnya : Dua-duanya gak saling bicara.
“Entahlah, aku juga tidak tau. Aku rasa ini juga sedikit aneh” Edward kembali mendekatkan Natasya kedalam tubuhnya.
Natasya menghela nafas, “Kau yang melakukannya, tapi kenapa kau sendiri tidak tau? Aneh sekali”
Edward yang mendengar itu pun tangannya langsung mengelus bagian kepala belakang Natasya dengan lembut, terkekeh kecil hingga membuat Natasya terheran. Memangnya apa yang lucu dengan perkataannya tadi? Kenapa lelaki ini tertawa?
“Dasar aneh!” cibir Natasya yang membuat Edward menghentikan tawanya
“Kita memang baru mengenal satu sama lain di beberapa Minggu ini, kita juga memang hanya sebatas atasan dan bawahan saja. Tapi bagiku, kita semua itu sama dan aku juga tau kenapa kau merasa tidak nyaman jika kita sedekat ini.” Edward berkata yang membuat suasana menjadi sedikit tegang
Natasya memincingkan matanya, “Apa itu?”
“Setiap kita dekat seperti ini, pasti kau selalu berpikir, aku sedang mempermainkan perasaan tunanganku. Jika boleh jujur, sebenarnya aku sedang tidak seperti apa yang kau pikirkan.” Natasya terdiam yang membuat Edward kembali melanjutkan perkataannya
“Aku sekarang ini sedang tidak mempermainkan perasaan wanita, aku hanya ingin mencari ketenangan. Aku lelah dipaksa terus menerus dengan wanita yang aku tidak cintai. Memang banyak orang yang berkata, bahwa cinta pasti akan datang sendirinya jika kita terbiasa dengannya. Tapi untuk saat ini aku memang sedang tidak mencintainya siapapun”
“Jika kau lelah, kenapa kau tidak bicara saja dengan mereka?” Natasya merespon perkataan Edward
Edward menghela nafasnya, “Aku sudah pernah melakukan itu, tetapi pihak sana tidak terima. Alasannya sih mereka sudah mengikat janji untuk menikahkan putra putri mereka jika sudah besar nanti.”
“Mengikat janji? Apa itu sudah mendapatkan persetujuan dari kau dan putri pihak sana?” Natasya bertanya sambil memandang Edward
__ADS_1
Kini perasaan gelisah ataupun tidak nyaman, perlahan menghilang. Mereka menjadi lebih santai dan tidak mempedulikan seberapa dekat mereka sekarang.