Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Meminta Izin Pada Anna dan Alice


__ADS_3

Hari yang baru.


Kei bercermin dengan penampilan biasa


namun terkesan anggun dan mewah.


Kemeja biru tua dan celana jeans yang lebih dominan disukainya untuk berjaga-jaga


siapa tahu ada lelaki kurang hajar yang ingin melakukan suatu


tindak pelecehan padanya.


Ya… Walau celana jeans itu tidak


terlampau berguna untuk itu maka alasan celana dipakai, tetapi baginya ya! Karena celananya berbahan kuat dan Kei merasa nyaman memakainya.


"Kei, kamu sudah berlatih dengan


pikiranmu semalaman! Jangan gagal lagi untuk hari ini, ya Kei?


Konsen. Konsen.


Jauhkan pikiran liar yang ntah mengapa tidak mampu kau lepas dari memorimu itu!


Harap besar, hari ini mampu


menghasilkan satu episode hingga


sutradaramu yang tegas itu kembali


bertepuk tangan untuk hasil kerja keras tim!"


Kei berkata begitu di dalam hatinya.


Setelah merasa puas mensugesti diri, ia berbalik dan melihat putranya–Andre


duduk di atas ranjang kamarnya, tampak kesusahan


mengenakan celana panjang yang disengajanya dipakai sendiri.


Kei tersenyum kecil. Anaknya masih baru dibiarkannya seperti ini berharap anak itu


mandiri. Dan seperti pada umumnya,


percobaan pertama selalu menjadi langkah


paling menantang apalagi


bagi Andre yang masih kecil.


Kei mendekati Andre. Dia teridiam sembari menunggu reaksi Andre yang memungkinkan


akan menyerah dan meminta tolong


padanya.


Tetapi anak itu sama sepertinya, terdiam.


Walau saat Kei melihat raut wajah sang putra,


seperti seorang yang ingin


menangis saja membuatnya kasihan


segera mengulurkan tangan untuk


membantu.


"Tidak perlu bunda. Andre bisa sendiri," tolak Andre.


Membuat Kei tersenyum semakin lebar


pada putranya tersebut. Mengacak rambut Andre


sembari bangkit dari posisi


jongkok yang dilakukannya.


"Baiklah, Andre. Usahakan lah. Nanti kalau sudah berhasil Bunda harap

__ADS_1


kamu datang ke kamarmu ya. Bunda ingin memberitahu kakak-kakakmu


sesuatu."


"Baik bunda."


Lepasnya Kei keluar dari kamar.


Rencana ia akan


menemui sepasang putrinya yang baik,


dan mengatakan sesuatu


pada mereka seperti ucapan Kei pada Andre sebagai modal pamit.


Tok, tok, tok.


Kei mengetuk pintu kamar ketiga anak


kembarnya itu hingga Anna dan Alice menoleh ke


arah pintu.


"Bunda?" Anna dan Alice berhenti dari


kegiatan yang dilakukan mereka untuk


mengatasi kejenuhan.


Kei memasuki kamar tanpa adanya


ucapaan Anna atau Alice yang mengatakan, "Silahkan masuk Bunda." karena Kei tahu


ucapan mereka artinya Kei diperbolehkan


untuk masuk.


Kei duduk di ranjang berluaskan mini


milik salah satu putrinya. Hanya


menempelkan pinggul di sana supaya


"Bunda


minta maaf ya Anna, Alice," ucap Kei


membuat Anna dan Alice saling


memandang satu sama lainnya untuk beberapa detik.


"Kenapa harus minta maaf bunda? Apa salah bunda sampai harus minta maaf pada Anna dan Alice?" seru Anna, gadis kecilnya yang pertama keluar dari rahimnya itu.


Kei tersenyum miris. "Bunda tidak berpamitan dengan kalian semalam bukan? Maka hari


ini bunda kira bunda harus berpamitan pada kalian."


Tidak menunggu bagaimana Anna dan


Alice menanggapinya, Kei berjalan


mendekati Anna yang gemar melukis itu dengan hangat begitu juga pada Alice.


Kei menghela napas dan kembali duduk di tepi ranjang


dimana jika dilihat dari atas, maka


posisi Kei berada di tengah antara Anna dan Alice.


"Bunda harap kalian mendoakan Bunda ya, An. Lice."


"Untuk apa bunda?" kini Alice bertanya.


"Doakan supaya Bunda hari ini berhasil dalam setiap pekerjaan Bunda."


Anna dan Alice langsung


memperlihatkan senyuman. "Bunda sudah

__ADS_1


Anna dan Alice doakan, kok bunda.


Tenang saja." Anna dan


Alice berbicara sedikit berbeda namun


memiliki arti yang sama.


Anna dan Alice seolah memiliki pemikiran


yang sama setelah saling bertatapan untuk sekejap.


Anna dan Alice berpelukan pada bundanya


setelah Kei memeluknya.


Harapan yang Kei ucapkan pada Anna dan


Alice ia kira merupakan sesuatu paling


penting dan mendukungnya.


Mengingat seperti ucapannya, Kei tidak


pamitan dengan kedua putrinya dengan


resmi dan memilih langsung pergi karena


masa itu


Kei dan Andre benar-benar terburu-buru


oleh Sam yang meminta mereka agar


cepat-cepat.


Kei pikir, sebab tidak melakukannya maka


hari semalam Kei benar-benar terganggu


punya pikiran.


Hati salah satu putrinya pasti rapuh


dan mulai memikirkan hal buruk diantara paling buruk jika


bundanya sudah tidak memperhatikan mereka.


Dan tanpa disadari hal itu menyebabkan


hari Kei benar-benar buruk walau alasan


yang lumayan masuk akal dengan trauma


yang bahkan sampai sekarang belum hilang


dari dalam daftar trauma Kei.


Dan kemungkinan hari ini sebagai hari keberuntungan sebab Kei akan lebih produktif


lagi bekerja.


"Bunda Andre sudah berhasil!" ucap Andre


girang sembari mendekat


kepada sang bunda yang juga


kemudian memeluk Kei dengan


mengalungkan


tangannya di leher Kei.


"Wah, bagus! Siapa yang membantu, Nak?"


"Nenek. Heheh."


"Wah, kamu ini Ndre. Minta tolong pada bunda menolak, sedang pada nenek mau saja ya?"

__ADS_1


"Iyalah, bunda. Andre tadi sudah menyerah, kebetulan Nenek datang dan membantu Andre."


Bersambung.…


__ADS_2