
"Dia bukan Mama aku!" bentak Jeremy.
Kei menghentikan langkah kakinya. Kepala dalam posisi tertunduk. Manatap rambut lebat yang tumbuh dalam kepala anaknya--Andre tersebut. Namun pikiran wanita itu berlarian kemana-mana tidak sesuai jalur.
Jeremy sudah sampai di area parkiran restoran yang kekacauannya dibintangi Merly--Mama Jeremy tersebut.
Menyadari tidak ada Kei, ia mengadakan pandangannya ke atas dan melihat Kei masih berdiri seperti orang bodoh di depan pintu keluar masuk pelanggan.
Jeremy menghela napas. Mendekati Kei dan menarik lengan wanita muda itu. "Ayo, kita pergi."
Kei tetap terdiam.
Beberapa detik berselang.
"Ada apa? Ayo, kita pergi," Jeremy berjalan cukup selangkah. Lagi-lagi ia menyadari bahwa hingga sekarang Kei tidak bergerak. Jeremy menoleh kepada wanita itu.
Terlihat Kei menggeleng, bagai anak kecil yang tidak ingin pulang dan tetap di sini.
Jeremy menghela napas. Dia mengambil paksa Andre dari gendongan Kei yang pastinya sudah membuat wanita muda itu kelelahan dalam diam.
"Jangan ambil anakku," ucap Kei datar.
Kei menarik kembali Andre dari tangan Jeremy. Dimana Andre sama sekali tidak menolak untuk diambil kembali oleh Bundanya.
Andre tau Bundanya sedang dilema dalam hati. Dan membuat Bundanya bertambah kesal atau marah dengan tidak menurut, itu artinya Andre dalam masalah besar dan Andre tidak mau mendapatkan masalah untuk sekarang ini.
__ADS_1
Kei berjalan, membawa Jeremy keluar dari restoran tersebut.
Jeremy bingung dengan sikap wanita kuat di hadapannya tadi. Kei berjalan melaluinya seolah keduanya sama sekali tidak mengenal satu sama lainnya.
Jeremy memutuskan untuk mengejar bunda dari ketiga anak-anaknya itu.
"Kei!" teriaknya semakin membuat langkah Kei berjalan cukup kencang.
Jeremy bahkan menghiraukan Mamanya yang sempat menasehatinya, "Wanita seperti Kei itu adalah wanita penjilat paling menghanyutkan. Jangan sampai terkena dampaknya."
Dan tentu saja Jeremy menggeleng serta berkata dengan terburu-buru, "Kei bukan wanita seperti itu."
Jeremy mencoba mencari keberadaan Kei. Ntah dimana wanita itu dan anaknya.
Jeremy mengitari sekirar. Dengan posisi tangan berkacak dipinggang.
Huaaaa…
Suara teriakan berupa tangisan.
Otak Jeremy langsung memerintahkan tubuhnya mencari keberadaan suara.
Jeremy kenal suara ini. Suara seorang anak kecil--yang diamsumsikannya sebagai suara Andre sebab Ia boleh terbilang tidak pernah mendengar Andre menangis.
Saat dilihatnya, tenyata benar itu suara Andre. Dimana Kei sedang berusaha menenangkan sang anak.
__ADS_1
Jeremy langsung menarik tangan Kei dan membawanya ke mobil yang dikendarainya kebetulan memiliki letak cukup dekat dari posisinya kini.
"Lepaskan!" teriak Kei dengan suara kencangnya.
Amarah. Jeremy merasakan sesuatu tak terduga itu.
Jeremy tidak tahu apa yang terjadi, tetapi ntah mengapa dia begitu gentar mendengar teriakan lantang dari Kei.
Jeremy melepaskan genggaman tangan, dan menatap Kei begitu bingung dengan wanita itu.
"Kenapa Kei?" tanya Jeremy penasaran.
"Mau kemana kamu bawa aku!?"
Jeremy mengernyit. "Bukannya aku sudah katakan kalau kita ke rumahmu. Aku ingin bertemu dengan Anna dan Alice," aku Jeremy jujur. Ia rindu dengan dua anak perempuan manis, lucu serta berbakat itu.
"Jangan ke rumahku!"
"Kenapa?"
"Jangan bawa aku ke rumahku!"
"Iya, kenapa?" Jeremy jujur bingung dengan sikap aneh Kei.
"Aku tak sudi melihat anak laki-laki yang memutuskan hubungan dengan ibunya sendiri karena seorang perempuan!"
__ADS_1
Bersambung…