
Di tempat Kei.
Setelah Celica bertanya seperti itu, Kei menjelaskan.
"My children suddenly had strange dreams like that. So I gave them cold water. To quickly realize."
[Anak-anakku mendadak mimpi aneh sepertinya. Maka aku kasih mereka air dingin. Agar cepat sadar.]
Celica mengangguk, "Indeed, what are they dreaming of?" [Memang, mereka mimpi apa?]
Kei menggeleng. "I haven't asked them yet." [Aku belum tanya pada mereka]
"Oh. Fine… Just ask them, I still have other things to take care of." [Oh. Baik … Tanya saja pada mereka, aku masih punya hal lain yang perlu di urus]
Celica pergi.
Sebab Celica tahu anak-anak Kei ini sering bermimpi setidaknya berkhayal tentang kembalinya mereka ke kota tempat mereka tinggal dahulu.
Namun segalanya melebihi parah sekarang daripada yang kemarin.
Celica sampai terkejut mendengar teriakan mereka itu
__ADS_1
Mungkin, memberi waktu buat Kei mengetahui semuanya sekarang adalah waktu yang tepat.
Celica tidak mau menjadi orang pengganggu dalam pembicaraan Kei dan ketiga anak-anaknya tersebut.
Kei duduk di tepi ranjang setelah tiga pasang lengkap pakaian Anna, Alice dan Andre dipegangnya.
Anak-anaknya itu masih seperti berada di awang-awang, penuh pertanyaan akan mimpi singkat itu.
"Anna, Alice, Andre…" seru Kei pada ketiga anak-anaknya.
"Hiya, bundhaaa," ucap Anna dengan nada suara menggigil, kedinginannya.
"Kalian kenapa, Putri-Putri Bunda?" Kei menyentuh lengan Anna yang terasa begitu dingin tersebut.
"Kamu juga nak," Kei menyentuh kepala Andre. "Mimpi apa kalian, sampai menyebut nama ayah secara bersamaan, hm?"
Anna, Alice, Andre tetap terdiam. Seolah tengah bertanya-tanya dalam pikiran masing-masing.
"Hey! Kalian sadar, bisa tidak!" teriak Kei tidak habis pikir. "Ada apa dengan anak-anakku, ya, Tuhan," Kei mengusap wajahnya perlahan mulai khawatir dengan kediaman berlebihan dari anak-anaknya tersebut.
"Putra, putri-putri Bunda … Kalian, tidak akan Bunda beri pakaian kalau sampai hitungan ketiga tidak menjawab pertanyaan Bunda!" ucap nada tegasnya setelah berpikir cukup panjang.
__ADS_1
Anna, Alice Andre masih terdiam hingga Kei yang sudah pusing, takut ada apa-apa terjadi pada anak-anaknya.
Kei menatap berharap jika anak-anak yang tengah berdiri di hadapannya itu berbicara satu kalimat saja padanya, sudah membuat Kei bahagia.
"Bunda," seru Anna dan Alice secara bersamaan.
Netra Kei tentu saja membulat besar, ia bahagia, akhirnya dua anaknya mau berbicara dengannya. "Apa putri bunda?"
"Kami… Boleh ketemu ayah, bunda?" tanya Anna ragu-ragu, ditatap Alice yang juga sepertinya memendam pertanyaan itu.
"Iya, bunda. Kami mau bertemu ayah," Andre menambahkan.
Kei yang kini terdiam.
"Kami juga akan cerita kok Bund! Kami, kami akan kasih tau bunda tentang mimpi kami," Alice menjawab dengan percaya diri. Saudara-saudaranya yang lain mengangguk setuju.
Kei tetap pada posisi awalnya, membisu.
Ketiga anak-anaknya menatap seolah berbicara satu sama lain, kemudian dengan satu tarikan tangan lembut, Kei kembali sadar.
"Bunda. Ayolah, kenapa bunda menjauhi ayah, padahal ayah sama sekali tidak bersalah?" tanya Anna.
__ADS_1
"Yang salah itu Nenek, Bunda. Bukan ayah. Apa bunda tahu, dalam mimpi, kami sering dijumpai ayah yang terus bertanya tentang Bunda. Bagimana kehidupan kita setelah menjauh darinya, Ayah sering cerita bunda!" tambah Alice.
"Iya bunda! Tahu tidak, ayah kata, ayah akan jaga kita tanpa peduli nenek yang selalu menghalangi."