Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Jeremy


__ADS_3

Di ruang pemulihan, Jeremy terbaring. Bersama infus, juga masker oksigen yang menutup mulut serta hidungnya, lelaki itu tampak masih menutup mata dengan kondisi lemah setelah menjalani proses pengobatan yang cukup panjang semalaman dihabiskan untuk dirinya biar pulih.


Sam baru sampai di rumah sakit.


Pekerjaannya sebagai CEO pengganti sang Kakak ditinggalkannya demi melihat pria itu dengan mata kepalanya sendiri di rumah sakit apakah Jeremy baik-baik saja atau malah sebaliknya.


"Bagaimana dokter, apakah operasinya baik-baik saja?" tanya Sam khawatir.


Dokter di hadapannya menunjukkan ekspresi sedih, "Semua sudah kami lakukan, tuan Sam."


Belum sang dokter menyelesaikan ucapannya, Sam sudah bangkit dari duduk dan memukul meja.


"Jadi maksud dokter kakak saya meninggal, begitu!?"


Dokter sangat terkejut, hingga lupa berucap. Beruntung suster yang baru keluar dari ruangan tempat Jeremy berada langsung memenangkannya.


"Tenang, tuan Sam, tenang. Kakak anda baik-baik saja."

__ADS_1


Gemuruh amarah Sam perlahan mereda. Sam kembali duduk.


"Lalu, mengapa anda berkata semua sudah kami lakukan?"


Dokter yang sudah tidak lagi terkejut itupun menerangkan. "Saya belum menyelesaikan ucapan saya, tuan Sam. Pasien sudah baik-baik saja. Namun Pasien mengalami koma yang tidak bisa saya perkirakan kapan waktunya."


Lepas perbincangan singkat, Sam pergi dengan dibantu Suster yang menunjukkan ruang pemulihan Jeremy.


Sam memasuki ruangan, dia menatap kakaknya dengan begitu sedih rasanya.


Sam tidak tahu mau salahkan siapa dan berpihak pada siapa.


Sedang Kei, Sam sedikit mendukung kepergian wanita beranak tiga itu.


Tapi ia juga menyesal karena tidak menemuinya terlebih dahulu setidaknya bertanya tentang wanita itu, kemana tujuan Kei karena ia mengetahui kepergian wanita itu setelah keinginannya menemui Kei dan berbicara pasal pemecatan Kei oleh keinginan Merly yang tidak bisa dielakkan Sam lagi.


Namun sebelum semua itu terjadi rumah Kei sudah hancur kena amukan orang-orang seperumahan.

__ADS_1


Sam bahkan sempat berpikir jika Kei ikut tewas, namun tampaknya wanita itu sudah pergi mengingat pakaiannya kosong seperti pindah ntah kemana.


"Kakak," lirih Sam sembari menyentuh punggung tangan kakaknya yang ditancapkan infus. Sam meneteskan air mata tidak tahu mau lakukan apa. Semakin lama ia merasa tidak sanggup menatap ketidak berdayaan dirinya saat melihat kakaknya malah seperti ini.


Keadaan Jeremy, sama hal yang terjadi saat dia mengalami gejala orang hamil. Lemah, letih, lungai. Tetapi ini lebih gawat dan Sam tidak percaya hal besar kembali terjadi karena satu wanita, Kei.


"Apa memang kakak dan nyonya Kei ditakdirkan untuk bersatu?" tanya Sam sudah tidak habis pikir.


Sam menghela napasnya. Ia ingin bertanya, tetapi mengingat kakaknya masih koma, Sam lagi lagi tidak bisa melakukan apapun untuk sang kakak.


Sam kemudian mengambil salah satu tangan Jeremy yang kedua-duanya terdapat di atas perutnya.


"Kalau kakak memang ingin memiliki Kei dan ingin bersamanya, maka kak, Sam sarankan supaya kakak bangun sekarang. Sam akan berusaha mencari tahu keberadaan Kei dan anak-anak kakak. Kakak akan berjumpa dengan mereka lagi, langsung saja menikah jangan tunda. Supaya Mama kita, ekhm, Mama juga akan berusaha Sam bujuk supaya Mama mau menerima Kei apa adanya, semangat kak! Jangan mudah menyerah! Dunia itu sempit, sesempit satu ruangan rumah sakit ini! Kita akan tetap bertemu di tempat yang sama setiap waktunya tanpa sadar atau malah sebaliknya, maka dari itu, kakak harus berusaha sembuh total. Supaya waktu nyonya Kei mendatangi kakak, nyonya Kei tidak akan mendapat sedih melainkan kebahagiaan!"


Sam terus menyemangati kakaknya. Tidak tahu, apakah sang kakak masih mendengar atau sebaliknya.


Ia ungkapkan saja apapun yang bisa dia katakan untuk sekarang. Harapan terbesarnya supaya kakaknya segera sembuh, dan kakaknya yang paling ia sangat sayangi itu hidup normal dan tenang seperti sedari dulu.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2