
"Anna sudah jelaskan. Bunda, cepat … Katakan iya!"
"Iya bunda. Ayo, jelaskan."
"Bunda bukannya sudah janji, ya? Kalau kak Anna, Kak Alice sama Andre jelaskan, bunda akan katakan iya untuk permintaan kami. Ayolah bunda."
Ketiga anak itu secara beruntun terus membujuk bundanya yang wajahnya masih saja tidak bisa diterka.
Antara bingung, dan tengah berpikir.
Ntah apa yang tengah dipikir kan Kei. Anak-anaknya tidak tahu.
Sorot mata Kei terus menatap satu titik di hadapannya.
Bahkan selama lima menit Anna, Alice dan Andre terus menjelaskan perihal kejadian yang dialami mereka di dalam mimpi, tampaknya bunda mereka sendiri itu tidak merespon atau bahkan tidak mendengarkan.
__ADS_1
Andre mulai menggoyang-goyangkan bahu Kei, sedang Anna, bagian paha Bundanya itu. Dan Alice memegang tangan Bundanya.
Mereka juga khawatir.
Tentang apa yang tengah dipikirkan sang bunda.
Biasanya respon Kei terhadap sekitar sangat cekatan, ini … Ah, Mereka tidak tahu mau lakukan apa.
"Bunda … Jangan begini," seru Andre perlahan khawatir.
Ditengah ucapan Alice yang terlontar, Anna membuka handuk yang menutup tubuhnya, dan melekatkan benda itu di kening Kei.
"Hm?" Kei yang tengah melamun itu tampaknya segera sadar.
Kei melihat anak-anaknya, sungguh khawatir dengannya.
__ADS_1
"Bunda kenapa melamun seperti tadi?"
"Kami kira Bunda kenapa-kenapa."
"Jangan begini bunda."
Anna, Alice dan Andre secara beruntun mengucapkan ucapannnya pada Kei.
Kei menggeleng. "Bunda tidak apa. Hm, kalian berbicara apa tadi?"
"Bunda lupa?" Alice menebak.
Kei menggeleng. "Tidak, bunda hanya sedikit teringat sesuatu."
"Apa itu bunda?" Andre penasaran.
__ADS_1
"Hanya perkataan kalian mengenai ayah kalian," Kei terus terang.