
"Gimana?" tanya Jeremy harap cemas.
"Wih tokcer juga kau ya," John malah tertawa renyah setelah mengecek seluruh keadaan Kei dengan alat seadanya yang dibawa.
Kening Jeremy mengerut. "Memangnya kenapa sih?"
John mendekat dan berbisik. "Istrimu hamil," ucapnya sedikit meninggi di akhir kata.
Jeremy membulatkan mata. Ia menatap Kei tak percaya. Dari wajah turun ke perut. "Beneran nih?" tanya pria itu.
"Hm, masih ragu sih. Cuma dari tekanan darah dan kondisi badannya aku pastiin! Kalau kakak ipar lagi mengandung. Aku bukan dokter kandungan. Cuma dokter umum yang kamu paksa datang kemari."
Setelah berbincang cukup singkat, John pergi. Jeremy kembali ke kamar, dan melihat Kei bersama Anna dan Andre yang sangat khawatir akan Bunda mereka.
"Ayah!" Andre menghampiri Jeremy dan memegang tangannya.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Bunda… Hamil, ya, Ayah?" tanyanya.
Jeremy tersenyum tipis. "Iya. Kamu akan punya adek."
"Adek?" ucap Anna dan Andre secara bersama sembari mengerutkan kening.
"Iya, adek," jawab Jeremy.
"Adek dalam perut Bunda?" Anna menyakinkan.
"Kenapa ayah tidak disini? Anna pernah liat di internet, peran Ayah harus ada waktu Bunda tengah hamil," peringat Anna yang sebenarnya tidak ingin Ayahnya itu pergi.
"Untuk sementara waktu saja. Setelahnya ayah akan kembali."
__ADS_1
Andre menggenggam tangan Ayahnya. Seketika pandangan Jeremy menatap tubuh Andre dan wajahnya yang memelas tidak ingin Ayahnya pergi.
"Ayah… Ayah harus jaga bunda. Bukannya tadi udah ayah katakan pada sekertaris ayah itu kalau Bunda lagi sakit? Ayah harus menjaganya. Kata Nenek, uang bisa dicari, tapi nyawa dan kepercayaan tidak."
"Iya ayah. Ayah harus ikut kata dik Andre. Anna mau tau aja, Ayah ini kenapa sih? Aneh.. Padahal dulu berusaha semaksimal mungkin sampai bawa nama kami supaya dapat hati Bunda. Setelah Bunda balikan sama ayah, ayah justru mau jauh dari Bunda. Ayah tau tidak, kalau Ayah berhasil sakitin bunda sampai sedih dan tidak turut seperti janji pernikahan masa itu, Anna dan dua adik Anna beserta adik dalam kandungan bunda juga akan jauh dari Ayah. Biarin Kami sendiri kayak dulu. Tidak kalah berbedanya pun. Bunda bisa besarin kami bahkan ketika ayah tidak ada. Bunda bisa kasih kami makan dan hidup nyaman meski terkadang kekurangan. Kalau ayah memang benar ada tanggung jawab kayak yang ayah janjikan pada bunda sebelum pernikahan, jaga bunda sekarang sebelum terlambat! Ayah mau dapati hati Bunda lebih dalam lagi 'kan? Maka tetap di sini dan jaga bunda!"
Ucap tegas Anna sembari menggapai tangan Andre dan membawanya mendekat kepada Kei. Jeremy merasa bersalah. Benar juga apa yang dikatakan Anna. Jeremy mendekat, namun segera terhenti.
"Ayah mau apa!?"
"Mau … Ikut permintaan kamu."
"Lima menit lagi! Anna ingin berbicara dengan bunda! Ayah keluar dulu. Awas saja ya, kalau Ayah tidak datang setelah Anna memanggil, Ayah bukan ayah Anna lagi!"
Dengan berat hati Jeremy keluar. Perkataan Anna begitu tajam menusuk hatinya, dan itu cukup membuat lelaki dewasa ini insecure. Bukan karena tidak mampu melawan, tapi dari perkataan Anna yang tampaknya sudah muak dengan semua hal yang terjadi selama ini, berniat ingin pergi saja jika merasa tak aman meski pada Jeremy–Ayahnya, pria yang telah membuatnya berada di dunia ini meski dengan cara yang cukup ekstrim.
__ADS_1
***
Like, vote dan komentar ya kakak-kakak semua…!