Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Kembalikan Kita Bersama


__ADS_3

"Pagi juga," jawab wanita itu canggung.


Apa benar, sakitnya separah itu? Namun hati Kei bertanya-tanya. Jeremy benar-benar berakting sangat natural membuat Kei segera iba berat pada pria yang semasa dahulu telah banyak menyusahkannya meski tidak pernah bertemu, sekalipun sekali seumur hidup.


"A-ayo masuk," ajak Kei segera setelah mundur.


Mereka memasuki rumah, dan Kei segera menyediakan teh untuk tamunya tersebut.


"Silahkan minum." Setelah menyeduh teh, Kei menghidangkannya di atas meja depan semua orang duduk saat ini.


Kei duduk dengan ketiga anak-anaknya yang sangat sopan dan tetap begitu untuk seterusnya itu. Keheningan sungguh menyelimuti keadaan, hingga Andre mulai berbicara.


"Bunda."


"Hm," pandangan Kei teralihkan. "Iya, ada apa sayang?"


"Apa bunda tau, kami sampai di tempat ayah berada, liat ayah masih di rumah sakit! Ayah begitu mengharukan bunda, ayah disuntik jarum sampai kemudian ayah pingsan." cerita Andre.


Kei tetap terdiam namun membalasnya dengan senyuman saja.


"Terus kan bunda, ayah bangun lagi dan kami jalan-jalan seharian," lanjut Anna.


"Kami jalan-jalan ke taman, ke pasar malam, ke toko pakaian, kami menghabiskan hari terus bersama ayah, bunda. Ayah baik sekali!" lanjut Alice.


Kei terus mengangguk, sebagai tanda bahwa ia mengerti. Meski dari ucapan Ketiga anak-anaknya memandakan bahwa, Kei tidak boleh berpikir macam-macam tentang apa yang mereka lakukan selama Kei tidak berada di samping mereka.


Justru Kei seolah diajak, Jeremy itu laki-laki baik yang teramat memanjakan ketiga anak-anaknya dengan baik.


Pandangan Kei segera beralih pada pria yang Kei sendiri bingung kapan dia berada di samping agak menghadap ke depan tubuhnya itu.


"Mau apa?" tanyanya sedikit dingin. Jujur, meski sedikit cerita tentang kebaikan Jeremy pada ketiga anak-anaknya tadi, bayangan mengenai semua yang telah terjadi padanya karena pria itu masih saja membayangi kepalanya.


Jeremy menghela napas. Tampaknya menarik hatinya susah sekali. Begitu perkataan batin pria itu.


"Kei," seru Jeremy dengan suara kecilnya. Namun tetap mampu didengar Kei yang seolah tidak mendengar apapun itu.

__ADS_1


"Aku tau aku salah," lanjut Jeremy. "Aku sudah banyak menyusahkanmu. Aku sudah banyak membuatmu lelah dan aku… Aku minta maaf untuk itu."


"Apa kamu tau, aku juga seperti yang kamu alami sekarang.. Tapi mungkin, tidak sebanding dengan penderitaan yang kamu rasakan selama ini. Mungkin terlalu cepat untuk mengungkapkannya."


"Hm, atau aku yang terlalu lama hingga anak-anak kita sudah keburu besar dan melihat kita seperti ini. Aku mohon Kei," Jeremy mengeluarkan sesuatu dari sakunya.


"Aku mohon, menikah denganku. Aku harap dengan kita menikah, kita akan bahagia bersama. Anak-anak tidak perlu penuh dengan sengsara untuk berteman saja. Sekolah… Bahkan keberadaan mereka diakui di kalangan masyarakat."


"Bukankah waktu itu aku sudah mengatakan, namamu sudah bersih dan benar-benar besih di mata dan telinga masyarakat."


"Semua terjadi karena aku dan keegoisan yang sering kami tunjukkan–orang berada karena merasa hebat, terutama ibuku. Kami yang sering melupakan kalau tiada kalian orang biasa yang membeli dan menggunakan produk yang kami jual, kami bukan siapa-siapa selain tak lebih dari angin lalu…"


"Tolong jawab Kei, aku meminta kesediaanmu untuk ini," pinta Jeremy dengan sangat.


"Iya bunda. Ayo, jawab ayah, Bunda." seru Anna antusias.


"Jawab bunda, ayo. Bunda pasti bisa memikirkannya dengan matang."


