
"Pukul 08.30," gumam Jeremy setelah mengangkat tubuh Kei ala bridal style dan membaringkan istrinya yang lemah itu di tengah ranjang sembari menyelimuti tubuh Kei.
Tersisa empat menit lagi keberangkatan, ponsel Jeremy terus berdering, menyebabkan pikurannya semakin kacau di dalam.
Dengan terpaksa, Jeremy mengangkat ponselnya. "Hallo?" tanyanya lembut.
"Bos, empat menit lagi waktu keberangkatan, saya sudah menunggu anda sangat lama. Apa ada yang menghambat anda?"
Jeremy menghela napas. "Istri saya sedang sakit. Dia mual dan muntah, tubuhnya lemah sehingga saya harus merawatnya."
"Ini pertemuan penting, bos. Apa tidak bisa diundur? Waktu keberangkatan empat menit lagi, saya bahkan sedang berjalan menuju pesawat."
"Hubungi wakil direktur saja," Jeremy mengingat perkataan Kei pada masa terus mendesak Jeremy untuk terus berada di rumah seperti tidak ingin Jeremy keluar meski sebentar saja.
"Wakil direktur sudah bersama saya."
Sedikit lega dirasakan Jeremy setelah sekretarisnya berkata begitu. "Nah, kalian berangkat saja. Katakan kalau saya punya urusan lain yang lebih mendesak. Lagi pun ada atau tidak nya saya di sana tiada masalahnya, Sam dan kamh bisa handel rapat itu tanpa saya kan?"
"Iya, bos. Bisa."
Panggilan dimatikan.
__ADS_1
Jeremy menatap wajah pucat Kei yang malang.
"Ayah, bunda kenapa?" tanya Andre prihatin.
Jeremy menggelengkan kepalanya. "Ntah lah nak. Ayah tidak tau."
"Apa darah dari klinik dan lukisan Anna membuat bunda begitu? Bunda keracunan, Yah?" tanya Anna khawatir.
Jeremy menggeleng. "Tidak, tidak mungkin Ann. Bunda tidak seperti asumsimu."
"Lalu?" Anna dan Andre bertanya bersama-sama.
"Kalian, jaga Bunda di sini. Ayah mau hubungi dokter," ucap Jeremy mengalihkan pembicaraan.
***
"Sudah datang?" tanya Jeremy harap emas.
Baru lima belas menit sejak dihubungi, dokter John–sahabat Jeremy itu belum datang jua.
"Tuan, seorang dokter datang kemari. Apa anda yang menghubunginya?" tanya Nin pada Jeremy-tuannya.
__ADS_1
Seketika tampak senyuman lebar dari sudut bibir Jeremy. Ia bangkit dari duduk dan segera berjalan mendekati pintu, dokter John-sahabatnya itu datang.
"Kenapa lama sekali," keluhnya setelah mereka berpelukan ala lelaki.
"Lama?" dokter John mengerutkan kening dan sekilas melihat jam di tangannya. "Baru dua puluh menit. Aku kemari pun udah ngebut, tau!" ungkap kesal John.
"Iya-iya, sorry. Aku khawatir sekali dengan keadaan istriku. Maka datangnya kamu sungguh menjadi hal yang kutunggu."
John tersenyum tipis. "Oke. Dimana tempat kakak ipar kamu buat? Aku cek ya. Jangan cemburu…" John terkekeh.
"Untuk apa aku cemburu? Kamu ada-ada aja."
"Ada-ada? Hm, tampaknya cintamu tak terlalu besar untuk istrimu sendiri. Bahkan pada Na–"
"Sssttt! Bisa tidak jangan sebut-sebut dia di sini!"
"Iya-iya, sorry." seketika pandangan John menatap penuh terpesona akan wajah cantik Kei yang sudah dibersihkan Jeremy dari darah rumah sakit dan semua luka akibat lukisan Anna.
Cantik kata itu muncul dalam benak John membuat lelaki ini mematung untuk beberapa detik lamanya.
"Hey, bisa tidak jangan tatap Kei seperti itu? Dia istriku, jangan coba tertarik padanya." ancam Jeremy. Ada tawa setelah ia mengucapkannya.
__ADS_1
"Aku belum pernah melihatnya. Ternyata kamu pandai pilih istri. Ah, tapi aku udah punya Marrisa. Lagipun, dia tengah hamil. Aku lelaki setia, tidak mungkin mengambil istri sahabatku sendiri," John terkekeh.
"Hm … Tanda-tanda nih."