
"Kamu yakin?" tanya Kei ragu.
"Kenapa tidak yakin? Semalam aku menjemputmu pulang, aku juga harus mengantarmu kembali ke lokasi dengan selamat," ucap kata Jeremy dengan cukup yakin.
"Tapi…" namun Kei masih saja ragu.
"Kita partner kerja lho, Kei. Aku tau kamu masih risih padaku. Hm, ini hanya sebagai balas budi untuk memberikanku penginapan gratis selama satu malam bahkan makan malam serta sarapan pagi yang cukup nikmat," Jeremy memberi alasan.
"Sudahlah, Kei. Terima aja. Masalah ocehan orang, anggap angin lalu. Toh bukan mereka yang beri kau makan. Jadi terima aja. Daripada kamu harus berdiri lama-lama tunggu taxi supaya bisa mengantarmu ke lokasi syuting. Ada yang gratis kenapa ngak pilih yang itu aja." bibi di samping Kei juga tampak sangat mendukung niat baik Jeremy pada wanita muda yang sudah dianggap sang bibi sebagai putrinya sendiri itu.
Kei menghela napas. Dia masih belum memberikan jawaban hingga kini.
"Bunda. Andre mau naik mobil, mobil ayah. Andre belum pernah rasakan rasanya. Ayolah bunda. Niat Ayah baik lho Bunda," Andre malah ikut-ikutan menjawab.
Kei merasa semakin bingung tentunya. Sebenarnya bukan masalah niat baik Jeremy mengantarkannya bersama Andre yang sebentar lagi akan ikut berperan dalam film tersebut sebab waktu akan diloncat ke beberapa tahun berselang.
Tetapi Kei memikirkan bagaimana orang lain akan membandingkan dirinya dengan segala iri dengki yang beruntung tidak terlalu membuatnya kurang nyaman.
Walau bibi sudah menasehati, tetap saja rasa takut itu membuatnya seakan linglung, tidak tahu mau lakukan apa.
Derrtt… Derrrtt.
Ponsel berdering.
__ADS_1
Kei segera mengangkatnya, "Nyonya Kei, semua sudah menunggu anda dan CEO Jeremy. Cepat, ke lokasi."
Meneguk saliva. Walau merasa berat, terpaksa berkata, "Baiklah. Aku ikut."
***
Seharian dihabiskan berakting. Tibalah sore, semua sudah bubar karena hari ini tidak terlampau banyak pengulangan adegan.
Kei pulang, namun langkahnya dihentikan oleh seseorang yang jujur tidak ia kenal.
"Kamu Keina Natalia, bukan?" tanya wanita berpenampilan sangat glamor dan mewah itu.
Kei mengangguk.
Kei ketakutan, hingga memilih ikut saja. Membawa diri bersama Andre putranya yang kembali tidur di gendongannya.
Wanita itu membawa Kei ke sebuah restoran mewah kelas menengah.
Karena restoran itu adalah restoran terdekat dari posisi mereka saat ini.
"Kamu Keina Natalia kan?" pertanyaan sama.
Kei hanya mampu menangangguk. Wanita itu terlampau menyeramkan dari penampilannya, sebingga Kei terlihat seperti baru dihipnotis saja.
__ADS_1
"Saya Imelda Mikaya. Mamanya Jeremy."
Kei lagi-lagi mengangguk.
"Dan saya di sini ingin tahu apa hubungan kamu dan putra saya."
"T-tidak ada apa-apa nyonya."
"Tidak! Saya tidak percaya!"
"Mengapa… Begitu?"
"Dua putra saya perlahan membangkang kepada saya! Dan saya tidak menyukai hal itu! Apa yang anda gunakan untuk membuat mereka sayang sekali pada mu!"
"T-tidak ada Nyonya. Saya tidak–"
"Hallah! Bohong kamu! Saya yakin kamu buat sesuatu sampai dua-duanya anak saya lebih memihak wanita penggoda seperti kamu daripada saya selaku mama kandung nya!"
Kei semakin tidak mengerti. Apalagi dengan keadaan Andre yang tiba-tiba bangun dan anak berusia lima tahun itu menangis histeris membuat satu restoran menoleh pada mereka semua.
"Apa yang saya lakukan nyonya? Saya tidak melakukan apapun! Dan nyonya salah sangka mengenai saya, saya bukan wanita penggoda seperti yang nyonya tuduhkan pada saya!"
"Lah, terus, kalau bukan seperti itu, apa coba!? Dua-duanya putra saya… Tertarik padamu, padahal kamu hanya seorang perempuan yang hamil di luar nikah. Ayah anak-anakmu saja kamu tidak tahu, malah menarik dua anak saya supaya ada yang bertanggung jawab ngurusi keuangan keluarga harammu itu!"
__ADS_1