"Pikirkan kami juga bunda! Bunda sayang kami, bukan? Maka ayo, jawab, bunda…"


Semua tampak sangat antusias sampai Kei yang menampilkan wajah datar itu kini tertarik untuk menjawab.


Kei tampak menarik dan hembuskan napas teratur. "Maaf. Aku tidak bisa menerimamu." namun itu justru yang menjadi jawaban perempuan itu.


Sontak, membuat semua orang di dalam ruangan, tidak terkecuali ketiga anak-anak Kei terkejut. "Kenapa?" tanya mereka tidak percaya


Kei tersenyum kecil. "Tidak karena apa-apa. Hanya ingjn tau saja seberapa besarnya ayah kalian tulus berkata seperti itu pada Bunda."


"Jadi sebenarnya kamu mau menerima aku, begitu?" tanya Jeremy berharap.


"Tidak."


Hening.


"Hm, sebenarnya, bunda mau saja. Tapi Bunda belum yakin. Gimana kalau…" pandangan Kei menatap Jeremy. "Kamu, belajar mencintai aku, dan aku beri waktu cukup tiga bulan saja, bagaimana? Kita seperti anak remaja yang baru mengejar cinta, begitu."

__ADS_1


"Jadi kamu maksud kita seperti berakting gitu?" Jeremy penasaran.


"Hm, bisa iya, bisa tidak," jawab Kei dengan senyum jahilnya.


"Tapi bagaimana dengan kami bunda?" tanya Alice bersedih.


"Kalian?" tanya Kei. "Kenapa dengan kalian?"


"Kami mau bunda dan ayah menikah. Tampaknya itu lebih baik." ucap Anna menyauti.


"Iya, bunda. Bunda dan ayah harus menikah. Kami memang tidak tau mengapa bunda dan ayah seperti ini, berpisah. Tapi kalau bunda dan ayah menikah itu bisa diselesaikan di rumah kita nanti," lanjut Andre ikut bersedih. Bahkan anak itu sampai menangis.


"Hm, bunda mungkin bisa pikir kan itu," ucap Kei.


"Tapi kenapa hsrus dipikirkan?" tanya ketiga anak-anak Kei penasaran.


"Kalian sudah meninggalkan bunda sendiri. Bunda kesepian di rumah tanpa adanya kalian. Bunda rasanya seperti kembali mati…" ucap Kei sedih.


"Bunda…" pelukan dilayangkan kembali pada Kei oleh ketiga anak-anaknya.


"Dan bunda tidak ingin kalian mendapatkan hati bunda dengan mudah. Walau kalian sudah mendapatkannya, tapi kepergian kalian membuat hati bunda bersedih dan bunda rasa, ingin marah dengan keadaan yang membuat bunda seperti ini."


"Bunda, jangan lah. Bunda kan bundanya kami, kami minta maaf," ucap Anna.


"Iya, bunda. Menikahlah dengan ayah. Kami janji, tidak akan membuat bunda bersedih lagi. Kami akan membuat bunda senang sampai bunda begitu bahagia telah melahirkan kami." mohon Alice.


"Tidak. Tetap tidak, bunda sudah terluka, dan bunda harap, kalian mengerti. Mungkin mulai sekarang bunda bukankah bunda kalian lagi, kalau ayah kalian tidak ingin tantangan ini dilakukan," ucap Kei dengan santai.


Namun hal itu justru berhasil membuat anak-anaknya bersih. "Jangan begini bunda. Kami pergi pun untuk mengajak ayah kemari dan melamar bunda menjadi istrinya."


"Tapi kalian pergi tanpa berdiskusi dengan bunda terlebih dahulu," ucap Kei sedikit kesal.


"Kami minta maaf."


"Tetap tidak. Kalian sudah membuat hati bunda tersakiti…" ucap Kei.

__ADS_1


"Kei, aku mohon jangan begini. Kasihan Anna, Alice, Andre… Anak-anak kita. Semua kesalahan adalah karena aku dan perbuatan ku. Jangan libatkan mereka dalam masalah kita meski seharusnya mereka juga harus ikut. Huh…" Jeremy menghela napas. "Baik lah, mungkin itu keinginan mu, membuat aku mencintaimu dan harus nyata seperti tantangan yang kamu berikan padaku, baik… Aku akan melakukan nya.”


***


__ADS_2