
Mereka begitu terus sampai lima menit.
"Ayah, Bunda…"
Hingga suara Andre yang serak sambil mengusap matanya itu menyadarkan keduanya. Segera Kei salah tingkah dan mencoba melepaskan pelukan yang diberikan Jeremy.
Tapi segera Jeremy menarik istrinya itu kembali, mengingat Kei yang ada di dekat pohon dengan penuh akar menjalar yang beberapa l terlihat jelas di atas tanah.
"Lepaskan!" Kei berusaha melepas.
"Kamu mau jatuh, hm." Jeremy tersenyum melihat tingkah istrinya yang menolak untuk bersamanya. "Kamu kenapa sih?" dia malah mencubit pipi Kei dengan gemas. "Hanya anak kita kok. Bukan orang yang kerjanya mewancarai." Ia menenangkan.
"Lepaskan! Pengap ada di samping kamu!" Kei terus berusaha melepas pelukan Jeremy.
Di depan mereka ada Andre, tidak lagi merasa aneh dengan sikap kedua orangtuanya ini memilih pergi daripada Bunda yang ia tau akhir-akhir ini lebih sensitif dan banyak maunya itu.
"Ya udah. Aku lepaskan," Jeremy mulai melepaskan Kei yang mulai memanas itu. Tapi ia tetap memperhatikan gerakan tubuh Kei yang akan jatuh.
__ADS_1
"Nah kan!" ucap Jeremy yang seketika menarik tubuh Kei kembali tepat saat Kei yang mulai kehilangan keseimbangannya.
"Makanya dekat aku. Jangan keras kepala gini. Ingat anak kita, Kei. Jangan buat aku merasa bersalah karena tak menjaga anak kita dengan baik meski dalam kandungan," nasihat Jeremy yang kembali mengingat kisah lama itu.
Jeremy sudah tidak berada di samping Kei yang memungkin mengalami nasip sama seperti sekarang ini saat mengandung. Pasti masa sulit itu dialaminya, membuat Jeremy bersalah.
Sekarang Jeremy pastikan dengan sangat, akan menjaga bayi dalam kandungan Kei gimana pun caranya.
Kei yang sensitif itu merasa Jeremy begitu mengikat ketat dirinya. Air mata Kei mulai menetes. "Hiks."
Jeremy yang mendengar suara tarikan udara melalui hidung itu segera memperhatikan wajah Kei. "Ada apa?" tanyanya lembut.
Kening Jeremy mengerut. "Kejam? Aku kejam?Kenapa bisa begitu?" ia mencoba tidak meninggikan suaranya.
"Kamu terlalu over protective!"
Jeremy tak mengerti maksud Via yang mengatakan itu. Over protective? Perasaan ia tak terlalu mengekang… Tapi kenapa Via justru mengatakan hal buruk itu untuknya? Ini sungguh aneh.
__ADS_1
Kembali mengingat Kei yang memang sudah seperti biasa seperti ini. Ia maklum. "Maafkan aku. Apa yang kamu inginkan, aku penuhi," ucapnya merendahkan diri dari segala kemungkinan yang ada, di mana ia rasa itu lebih baik dari pada tidaknya.
"Aku mau kita lama-lama di sini. Sampai aku lahiran, bolehkan?"
Permintaan yang tak berbobot untuk keadaan saat ini.. Tapi Jeremy memilih mengangguk dan berkata. "Baiklah."
"Yeay!" Kei berteriak seperti anak kecil.
Kemudian Jeremy membelakangi posisinya tadi dan terkejut melihat adanya Gina, si ibu mertua. "Eh, Ibu.. Sejak kapan ada di sini?" tanyanya sedikit canggung.
Wanita dengan tongkat penyangga tubuhnya itu tersenyum tulus. "Baru sebentar di sini," ucapnya berbohong. Padahal Alice yang sempat membawanya kemari sudah berada bersama kedua saudaranya yang lain melepas rindu karena sudah setengah tahun tak jumpa-jumpa.
Kei memeluk Gina, sangat rindu. Melupakan Jeremy yang hendak menyalami ibu mertuanya itu dan segala rintangan yang ada, yang memang ia tidak kena jatuh meski berlari tiga langkah memeluk Gina.
"Ibu!" perempuan ini memeluk ibunya tergolong lama.
Jeremy hanya memperhatikan keduanya, takut jatuh biar dia bisa segera menolong.
__ADS_1
"Aku merindukanmu!" ucap Kei.
"Iya, iya. Ibu tau. Lepaskan. Ingat, kamu sudah bersuami. Jeremy mau menyalami ibu, malah kamu yang pertama. Itu tidak baik, sayang," peringat Ibu. Suaranya tecekat. Wanita itu masih saja memeluk Ibunya.