Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Semua Perbuatan Jeremy


__ADS_3

Jeremy memarkirkan mobilnya di parkiran restoran dekat lokasi syuting yang sudah sepi.


Jeremy kira Kei masih ada di sini karena Jeremy terlebih dahulu pergi sebelum semuanya bubar apalagi ketika jadwal pergantian perannya sudah habis.


Pandangannya menatap sesuatu yang mencolok di sebelah sana.


Kening Jeremy seketika mengerut, "Seperti…" sontak ia keluar dari dalam mobil dan berjalan terburu-buru.


"Apa ini, Mama!?" teriaknya menghentikan perdebatan Mama dan Kei yang sengit itu.


Beberapa menit sebelum Jeremy memasuki restoran, Kei sudah tidak tahan dengan semua tuduhan nyonya Merly--Mama Jeremy yang tidak berbobot menurutnya itu.


"Nyonya keterlaluan! Saya bukanlah wanita yang seperti nyonya pikirkan! Selama ini hidup saya benar-benar nyaman dan saya senang dengan hal itu! Hanya setelah saya mendapatkan pekerjaan tambahan atas permintaan putra saya sendiri, maka saya terima! Dan mulai dari satu hal itu hidup saya benar-benar terganggu bahkan sekarang nyonya menuduh saya telah meracuni pikiran kedua putra nyonya? Haha, kali ini, dan saya tidak suka hal itu!"


"Perempuan pembohong! Pandai mulutmu berkata, ya!" ujar Merly meninggikan suaranya.


Tangan wanita paruh baya seumuran dengan Bibi Gin-nya itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecilnya,


"Lalu, apa ini? Ini, ini?" tiga buah foto yang memperlihatkan Kei dan Jeremy seolah bermesraan--jauh dari setting kejadian dalam film yang diperankan.


Kei terdiam untuk sementara menatap foto itu satu persatu. Yang pertama, terlihat Kei dan Jeremy berpelukan. Yang kedua berpegangan tangan dan yang ketiga Jeremy memangku Kei lumayan intim.


"Kan bisa saja kami sedang berlatih! Untuk apa dibesar-besarkan hal simple seperti ini!" ujar Kei berpikir dalam sisi terang.


"Saya melihat semua pergerakan putra saya--Jeremy! Saya melihat semua, baik-baik saja, sampai salah satu penguntit yang saya tugaskan untuk mengawasi pergerakan kalian menemukan hal menjanggal!"


"Nyonya percaya sekali ya dengan orang lain ketimbang anak nyonya! Sekalipun orang lain tampak seperti mudah dipercayai sebenarnya mereka memperdaya Nyonya! Saya tahu semua batasan walau kehidupan saya tidak sebaik masa muda yang indah bagi semua orang! Memang saya melakukan itu dengan Jeremy tetapi hanya berlatih! Bukan murni dari hati saya jika nyonya merasa terganggu dengan hal itu!"

__ADS_1


"Beraninya menilai saya…!" ucap geram Merly mengepalkan jemari menatap marah Kei.


"Bukan menilai nyonya, tapi saya hanya memberitahu kalau rambut boleh sama hitam, tapi hati siapa yang tau," Kei menjawab begitu enteng.


Walau hati Kei merasa ribet mengatakannya. Apalagi dengan keadaan diri yang terus mengendong Andre dan berusaha menenangkannya, Kei kesusahan.


Merly semakin kesal dengan wanita muda di hadapannya ini. Ia kehabisan kata-kata, memutuskan pemikiran keras menguasainya.


"Kau benar-benar mengajakku bertengkar ya!"


Belum menjawab apapun, Merly sudah main jambak dengan Kei hingga tangisan Andre semakin kuat sebab anak itu bukanlah pembicara yang handal dan lemah mentalnya.


"Apa ini, Mama!?" teriaknya menghentikan perdebatan Mama dan Kei yang sengit itu.


Pengunjung restoran yang merasa terganggu pada menatap ke arah pertengkaran yang seperti anak-anak itu.


Jeremy mendekati Mamanya dan menjauhkan sang Mama dari Kei.


"Biarin!" ucap Merly ketus. "Dia udah buat Mama kesal!" menunjuk Kei yang kembali berusaha menenangkan sang anak semampunya itu.


"Iya, tapi apa masalahnya, Mama! Setahu Jemy, Kei bukan wanita seperti itu!" Jeremy yang sering disebut sebagai Jemy itu sangat bingung dengan ssmua perdebatan konyol ini. Penasaran, kenapa sih malah terjadi seperti itu?


"Nah, lagi! Kalian sama aja! Mama kesal liat kalian!"


"Kenapa sih Ma? Apanya yang kesal. Setahu Jemy semuanya baik sama Mama. Kenapa sekarang jadi seperti ini sih!"


"Adik kamu, kamu… Sama aja, buat Mama terluka!" Mama menangis bombay seolah dirinya yang terluka di sini.

__ADS_1


"Terluka? Apa yang dilakukan Samuel pada Mama!"


"Argh! Semua belain! Setelahnya pura-pura!"


Jeremy mengernyitkan kening. Siapapun tidak mengerti maksud Merly jika seperti ini cara bicaranya.


"Kenapa ma? Ayo, jelaskan pada Jemy. Jangan seperti ini, bisa Ma. Malu dilihat orang…"


"Wanita itu!" Merly menunjuk Kei untuk kedua kalinya.


"Iya, kenapa dengan Kei, Ma?"


"Dia wanita yang jahat! Mama tak suka lihat dia! Cepat, pecat dia!" perintah mama.


"Kei dan Jemy udah terikat kontrak ma. Sampai filmnya selesai, Jemy tidak bisa pecat Kei sewenangnya," jelas Jeremy menerangkan.


"Tapi Mama tak mau liat dia sama kamu, Jem!"


"Apa masalahnya ma? Dia wanita yang baik…"


"Argh, mama tidak percaya! Mama mau kamu jauhin dia karna dia perempuan nakal! Anaknya haram dan kehidupannya patut kamu jauhin!"


Jeremy merasa panas dengan perkataan sang Mama. Ia mendadak emosi.


Tetapi lelaki itu tidak bisa gegabah.


Wanita paruh baya di hadapannya ini adalah mamanya, dan dia harusnya selalu tunduk dan hormat padanya tak peduli sifatnya seperti apa dan mengarahkannya pada jalan sesat atau malah sebaliknya.

__ADS_1


"Tapi gimana kalau Jeremy kata, semua julukan yang Mama tuduhkan pada Kei adalah perbuatan Jeremy?"


Bersambung…


__ADS_2