Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Kemarahan Bibi


__ADS_3

Bibi dengan langkah cepatnya, sudah


ada telpon genggam di tangannya dan


nomor yang katanya adalah nomor pribadi


milik Sam, hendak dihubungi Bibi.


Bibi kini duduk di atas sofa.


Raut wajah marahnya bibi bisa diartikan


sebagai Kei tidak bisa melakukan apapun


selain diam.


Karena Kei tahu, Bibi yang marah hanya


akan memperburuk suasana hati


wanita tua itu jika diganggu sedikit saja.


Tubuh Kei gemetaran, ia khawatir dengan


apa yang akan terjadi, terlihat dari bagaimana kedua tangannya itu bertaut


bahkan terasa lembab di sana.


Walau Kei rasa ia sudah menyembunyikannya


dari ketiga anak-anaknya tetap saja ketahuan.


"Bunda…" lirih Andre dengan sorot mata


berlinang air mata. Anak itu masih saja


doyan menagis walau terbilang lama sejak


terakhir ia menangis di dalam taxi.


Pandangan mata Kei langsung saja


menatap Andre.


Kei meneguk saliva dan menutup bukakan

__ADS_1


netranya tiga kali secara cepat.


Kemudian menarik hembuskan napas


agak lama, halus sehingga Andre tidak terlalu mempermasalahkannya dengan bertanya.


"Bunda, maafkan Andre…" ucapan yang sama, Andre menempelkan kepalanya ke dada sang bunda. "Andre salah," lanjut anak itu terisak.


Suara tangisan Andre yang didengar


sang nenek, menghentikan wanita paruh baya itu mengetik nomor pribadi sang sutradara.


Bibi menggunakan hp tilulit, terutama mata


rabun dekat yang dideritanya membuat wanita itu kesulitan mencari satu persatu angka berjumlah dua belas dijit itu.


"Andre bersalah Bunda. Andre minta maaf.


Andre sudah buat semuanya berantakan. Bunda sudah kecewa Andre buat. Andre minta maaf," kalimat hampir sama dan mengandung arti juga sama.


Air mata Andre yang sangat banyak itu


menarik sang Nenek, untuk mendekat.


Andre kini menghadap sang nenek setelah menyadari sang nenek berada di belakang tubuhnya.


Andre menatap sang nenek dengan


kondisi mata yang berair bagai rintik air yang jatuh dari angkasa dalam versi paling mini.


"Andre bersalah nek. Nenek jangan buat masalahnya jadi susah. Andre memang kata


kalau paman sutradara mau masukkan


Bunda ke sel. Tapi jangan telepon paman Sam.


Dia nanti semakin marah. Jadinya Bunda benar-benar jadi salah satu penghuni tempat itu Nek…"


Andre berkata dengan terisak. Hingga


suaranya memilukan dan apapun yang


dikatakan anak itu tersendat-sendat.


Gina benar-benar merasa sedih dengan

__ADS_1


Andre yang jika merasa bersalah sekali


akan mengatakan permintaan maafnya


secara berulang tak peduli orang itu akan


senang atau malah sebaliknya.


Membuat wanita paruh baya itu memeluk


sang cucu. "Untuk apa kau malah menangis, Ndre. Nenek ngak akan marah padamu.


Hanya aja Nenek perlu tahu semuanya lebih detailnya sayang."


"Tapi nenek marah. Andre takut, nek.


Bunda juga akan marah. Jadinya Andre sedih…" tutur Andre semakin membuat Kei dan


Gina mengerti apa yang sedang ditangisi Andre saat ini.


Kei mengelus kepala Andre.


"Bukannya Bunda sudah katakan, Andre.


Bunda tidak masalah dengan hari ini.


Bunda hanya perlu menyesuaikan diri


dengan lingkungan.


Semua sudah terjadi, dan tidak bisa


dilepas. Bunda akan mencoba mampu bersentuhan dengan lelaki itu… Sehingga kekhawatiranmu, tidak terjadi, nak."


"Tapi bunda…"


"Iya, sayang. Bunda tahu apa yang


kamu khawatirkan. Maka dari itu Bunda


akan berusaha! Kita akan membuat


semua orang takjub, dari semula tidak


menyukai kita." Kei meyakinkan sang anak.

__ADS_1


__ADS_2