
Di sisi lain.
"Hargph!"
Jeremy terbangun. Setelah sesuatu mirip setruman mengenai sekujur tubuhnya hingga ia mampu kembali membuka mata lagi setelah hampir dua bulan tidur dalam keadaan penuh derita bagi mata orang yang melihatnya.
Sam, di samping ranjang tempat Jeremy berbaring, bersama para dokter yang sudah berusaha semampunya. Akhirnya sanggup membangunkan kembali Jeremy setelah beberapa waktu yang lalu kejang-kejang bahkan Dokter sudah menyerah bahwa Jeremy tidak akan kembali lagi ke dunia ini.
Senyuman terukir jelas di bibir Sam. Setelah dokter menjauhkan alatnya dari dada terbuka Jeremy, Sam memeluk leher kakaknya dengan pelukan kerinduan.
"Kakak…" lirih Sam sembari meneteskan air mata.
Racun yang diminum Jeremy karena penderitaan kehilangan Kei dan ketiga anak-anaknya itu, seminggu setelah Jeremy masuk rumah sakit langsung disterilkan oleh dokter dengan berbagai suntikan yang diberikan, namun Jeremy seolah tidak ingin kembali ke dunia ini kembali bahkan sangat senang tidur, menangkan diri dari dunia ini.
"Akhirnya kamu bisa bangun kembali kak," Sam tersenyum bahagia.
Jeremy yang sudah membuka mata dengan pertanyaan mengapa ia bisa berada di sini, mendengar perkataan Sam, segera mengingat ucapan Sam masa itu, membuatnya tersenyum kecil, dan sebuah ide terbesit dalam benaknya.
"Kei, kemana dia? … Anak-anakku? Bukankah kamu sudah berjanji jika akan mengembalikan mereka kemari bahkan sebelum aku bangun?" suara Jeremy terdengar kecil karena kemungkinan besar suaranya terperangkap di dalam masker oksigen yang selama dua bulan ini membantu pernapasannya hingga bisa hidup sampai saat ini.
__ADS_1
Sam yang mendengar penuturan kata oleh sang kakak mendadak kesal. Sam tidak lagi memeluk kakaknya. "Ah, kakak tega! Sam sudah khawatir dengan kakak, malah Kei yang ditanya dimana, bukan Sam. Padahal Sam yang selalu temani kakak sampai lupa sama pekerjaan Sam yang banyak di kantor!" ucap Sam sebal.
Jeremy belum menjawab apapun, Dokter di samping Sam segera menyentuh bahu Sam dan berkata, "Pasien masih perlu penanganan kami, lebih baik anda keluarlah dahulu, esok… Esok kami akan hubungi tuan. Hari sudah malam, tuan. Anda sudah sering datang kemari sampai begadang, kami akan merasa sangat bersalah kalau karena pasien kami, anda sakit," dokter menenangkan.
Dengan berat hati Sam segera mengangguk dan keluar dari ruangan itu.
Walau hati Sam tetap bahagia, setelah berbulan-bulan menunggu sembari berharap, akhirnya Jeremy sadar jua.
Sam pergi ke rumah sakit jiwa yang letaknya hanya satu kilometer dari posisi rumah sakit tempat Jeremy ditangani.
Setelah konsultasi dengan dokter, ia akhirnya bisa bertemu dengan Merly, Mamanya. Wanita itu sudah berantakan, sudah gila karena anaknya–Jeremy yang depresi tersebut.
"Mama…" lirih Sam sembari menyentuh dinding tembus pandang yang tebal dan kuat sebagai pembatas antara Merly yang gila dan Sam yang kasihan dengan beliau.
Merly di ruangan lain masih terdapat pada jarak pandang Sam, terlihat tengah memegang lima buah boneka.
Sebuah boneka berbentuk lelaki dewasa, kemudian satu buah boneka berbentuk wanita dewasa.
Ada tiga boneka kecil yang tampak sebagai anak mereka.
__ADS_1
Dan yah, bisa dilihat, bahwa lima boneka itu adalah gambaran dari Jeremy–Putra kesayangannya dan Kei wanita yang teramat dibenci Merly.
Serta Anna, Alice, Andre yang diketahui adalah anak-anak Kei dan Jeremy, hanya saja Kei masa bodoh dengan siapa identitas ayah dari anaknya karena ia pikir, hidup tanpa lelaki yang telah melakukan tindakan paling bercela terhadapnya itu ia bisa hidup dengan bantuan diri dan orang-orang yang peduli dengannya.
"Haha, ini anak kesayanganku. Dia anak laki-lakiku…" Merly memeluk boneka yang digambarkannya sebagai Jeremy itu. Senyuman begitu tulus, seperti sayang orangtua pada anaknya.
Namun seketika, wajahnya berubah ganas. Ia sontak mendekatkan boneka yang digambarkan sebagai Jeremy pada Kei.
"Tapi sayang… Anakku terlalu cinta pada wanita menyebalkan ini!" jemarinya menyentil wajah Kei hingga boneka itu terjatuh, kemudian dia memukul-mukulnya dengan geram. "Kenapa dia tidak mati saja sih!? … Argh, sial-sial! Sial!"
Begitulah pemandangan yang dilihat Sam ketika menemui Mamanya yang sudah gila.
Walau gilanya tidak terlalu parah, namun sifat Merly menjadi orang yang terbilang berbahaya.
Awal Merly dilarikan ke rumah sakit jiwa ya karena Merly melukai seorang gadis yang kebetulan lewat di hadapannya, tepat di rumah Merly sendiri.
Padahal jelas semua tahu gadis itu adalah anak tetangga dirinya sendiri. Namun dengan teganya wanita itu mendatanginya dan memukul gadis malang yang dikira Merly sebagai Kei itu hingga terluka.
Ayah sang gadis berniat membawa Merly ke jalur pengadilan.
__ADS_1
Namun dokter mendapati otaknya yang sudah sedikit miring keberadaannya.
Maka Merly lebih baik membawa Merly ke rumah sakit jiwa untuk membuat wanita itu diisolasi dengan waktu yang tidak bisa dibayangkan lagi.