Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Permintaan Celica (2)


__ADS_3

Perasaan Vivian alias Kei mendadak kacau. Tapi ia tetap berusaha bahwa semuanya itu tidak menjadi masalah untuknya.


"Aku sudah memiliki cukup banyak masalah dalam hidup. Yang terkadang membuatku putus asa dan ingin sekali menyerah. Tapi Aku memiliki kalian. Kamu Celica… Kakak ipar Farel, Anna, Alice, Andre, bibi Gin… Kalian selalu membuat hidupku yang berat ini sedikit berwarna. Tidak dengan tanpa seorang pria tambahan sebagai embel-embel suamiku, aku rasa semua itu saja sudah cukup. Anak-anakku juga sepertinya menerima keadaan kami yang kemungkinan akan terus seperti ini."


Atas jawaban Vivian yang begitu lembut menolak, Celica memadang Vivian dengan bersedih. "Apa kamu pikir, anak-anakmu bahagia dengan kehidupan kalian yang tidak sempurna ini? Ingat Vi, mereka hanya bersandiwara. Aku pernah melihat dan sedikit menguping tentang perbincangan mereka di kamar tanpa dirimu malam sebelum mereka tidur. Mereka kata, mereka rindu Jeremy–ayah mereka. Tapi mereka juga tidak mau mengatakannya secara langsung. Takut kamu ikut bertambah sedih. Aku tahu jika menjalin hubungan dengan pria lain tidak akan membuatmu bahagia. Tapi mencoba rasanya tidak apa. Kalau kamu mau, aku punya teman, dan kebetulan anaknya sedang berulang tahun esok. Mungkin kalian bisa saling cocok jika kamu datang ke sana. Tidak kenal maka tak sayang."


"Tetap, aku tidak menginginkannya," jawab Vivian menolak sangat lembut. "Lagi pula bukankah pria itu sudah memiliki anak. Dia otomatis memiliki istri."


"Tapi dia duda. Istrinya meninggal dua tahun lalu," sesegera Celica menjawab sebelum akhirnya Kei malah berpikir macam-macam.


"Aku tetap tidak mau menjalani hubungan dengan pria seperti itu," tolak Vivi mentah-mentah.


"Tapi dia baik!" Celica menekankan ucapannya hingga Anak dalam pelukannya malah terbangun dan kembali menangis.


Vivi menghela napas. "Maafkan aku. Anakmu ribut karenaku," ia merasa bersalah.


"Tidak apa. Tian dan dirimu lumayan memiliki kesamaan dalam hal pasangan. Usia anak kalian bahkan sama tahunnya. Tian bukan laki-laki yang suka cabul seperti Jeremy, dia laki-laki baik dan selalu sopan. Aku sudah mengenalnya sejak lama.. Maka aku tau," Celica terus berucap sembari mengayun-ayunkan tubuh kecil Bia hingga tertidur.


Vivi yang tidak mau membuat Celica bersedih dengan dirinya lagi-lagi menolak, memilih diam saja dan melanjutkan menjalankan mobil secara terfokus.


***


Hari menjelang malam.

__ADS_1


Celica mendatangi Vivi di dalam kamarnya bersama triple Vivi, dimana Vivi sedang bersiap untuk tidur setelah setengah jam yang lalu menidurkan ketiga anak-anaknya yang sudah lelah bermain seharian.


"Vi," seru Celica membawa mata Vivi menatapnya.


"Hm," namun Vivi hanya berdehem lembut tetap mencoba menarik matanya yang sudah mengantuk.


"Esok aku mau kita jalan ke suatu tempat," ucap Celica dengan nada suara yakinnya.


Sontak, Vivi kembali terbangun sementara sempat tadi ia sudah menarik selimut di hadapannya.


"Kemana? Bolehkah aku bawa Anna, Alice, Andre?" tanyanya sedikit was-was.


"Tentu. Semua sah-sah saja… Tapi siapkan pakaian terbaikmu. Ini semua untuk kebaikanmu."


Esoknya.


Vivi seperti biasa menyiapkan makanan untuk keluarga Celica dan ketiga anak-anaknya.


Di rumah Celica tidak ada pelayan dan bukan berarti dia sebagai pelayan di situ.


Walau Vivi sudah sering dinasehati Celica, "Kamu bukan pelayaku, Vi. Jangan masuk ke dapur. Aku tidak enak denganmu. Urus saja anak-anakmu. Aku saja yang urus dapur."


Tetapi Vivi yang selau membuat diri menang kemudian langsung berkata, "Aku tinggalnya gratisan. Anak-anakku juga. Masa aku tidak membantumu? Aku juga tidak memiliki pekerjaan lain selain duduk. Anak-anakku juga adalah orang-orang yang mandiri. Jadi tidak ada alasan cukup kuat untukku untuk tidak membantumu. Apalagi kamu punya bayi yang masih harus kamu urus. Kamu temanku, Cel. Teman harus saling membantu," Vivi yang kemudian mengucapkan ucapan Celica yang biasa digunakan wanita beranak empat itu untuk meluluhkan hati Vivi.

__ADS_1


Setelahnya Celica yang merasa sudah lelah menasehati Vivi, memutuskan untuk memasak bersamanya.


"Vi," seru Celica dengan nada suara mengalun rendahnya.


"Hm, ya," lagi-lagi dijawab deheman tanpa menoleh.


"Yang semalam aku beritahu itu, acaranya nanti siang ya. Anak-anakmu bawa saja ke sana. Karena acara itu untuk anak-anak. Orang dewasa hanya peneman saja."


Vivi mengerutkan kening, tentunya wanita beranak kembar itu bingung, ia melupakan ucapan Celica semalam suntuk.


"Vi?" Celica menatap Vivi yang bingung. "Kamu mendengarkan?"


"Eh, h-hey. Apa?" tanya Vivi sembari terkekeh sementara suaranya jelas-jelas terdengar bergetar.


"Kamu mendengarkan?" ulang Celica lagi.


"Aku … Aku mendengarkan," aku Vivi berbohong.


Celica menghentikan acara memasaknya. "Apa kamu menghayal tadi? Apa yang kamu pikirkan hingga seperti ini?"


"Ah, t-tidak. Ekhm, w-wortelmu sudah masak tampaknya. Coba lihat. A-aku akan lanjut membersihkan ikan," Kei segera mengalihkan pembicaraan.


"Baik…"

__ADS_1


__ADS_2