Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Insiden di Pesta


__ADS_3

"You're my mom," dia berucap lirih, aku tidak mengerti apa yang terjadi sekarang.


Semua mata menatap ke arahku saat aku merasakan keadaan sangat hening dan pandanganku menjelajah 180°.


Aku mendadak gugup.


Apalagi dengan raut wajah kebingungan semua orang, tuan rumah di acara tersebut mendatangiku.


Si Pria–Leo langsung mengangkat tubuh putranya itu dari pelukan yang menempel di tubuhku kemudian menggendongnya.


"Sorry, miss. My son is wrong. Do not take to heart his actions." [Maaf, nona. Anak saya salah. Jangan bawa ke hati tindakannya]


Aku mengangguk mengerti tanpa berbicara sepatah katapun.


Lagi pula aku takut jikalau pria itu malah mengenalku.


Tapi sepertinya sama sekali tidak.


"Keina Natalia?"


Aku terpaku.


Siapa itu? tanyaku memulai dalam hati.


Mengapa dia malah mengenal namaku padahal beberapa waktu lalu aku sudah membuat penampilanku benar-benar berubah?

__ADS_1


Aku memang tidak mengubah wajahku secara keseluruhan.


Namun berdandan dengan penampilan sederhana, terdapat satu tahi lalat di pipiku dan cukup bola mataku kuganti dari cokelat ke mata hazel serta kulitku yang kuberi warna putih pucat percis seperti orang-orang Eropa lainnya.


Namun mengapa dia bisa menyebut namaku?


Apa ini hanya kebetulan?


Atau, memang dia mengenalku?


Tidak cukupkah penampilanku yang sudah berubah ini?


Orang-orang saja tidak mengenalku.


Tapi kenapa? … Ah, ini merupakan misteri yang cukup membuatku tidak tahu mau melakukan apapun lagi.


Seorang wanita tua.


Ya, wanita berambut putih dan memiliki cukup banyak keriput mendekat padaku.


Dia menyentuh tubuhku seolah mengenal diri ini.


Pancaran kerinduan terlihat begitu jelas di kedua bola matanya.


Aku menatapnya aneh. "W-who, you madam. I don't know you at all. That person named Kei is not me." [S-siapa, nyonya. Aku tidak mengenalmu sama sekali. Orang bernama Kei itu bukan aku] aku mencoba menyangkal seruannya itu.

__ADS_1


Namun wanita itu malah menggeleng. Kepala tua wanita tua berpakaian putih yang terlihat halus dan mahal itu menoleh ke belakang. Dia memanggil-manggil seorang pria tua yang ketika aku lihat dia menggunakan kursi roda di temani seorang pria muda di belakangnya yang tampaknya adalah orang yang bertugas mendorongnya kemana pun dengan kursi roda tersebut.


"M-my husband… My husband. Come here first!" [S-suamiku… Suamiku. Kemari dulu!] ia bahkan berkata begitu girang.


Petugas yang bertugas mendorong kursi roda tersebut mulai mendekatkannya pada posisi sejajar dengan wanita itu.


Tidak mengatakan apapun. Sang wanita hanya menatapku sangat bahagia ntah karena apa. Tiba-tiba aku merasakan tiga tubuh memelukku dari segala arah. Kiri, kanan, depan. Sontak perhatianku melihat mereka, ternyata ketiga anak-anakku.


"K-Kei. Kamu… Kamu sudah memiliki anak? S-siapa suamimu? Bagaimana dia memperlakukanmu, apakah dia baik? Anak-anakmu…" sang wanita berkata dengan bahasa Indonesia.


Aku semakin tidak mengerti akan situasi sekarang.


Apalagi ketika tak selang beberapa lama malah menyentuh satu persatu anak-anakku.


"Sangat cantik dan tampan. Beruntungnya…" dia tersenyum haru.


"Sebenarnya siapa nyonya?" akhirnya aku berkata juga. Seperti orang Indonesia berbicara.


"Aku… Aku Medya. Medya Rispada, dan ini, suamiku, Brian Nedelyn."


Sontak, aku terkejut bukan main.


"M-Medya? B-Brian?" aku mengeja ucapan itu dengan menutup mulutku.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2