Anak Jenius: My Triplets Smart Kid

Anak Jenius: My Triplets Smart Kid
Pikirkan Itu


__ADS_3

Hari ini, lepas merapikan rumah Celica, Vivi memilih duduk sembari tetap mengawasi ketiga anak-anak yang suka menghabiskan hari-harinya hanya bertiga saja sambil menunggu Jerry, Karla dan Harry, Anak-anak Celica yang sudah rata rata remaja itu pulang dari sekolahnya masing-masing.Karena selain menemani anak-anaknya yang sampai sekarang belum sekolah itu, Vivi sudah tidak memiliki pekerjaan lain yang lebih berguna.Menulis novel yang sudah ditekuninya selama beberapa tahun belakangan ini dihentikannya karena Vivi masih ingin hidup tanpa media sosial yang menjadi awal semua penderitaan entah sudah ke berapa season ini.


Tiba tiba terdengar derap langkah kaki dari arah dapur yang bersebelahan langsung dengan taman mini rumah Celica, pandangan pandangan Vivi sontak teralihkan.


"Cel?"ucap sembari tersenyum Vivi seolah menyambut dengan bahagia kedatangan Vivi yang datang dengan sebuah nampan berisi lima gelas teh dingin di hari yang cukup panas ini.


"Kamu mau?" Celica menawarkan.a


"Tantu saja lah. Terima kasih, ya," Vivi mengambil satu persatu gelas. Kemudian menoleh sembari memberikan satu persatu gelas kepada Anna dan Alice, Andre yang diberi nama baru Nia, Naara, dan Neta itu.


"Is this for us mom?" [Apakah ini untuk kita Bunda?] Nia alias Anna malah bertanya.


Vivi mengangguk sembari tersenyum kecil.


Ketiga anak-anak Vivi meminum minuman dingin itu sebelum Vivi sendiri.


Di saat yang bersamaan Celica malah berkata dengan suara mengalun rendah pada Vivi.


"Kamu, apa tidak kasihan dengan anak-anakmu, Vi?"

__ADS_1


"Kasihan apa? Mereka baik-baik saja."


"Ya, mereka baik-baik saja di luarnya. Tapi mereka sebenarnya tidak bahagia."


"Aku bundanya, aku tau bagaimana mereka. Mereka bahagia bersamaku, Cel!"


"Iya, aku tau mereka bahagia bersamamu. Tapi apa tidak dahulu kamu pikir, mereka tidak merindukan sosok ayah?"


"Aku tidak pernah tau siapa ayahnya mereka. Ta–" Vivi malah teringat satu hal dalam ingatannya.


"Jeremy. Dia ayah anakmu. Bukannya sudah pernah aku katakan, dia pria itu, percaya saja mengapa, Vi?" Celica menyakinkan. Ini sudah ucapan ke sekian kali yang cukup membuat Celica lelah berucap dengan Vivi. Ketidak adanya percayaan dalam diri Vivi, membuat terkadang, Celica harus berusaha lebih keras lagi memberitahu Vivi.


"B-bukan itu yang aku maksudkan," Celica memberitahu.


"Lah, terus?"


"Selain Jeremy, kamu bisa berteman dengan pria yang masih single."


"Tian pria yang kamu katakan itu? Bukankah dia sudah menjadi seorang duda? Aku memang wanita yang memiliki anak. Tapi aku sama sekali belum pernah sekalipun menjalani pernikahan."

__ADS_1


"Iya, aku tau. Setidaknya anak-anakmu memiliki figur seorang ayah.. Kasihan loh mereka. Sekolah tak bisa, karena tidak mungkin aku memberikan nama suamiku menjadi ayah dari mereka. Kalian harus menikah dahulu. Tapi masa kamu harus menjadi maduku karena harus menjadikan anak-anakmu sekolah? Padahal anak-anakmu jelas bisa dijadikan sesuatu. Mereka cerdas dan bisa diandalkan. Tolong, Vi. Pikirkan itu."


***


Di sisi lain.


Sam.


"Dimana kamu, Kei. Sudah gawat di sini. Mengapa kamu bisa menghilang, lenyap seolah tidak ada tanda-tanda keberadaanmu," Sam bergumam. Ia berucap lirih.


Telapak tangan Sam menempel pada kaca pembatas antara ruang operasi tempat Jeremy ditangani.


Jeremy, beberapa waktu lalu memakan racun tikus sebanyak tiga bungkus seolah benda itu adalah makanan layak gigit.


Semua dilakukan Jeremy karena depresi, keinginannnya untuk mengakhiri hidup setelah mendengar Merly berbicara di luar kamar dengan suara isak tangisnya bahwa ia geram pada Kei dan mengatakan kalau Merly-lah dalang yang menyebabkan Jeremy dan Kei berpisah. Padahal belum jadi apa-apa, sama sekali!


Beruntung Sam segera membawanya ke rumah sakit setelah melihat keadaan Jeremy yang begitu miris dan semenderita itu.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2