
Anna, Alice, Andre… Ketiga anak kecil itu merasa kebingungan, ntah apa yang kini mereka lihat.
Sebuah tempat mirip seperti rumah sakit, berkabut seperti pemandangan yang dilihat saat menonton televisi bertema hantu-hantuan.
Mereka baru memasuki gedung itu. Ntah mengapa mereka bisa berada di sana.
Pokoknya mereka bangun dari pingsan yang terjadi satu persatu, mereka sudah berada di sana.
Pintu yang berada di belakang ketiga anak itu juga tidak bisa di buka, sempat ketiga anak-anak itu menggedor-gedor pintu, hanya saja seolah terkunci dari luar, ntah siapa yang lakukan.
Lelah, akhirnya mereka bertiga duduk bersandar pintu yang di hadapannya terdapat lorong panjang dengan beberapa pintu saling berhadapan.
"Kak," seru Alice pada kakaknya, Anna dengan suara terengah-e engah, lelah… terus berteriak menggedor-gedor pintu siapa tahu ada yang membuka pintu itu dan mengembalikan mereka kepada bunda mereka yang terakhir bertemu mereka sebelum akhirnya Anna, Alice dan Andre tertidur.
"Iya, apa?" Kakaknya menoleh kepada adik perempuannya tersebut.
"Kita dimana?" suara Alice bergetar, ketakutan.
"Kakak tidak tahu," Anna jujur.
"Kakak," seru adik laki-laki Anna–Andre.
__ADS_1
Anna menoleh ke samping kiri, tempat adik lelakinya itu terduduk.
"Kenapa aku dengar suara orang ya kak. Seperti… Suara ayah yang berbisik gitu."
Anna dan Alice terdiam. Mencoba memastikan ucapan sang adik bungsu tidaklah berbohong setidaknya salah pada mereka.
"Anna, Alice, Andre," suara bisikan memanggil satu persatu nama mereka.
Dan benar saja, mirip seperti suara Jeremy–ayah mereka yang selalu mereka inginkan segera kembali kepada mereka.
Hanya saja, sang Bunda yang tanpa berbicara itu selalu melarang ketiga anak-anaknya apalagi dengan keadaan jarak yang sangat jauh, antar negara.
Mengingat orang-orang membenci mereka tanpa alasan yang cukup jelas.
"Kak Ann," seru Andre pada sang kakak.
"Iya, kenapa?"
"Kalau kita cari dan temui ayah, bisa kak? Siapa tahu kita bisa lihat wajah ayah lagi," Andre meminta izin.
"Belum tentu suara bisikan itu milik ayah kita, dik," Alice menjawab.
__ADS_1
Rasa inginnya bertemu dengan sang ayah memang ada, bahkan begitu rindu daripada Bundanya sendiri jika menghilang.
Tetapi Alice yang suka menulis itu juga penakut.
Apalagi jika mengingat kalau Bundanya dan kedua saudaranya menonton film bertema horor, Alice deluan yang berlari masuk ke kamar dan menyembunyikan diri di bawah selimut sangkin ketakutannya.
"Kita akan berdiri sama-sama dan cari keberadaan ayah. Kalau ada, boleh lah kita bicara dengannya," Anna memberi saran.
Andre segera mengangguk setuju, dan Alice, gadis kecil itu juga setuju, namun Alice sangat ragu.
Apakah keputusan mereka tepat? Gedung ini, bukankah sangat berbahaya kalau benar, ada sesuatu di sekitarnya yang menyeramkan? Itulah ungkapan yang muncul dalam kepala Alice.
Apalagi Alice yang selalu memikirkan hal buruk tentang banyaknya hantu di dalam gendung itu.
Ketiga saudara itu berjalan menyusuri satu persatu lorong, hingga suara semakin dekat mereka dengar.
"Ayah?" ucap ketiga anak-anak itu secara bersamaan.
Satu ruangan yang berbeda dengan ruangan lain, ruangan bercat putih yang ntah darimana bisa-bisa saja ada awan-awan putih di bawahnya.
"Anna, Alice, Andre…"
__ADS_1